Menunda

Doni sedang kewalahan. Laporan penjualan mingguan harus selesai siang ini, padahal laporan mengenai pameran yang baru saja diadakan hari Sabtu dan Minggu juga harus segera diserahkan karena siang ini ada rapat bulanan dengan pimpinan perusahaan. Belum lagi rencana pertemuan dengan biro iklan.

Ia masih harus mengadakan pertemuan pagi di awal minggu dengan seluruh tim penjualan. Rasanya otaknya tidak sanggup mengatur apa yang harus dilakukan terlebih dahulu. Doni sadar ia sudah seringkali kewalahan seperti ini. Berbagai pekerjaan harus selesai dalam waktu singkat sedangkan ia merasa tidak punya waktu lagi untuk berpikir.

Belum lagi stres yang dialami karena khawatir tidak selesai dan harus bekerja dengan terburu-buru. Karena itu Doni heran melihat Prapto yang meskipun cukup sibuk, tapi tidak kalang kabut seperti dirinya.

Seperti Doni, Prapto juga harus membuat laporan penjualan mingguan yang dicapai timnya. Ia juga baru selesai mengadakan pameran di tempat lain pada Sabtu dan Minggu. Ia pun harus mengadakan pertemuan pagi di awal minggu. Selain itu Prapto juga harus bertemu dengan beberapa orang dari radio dan hotel untuk rencana pameran bulan depan. Tapi Prapto tetap tenang.

Ia sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Laporan mingguannya sudah selesai ketika Doni sedang mencocokkan data penjualan setiap anggota timnya dan baru akan mulai menyusun laporan.

Pagi ini Doni mendadak sadar bahwa hal seperti ini selalu terjadi setiap awal minggu, bahkan hampir setiap hari. Doni selalu merasa kekurangan waktu dan kalang kabut menyelesaikan pekerjaannya, sedangkan Prapto selalu bisa selesai lebih cepat tanpa stres berlebihan.

Sebelum mulai kerja tadi pagi Doni memang sempat bertanya apakah Prapto sudah menyelesaikan laporan mingguan, Prapto menjawab belum selesai. Doni mengira Prapto belum mulai membuat laporan sama seperti dirinya. Ia tidak tahu bahwa Prapto selalu mengumpulkan data penjualan dari timnya setiap hari, sehingga ketika akhir minggu tiba ia hanya perlu memasukkan data penjualan hari terakhir saja. Sedangkan Doni harus melakukan pendataan seminggu sekaligus karena ia memang belum menyiapkan apapun.

Selain selalu melakukan pendataan setiap hari, Prapto juga membuat format khusus untuk pendataan penjualan di pameran, sehingga selesai pameran data penjualan tidak berantakan, tapi rapi tercatat di buku catatan pameran. Hal ini mempermudah Prapto ketika membuat laporan pameran, karena ia tidak perlu lagi kelabakan mencari bon-bon penjualan yang terselip seperti yang biasa dilakukan Doni.

Hampir setiap hari, Vivi selalu kehilangan dokumen. Setiap kali atasannya menanyakan suatu dokumen penawaran harga atau proposal, selalu ia mengalami kesulitan. Memang meja kerjanya kelihatan rapi, tapi sebenarnya laci meja dan isi lemarinya berantakan luar biasa. Ia harus mengeluarkan setumpuk kertas untuk mencari sebuah surat penawaran yang diterimanya minggu lalu. Kadang-kadang ia harus membongkar isi dari tiga lemarinya dan menghabiskan waktu empat puluh lima menit untuk mencari sebuah proposal.

Lama kelamaan Vivi merasa tidak nyaman. Ia segera minta beberapa map untuk menyimpan surat-surat penting yang dipilahnya sesuai jenis surat. Hari itu ia langsung bisa cepat mencari data yang dibutuhkan. Semua orang heran melihatnya.Tapi kira-kira empat hari kemudian ia mulai kesulitan mencari dokumen lagi. Seminggu kemudian ia kembali pada kebiasaan lamanya.

Vivi heran, padahal pada waktu ia membongkar dan merapikan almari dan laci mejanya, ia sudah membuang kertas-kertas yang tidak terpakai lagi seperti draft laporan, proposal yang sudah kadaluwarsa, dan lainnya. Ia pun kembali merapikan dokumennya lagi. Tapi sekitar 10 hari kemudian ia mengalami kesulitan lagi. Ia pun merapikannya lagi.

Suatu hari ia baru sadar bahwa dokumennya berantakan karena ia tidak mau langsung menyimpan dokumen masuk. Ia seringkali menundanya dan meletakkannya begitu saja di meja karena terburu-buru dan berpikir bahwa ia akan menyimpannya di dalam map yang sesuai nanti kalau sempat.

Tapi kesibukan kerjanya membuat beberapa dokumen menumpuk dan belum sempat disimpan. Pada akhir hari kerja ia langsung meraup semua dokumen di meja dan memasukkan kedalam laci mejanya.

Keesokan harinya ia kembali sibuk dan dokumen yang belum sempat disimpan bertambah lagi, demikian seterusnya. Ketika ia menyadari kebiasaannya, Vivi mulai mencoba mendisiplinkan dirinya sendiri. Setiap dokumen baru langsung disimpannya, dan tidak lagi ditumpuk di meja.

Rupanya cara baru ini bermanfaat. Laci mejanya tidak lagi dipenuhi tumpukan berbagai macam kertas. Meskipun ia merasakan manfaat atas kerapihannya, tapi Vivi juga merasakan tantangan berat untuk membiasakan diri disiplin. Seringkali ia tergoda untuk mengulang kebiasaan lamanya, apalagi kalau ia sedang sibuk dan buru-buru. Tapi untunglah, ia tetap mencoba membiasakan dirinya dengan disiplin barunya.

Prapto dan Vivi berhasil meringankan beban kerja mereka dengan melakukan hal-hal kecil secara rutin setiap hari. Mereka tahu bahwa pekerjaan kecil yang ditunda akan membuatnya menjadi lebih berat. Penundaan hal kecil hanya mengakibatkan meningkatnya beban kerja, seperti yang dialami Doni. Do not delay until tomorrow what you can do today!

Sumber: Potensi Diri – Menunda oleh Lisa Nuryanti, Motivator dan pemerhati Kepribadian

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: