Ketika Saya Belajar dari Ambika Shangmu

“Dewi, tolong tandatangani daftar hadir ini ya. Jangan lupa. Saya harus memberikannya kepada Bibi (supervisor kami). Semua daftar harus masuk hari ini”, katanya sambil tersenyum dan menyodorkan buku absensi guru.

“Dewi, kapan kamu membutuhkan fotocopi-an ini ?. Kalau memang kamu membutuhkan cepat-cepat, akan saya kerjakan sekarang juga “, sambil menunjukkan sebuah buku “Percakapan dalam Bahasa Indonesia” yang cukup tebal, hampir 175 halaman lebih.

“Ah, Dewi, kamu lupa lagi mengembalikan laptop computer itu ya . Lain kali jangan lagi ya, karena ada guru-guru lainnya yang akan membutuhkan”, sapanya lembut, saat saya lagi-lagi terlupa mengembalikan laptop secepatnya, karena di lantai saya mengajar belum ada sambungan internet.

Itulah Ambika, perempuan berasal dari Tibet yang lemah lembut dan penyabar.
Dia adalah satu-satunya perempuan Tibet yang saya kenal, sampai sekarang. Rasanya, biarpun saya sudah lama tinggal di Washington DC area selama hampir 8 tahun lebih, dan sudah berbagai bangsa saya temui, hanya Ambika, satu-satunya perempuan Tibet yang saya kenal dekat.

Dia bekerja sebagai salah satu sekretaris di Sekolah Bahasa , tempat saya mengajar. Tugasnya membantu semua guru-guru yang ada, dalam hal-hal yang berkaitan dengan administrasi , dan kelancaran proses belajar mengajar. Itu tugas resminya.
Tugas tidak resminya banyak, malahan lebih banyak daripada tugas resminya.

Dari melayani dengan sabar para guru yang mengeluh tentang daftar kelas yang berpindah, membuat daftar baru dari murid-murid yang berhalangan hadir, mengisi tempat kopi bila tukang mesin kopi kami terlambat datang, sampai membuatkan fotocopi-an buku-buku tebal yang dibutuhkan dalam waktu cepat.

Dia juga sering menjadi malaikat penolong saya. Saya sering merepotinya dengan memintanya membuatkan kopi dari CD-CD yang hilang entah selalu kemana bila dibutuhkan, atau membuatnya harus mendatangi kelas saya di lantai kedua hanya karena saya lupa menandatangani daftar absen. Malah seperti percakapan di atas, dia sering harus datang mengambil laptop yang lagi-lagi saya pinjam terlalu lama, dan lupa saya kembalikan.

Ambika, atau yang nama panjangnya adalah Ambika Shangmu, artinya dalam bahasa Tibet adalah ” the kind-heart one”, atau perempuan yang paling baik.

Suatu nama yang betul-betul mencerminkan sifat-sifatnya. Perempuan ini betul-betul lembut, baik, ramah. Tidak pernah marah, selalu siap membantu orang-orang di sekitarnya. Bahkan saat dikejar-kejar banyak tugas, dia selalu dengan santai menyelesaikan semuanya dengan baik.

Perawakannya tidak terlalu tinggi , agak gemuk sedikit , dengan kulit kemerahan cirri khas kulit penduduk pegunungan Tibet. Wajahnya tirus, dengan bibir yang agak lebar, dan hidung yang bertulang tinggi dan agak besar. Menurut saya, ukuran hidungnya agak terlalu besar untuk struktur wajahnya yang tirus. Tapi mungkin memang begitu struktur wajah orang-orang Tibet, yang merupakan perpaduan wajah-wajah Cina Pedalaman dan orang-orang Turki. Keseluruhannya menghasilkan wajah yang tidak terlalu istimewa ,tidak begitu cantik ,tapi cukup manis dipandang.

Tapi yang mengagumkan saya, adalah rambutnya. Saya sudah terpesona dengan rambutnya ,ketika pertamakali saya berkenalan dengannya beberapa tahun lalu.

Bayangkan, berapa banyak perempuan di jaman ini yang punya rambut panjang hitam berkilau , sepanjang lutut. Betul-betul sepanjang lutut !!.

Rambutnya begitu panjang, hitam ,tebal dan mengkilat. Helai-helainya begitu padat, begitu kuat, tapi juga sangat halus. Jari-jari kita bisa tergelincir bila membelainya.

