When You Believe

Cerita ini mungkin sudah pernah merebak di masyarakat sebelumnya. Cerita ini hanyalah versi ke-sekian dari saya. Tergelitik untuk menceritakannya kembali dengan bahasa saya.

Ameng adalah pemuda kampung yang miskin dan agak terbelakang. Karena idiot yang diidapnya, Ameng disingkirkan oleh keluarganya dan tinggal bersama nenek Ijah yang hidupnya amat sederhana. Pekerjaan Ameng sehari-hari hanyalah membantu para petani di kampung tersebut. Menggembur tanah, mencari kayu atau memangkas ilalang di kebun-kebun adalah pekerjaan yang sekiranya pantas untuknya. Suka bermain bersama anak kecil dan suka menangis tersedu-sedu bila dikerjain. Karena ke-idiot-annya itu lah, Ameng pun tidak mengenal kata ‘agama’ … Kasihan yah?

Suatu waktu, datanglah rombongan ‘orang pesantren’ ke kampung tersebut dan si ketua berniat mendirikan cabang pesantren disitu. Singkat cerita, pesantren baru-pun didirikan dan menyedot begitu banyak murid yang mayoritas para pria. Ketua pesantren bernama Haji Mahmud itu sering bepergian ke kota, tepatnya ke pesantren induk mereka. Dari situ lah Haji Mahmud mengenal Ameng. Hatinya trenyuh melihat pria muda itu duduk mengaso sambil tertawa sendiri di bawah pohon beringin di pintu kampung/desa. Pada hari Haji Mahmud akan kembali (untuk ke sekian kalinya) ke kota, kembali dilihatnya Ameng duduk menangis dibawah pohon beringin di pintu desa. Didekatinya pria idiot itu dan bertanya,..

“Ameng, mengapa hari ini kamu menangis? Biasanya saya melihat kamu tertawa?” tanya Haji Mahmud. “Ameng dikata-katain gila sama orang-orang bersorban!! Huuhuhu!! Ameng tidak gila!! Mereka yang gila!!” bentak Ameng dan terus menangis. Mendengar ‘orang-orang bersorban’ .. Haji Mahmud langsung teringat pada para muridnya di pesantren. Masya Allah,.. mereka mengatai-ngatai orang lain gila. Padahal saling menghujat itu dilarang agama .. yang jelas-jelas diajarkan juga di pesantren miliknya.

Maka, dengan sabar Haji Mahmud pun berkata,.. “Kamu mau agar tidak dikatakan gila lagi sama mereka?” tanya Haji Mahmud. “Ya Ameng mau …” jawab Ameng .. pandangan matanya berseri kembali. “Ikutlah dengan saya. Percaya pada Islam. Jadilah muslim dan dapatkanlah pencerahan di jiwamu.” hanya itu yang diucapkan Haji Mahmud .. dan Ameng pun setuju. Hari itu Haji Mahmud tak jadi kembali ke kota. Dibawanya Ameng ke pesantren dan mengajarkan Ameng Dua Kalimat Sahadat .. Ameng pun memeluk Islam. Haji Mahmud tak menghiraukan protes yang diajukan wakilnya yang bernama Jaenudin. Yang penting baginya adalah mengajarkan Ameng tentang ‘Islam’ dan menjadikannya sedikit lebih baik dari keadaannya sekarang.

Singkat cerita, Ameng memang menjadi lebih baik. Mengenal mandi pagi sebelum sholat Subuh, mengenal pakaian bersih yang diberikan Haji Mahmud padanya, mengenal tata krama yang diajarkan Islam, mengenal suara merdu dari pengajian dan mengenal Rukun Islam dan Rukun Iman. Subhanallah!!! Ameng ternyata cerdas!! Dengan cepat dia dapat mengaji dan mengerti serta mengamalkan semua yang diajarkan di pesantren tersebut. Hanya satu yang dipercayainya .. mengenal Islam menjadikannya tidak dikatakan ‘gila’ oleh orang lain lagi. Kegesitannya menangani kebun pesantren pun tak usah diragukan lagi. Melihat itu, nenek Ijah hanya bisa menangis bahagia dan berucap “Alhamdulilah.”

Suatu hari Haji Mahmud berniat menjalankan Ibadah Haji (kembali) ke tanah suci. Pada masa itu, transportasi yang bisa digunakan hanyalah kapal kayu yang tak begitu besar ukurannya. Ameng sedih begitu tau dirinya akan ditinggalkan oleh Haji Mahmud untuk waktu yang cukup lama. “Ameng, jangan bersedih .. ingat apa yang saya katakan?”
“Ingat, setiap umat muslim itu bersaudara .. bila pak Haji tak ada, Ameng dapat mengandalkan bang Jaenudin dan teman-teman yang lain .. hati-hati pak haji, semoga semuanya lancar-lancar saja.” ucap Ameng. Berangkatlah Haji Mahmud ke tanah suci bersama beberapa orang pesantren dari kota (pesantren induk). Dua bulan ditinggalkan Haji Mahmud, Ameng terus merenung .. memikirkan tentang tanah suci .. tentang Ka’bah .. tentang kehidupan kota yang menjadi pusat Islam.. Islam yang telah DIPERCAYAI-nya. Siang hari saat dia sedang istirahat setelah berkebun, datang lah Jaenudin menemuinya.

“Hei Ameng, sudah selesai kerjanya?” Ameng sebetulnya sedikit takut terhadap Jaenudin .. sikapnya tak seramah Haji Mahmud .. bahkan Jaenudin sering melecehkannya. “Sudah bang ..” jawab Ameng pelan. “Mengapa ngelamun? Sholat lah sana dari pada ngelamun.” ujar Jaenudin. “Ameng lagi memikirkan pak Haji .. pasti sekarang lagi di kapal ya? Susahnya ke tanah suci .. ck ck ck …” begitulah yang diucapkan Ameng.

Mendengar itu, terbersit niat iseng pada Jaenudin. “Ah siapa bilang!! Sebetulnya gampang kok ke tanah suci!!” mendengar itu, Ameng menjadi bertanya-tanya .. penasaran sekali dia.
“Bagaimana caranya??” tanya Ameng antusias.
“Petiklah dua helai daun mangga,.. letakkan diatas air laut dan ucapkan ‘Bismillah’ .. heheheh .. itu saja Meng .. pijakan dua kakimu diatas daun itu ..
hehehehe .. sampai deh ke tanah suci heheheeh….” Jaenudin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Ameng yang begitu percaya.

Setelah percakapan itu, Ameng pun sholat dan membulatkan tekadnya. Dia percaya pada omongan Jaenudin .. salah seorang gurunya .. bagi Ameng, mana ada guru yang menyesatkan murid? Maka dengan semangat baja, malam itu Ameng pun pamit pada Jaenudin, dia akan ke kota .. lalu menuju dermaga kayu untuk menjalankan niatnya. Mendengar itu, Jaenudin hanya bisa tertawa terbahak-bahak dan berpesan .. bila daunnya tak mau jalan, artinya Ameng harus segera pulang!! Jaenudin sedikit merasa takut,.. takut Ameng kenapa-kenapa di kota. Karena Ameng adalah murid kesayangan Haji Mahmud.

Lalu berangkatlah Ameng ke kota,.. dengan semangat ditanyai