Ketebalannya membuat banyak perempuan iri. Butuh lebih dari 2 telapak tangan untuk bisa mengenggam keseluruhan rambutnya, saking tebalnya.

Warnanya hitam berkilat, kadang sepertinya malah agak kebiruan yang gelap pekat. Kadang-kadang pikiran jahil saya sering menyelinap tanpa permisi, jangan-jangan Ambika mewarnai rambutnya , karena begitu hitamnya. Tapi kalau iya, hmm.berapa botol dihabiskannya. Dan butuh berapa lama mengerjakannya.

Jadi memang rasanya tidak mungkin kalau itu hasil dari cat warna rambut. Butuh waktu cukup lama bagi saya, untuk meyakini bahwa itu warna hitam kelam itu memang warna asli rambutnya. Ah, mungkin karena hanya perasaan iri sebagai sesama perempuan saja.

Rambut itu kadang diurainya begitu saja, hanya diikat sedikit di bawah leher dengan pita kecil yang cantik. Karenanya siapa saja yang ada di dekatnya, bisa melihat rambut hitam lebat yang terjurai itu. Mungkin seperti pepatah jaman dulu ” bagai mayang terurai “.

Kadang rambut tersebut dijalinnya rapat-rapat. Membentuk 2 helai jalinan panjang di kiri kanan kepalanya, menjulur panjang hingga ke bawah pinggang.

Kadang rambut itu disanggulnya tinggi di atas kepalanya, dan dihiasi semacam penghias rambut yang penuh dengan batu-batuan alam warna-warni, asli dari Tibet. Tapi karena rambutnya memang panjang sekali, jadi biasanya tidak semua disanggul habis. Tapi disisakan sebagian , berayun-ayun bebas di belakang punggungnya.

Ambika sangat memperhatikan perawatan rambutnya. Saya sering memergoki dirinya di kamar mandi wanita, sedang menyisiri rambut panjangnya. Juga kadang dia membubuhkan sesuatu, semacam cairan putih keruh di puncak kepalanya, lalu menyisirinya perlahan, meratakannya ke seluruh ujung-ujung rambutnya.

Dan itu dilakukannya terutama saat-saat istirahat jam makan siang.

Saya pernah iseng-iseng bertanya kepadanya, berapa lama dia sudah memanjangkan rambutnya.

Dia bilang sudah sejak menjelang remaja, artinya mungkin sekitar 15 tahun lebih. Dan dia juga bilang, bahwa rambut panjangnya itu menjadi kebanggaan keluarganya dan orang-orang di kampungnya. Karena rupanya di daerah asalnya di Tibet, perempuan memang dianjurkan berambut panjang. Makin panjang rambut si perempuan, makin tinggi kebanggaan keluarganya pada si perempuan itu.

Rambut panjang, katanya lagi, adalah lambang kecantikan dan kelembutan seorang perempuan di daerah Tibet. Apalagi , katanya, suaminya juga sangat menyenangi rambut panjangnya. Malah , itu hal pertama yang membuat sang suami melamarnya saat mereka bertemu belasan tahun lalu. Tidak heran Ambika sangat menyayangi dan merawat rambut panjangnya dengan sangat hati-hati dan teratur sekali

Karena saya sering bertanya-tanya tentang perawatan rambut itulah, akhirnya lama-kelamaan kami menjadi dekat. Walau memang saat-saat pertama kali bertemu dia agak bingung juga, melihat saya berjilbab. Tapi saya sering merepotinya dengan segala macam pertanyaan tentang perawatan rambut. Tapi lama kelamaan dia mengerti, waktu saya bilang padanya bahwa rambut saya juga panjang, walau memang tidak sepanjang rambutnya.

–++–

Saya senang sekali memandangi rambutnya dari belakang, saat dia berjalan, dan kebetulan rambutnya diurai begitu saja. Terayun ke kanan dan kiri, saya membayangkan bagai ombak samudera dalam yang begitu pekat dingin menggelap. Lalu sekali-sekali, pendar cahaya matahari terpantul dari kegelapannya , menciptakan larik-larik sinar keemasan yang berjuluran di helai rambut nan hitam itu.

Kadang saya ingin juga mempunyai rambut sepanjang, sehitam dan seindah rambut Ambika. Tapi membayangkan lelahnya mengurusi, belum lagi lamanya waktu memanjangkannya, membuat saya mengurungkan niat saya. Biarpun tidak sepanjang rambut Ambika, tapi paling tidak rambut saya termasuk lumayan. Lagipula, toh selalu tersimpan di dalam jilbab, jadi apa gunanya punya rambut sepanjang rambut Ambika.

Sampai suatu hari…

–++–

Angin November yang mulai dingin merayapi jalanan yang masih berkabut. Walau sudah tak bisa dikatakan pagi lagi, karena jam sudah menunjukkan hampir pukul 10, tapi toh kabut menjelang musim dingin masih menguasai hari.

Sinar matahari masih malu-malu menampakkan diri, walau ujung-ujungnya sudah perlahan menyentuh permukaan bumi. Langit agak gelap, awan-awan putih menghilang bersembunyi entah kemana.

Suasana hari yang muram membuat saya melangkah makin tergesa-gesa .
Seharusnya saya mengajar jam 9 lewat 30 menit, tapi kemacetan lalu lintas membuat saya terlambat datang mengajar. Setelah berebutan dengan orang lain, mencari tempat parkir didaerah Rossyln yang padat dengan gedung-gedung perkantoran, menjelang jam 10 saya baru bisa sampai di depan kantor Sekolah Bahasa itu.

Dengan tergesa-gesa, saya segera mengisi daftar absensi, lalu pergi ke white board melihat jadwal kelas saya hari itu. Saat-saat menjelang musim dingin ini, memang banyak sekali kelas-kelas baru. Dan kadang kelasnya berubah-ubah , hingga sebelum betul-betul masuk kelas Advanced , biasanya tempatnya masih berpindah-pindah.

Setelah itu saya segera mencari Ambika, untuk menagih fotocopi-an buku yang sudah dikerjakannya sejak 2 hari lalu. Saya membutuhkannya sesegera mungkin, karena itu bahan untuk ujian kelas lama. Waktu saya minta bantuan Ambika 2 hari lalu, dia mengiyakannya. Walau agak ragu-ragu juga sih,karena bukunya agak tebal dan setahu saya Ambika banyak sekali pekerjaan lainnya. Tapi seperti biasa, dia hanya mengannguk dan tersenyum kecil saat saya minta bantuannya.

Jadi sekarang sebelum mulai masuk kelas, saya sibuk mencari-cari dia.

Tiba-tiba dia muncul dari belakang, lalu berkata bahwa buku itu belum selesai, sedikit lagi. Dia sedang menyelesaikannya. Nanti katanya kalau sudah selesai, akan dibawakannya ke kelas saya.

Karena terburu-buru , saya hanya mengiyakan dan saya berkata padanya akan mengajar di tingkat 2 kalau dia bisa mengantarkannya kesana. Lalu saya pergi tergesa-gesa. Sebelum saya pergi saya sempat melirik pada Ambika, rasanya ada sesuatu yang aneh, berbeda dari biasanya tapi saya belum tahu apa itu. Tapi karena saya dikejar-kejar waktu, saya tidak sempat lagi memperhatikannya lebih lanjut.

Pagi itu saya mengajar kelas baru sampai kira-kira jam 1 siang. Setelah itu , kami semua beristirahat untuk makan siang . Lalu kemudian saya mengajar lagi ,kelas “Advanced” yang baru dimulai sekitar jam 2 siang hingga sore hari.

Karena betul-betul membutuhkan fotokopian buku tersebut, sambil mengajar kelas siang , saya sebentar-sebentar menengok ke luar kelas, menunggui Ambika membawakan buku tersebut. Tapi sampai jam 3 siang, dia belum muncul juga. Saya sudah sempat agak kesal, dan saya sudah memutuskan untuk menyusul dia ke lantai pertama.

Baru saja saya mau melangkahkan kaki keluar kelas, tiba-tiba saya melihat Ambika mendatangi saya dari jauh. Puncak sanggul hitamnya tampak membukit di atas kepalanya.

Setelah dekat, dia berkata ,”Maaf, Dewi, saya baru menyelesaikanya. Bibi minta saya membuatkan beberapa fotokopian daftar-daftar lainnya, jadi buku kamu tertunda dulu . Tapi sekarang sudah selesai, dan ini bukunya “, katanya lagi sambil menyodorkan buku tersebut, sambil tersenyum manis.

Tentu saja saya tidak bisa marah padanya, apalagi dia sudah meminta maaf dan lagi-lagi sambil tersenyum manis. Saya hanya mengiyakan saja, sambil mengucapkan terimakasih padanya.

Lalu Ambika berbalik, memunggungi saya dan berjalan menjauh. Baru saat itu saya sadar, hal yang saya rasakan aneh tapi saya tidak tahu apa.

Rambut itu, rambut panjang itu…TIDAK ADA LAGI !!.
Tidak ada lagi rambut yang menjurai hitam legam mengkilap , bergoyang di belakang punggungnya. Tidak ada lagi, larik-larik sinar biru gelap keemasan memantul dari ujung-ujung rambut itu saat tertimpa sinar matahari, dari sela-sela jendela.

Rambut itu, hanya tertinggal seperempatnya, hanya kira-kira sedikit di bawah pundak. Masih bergoyang-goyang, tapi yang ada goyangan-goyangan pendek saja, tidak lagi seperti ayunan ombak lautan kelam.

Dengan kaget bercampur cemas, tanpa sadar saya berteriak ,” Ambika, apa yang terjadi ??. Kenapa rambut kamu??. Ada apa ??. Kenapa sekarang tinggal sebahu ??”., saya memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan begitu beruntun.

Ambika kaget mendengar teriakan saya, dan dia lalu menoleh tiba-tiba.
Melihat beberapa murid saya yang sedang di dalam kelas sudah mulai ikut-ikutan bergerak kearah pintu, Ambika segera menarik saya kearah dinding .

Lalu pelan-pelan sambil berbisik dia berkata ,” Saya sudah mendonasikannya kepada Yayasan anak-anak perempuan yang terkena kanker dari negara saya. Mereka butuh banyak rambut asli, yang akan dirubah menjadi wig-wig kecil untuk menutupi kepala mereka yang botak, karena pengobatan kimia. Hi.hi..pasti lucu ya, rambut saya jadi wig-wig di kepala anak-anak mungil itu”, katanya lagi sambil terkikik-kikik geli.

Lanjutnya lagi,” Nanti kalau wig-wig itu sudah jadi, mereka akan mengirimkan fotonya kepada saya waktu sudah dipakai anak-anak itu. Nanti akan saya tunjukkan kepada kamu juga ya, kalau foto itu sudah ada. “.

Saya kaget dan hampir tersedak karena terharu, lalu dengan terbata-bata saya bertanya lagi ‘” Tapi kenapa rambut kamu ?. Kenapa tidak menyumbang uang saja ?”.

Ambika menjawab,” Mengumpulkan uang lebih mudah, tapi kata pengurus Yayasan tersebut mencari rambut bagus yang bisa dipakai anak-anak itu lebih sulit.Dan anak-anak itu akan sangat tertekan batinnya, kalau mereka bertemu banyak orang dengan kepala gundul . Jadi ya saya sumbangkan saja rambut saya itu. Toh, hanya rambut. Nanti juga tumbuh lagi. 15 tahun lagi juga, rambut saya akan kembali sepanjang itu “‘ katanya ringan saja, dan sambil tersenyum manis.

Katanya lagi,” Sudah ya, saya harus turun lagi. Saya ditunggu Bibi. Jangan sedih ya, ini hanya rambut kok. Dewa saya akan memberikan hadiah lainnya sebagai pengganti. Hanya tunggu waktu yang tepat saja “.

Ambika Shangmu, perempuan yang pernah berambut panjang itu, yang kehitamannya dan keindahannya pernah saya kagumi, berjalan meninggalkan saya.

Di belakangnya , rambut hitam sebahunya masih bergoyang perlahan, walau yang tersisa hanya goyangan yang pendek-pendek.

Di belakangnya, juga tersisa sebuah jalan panjang penuh matahari yang bersinar cerah, dari sekumpulan gadis kecil, yang akan sangat berbahagia dengan rambut-rambut baru mereka yang hitam gemerlapan. Dan kalau suatu saat mereka berkesempatan mengenal Ambika, pasti mata-mata mereka akan bersinar selembut mata hitam Ambika. Yang penuh cinta, yang penuh kasih, yang penuh kesadaran akan arti sebuah pengorbanan.

Di belakangnya juga ada saya, yang menunduk perlahan, dan perlahan tetesan air mata jatuh satu persatu membasahi pipi. Ada pelajaran yang sangat berharga , yang kedalamannya begitu menusuk jantung. Pedih, perih, terharu , tapi juga bangga karena saya bisa berkesempatan berkenalan dengan perempuan sederhana berhati malaikat, Ambika Shangmu.

Sumber: Ketika Saya Belajar dari Ambika Shangmu oleh Dwitra Silvana Zaky, awal April 2006.
Reston, Virginia.

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: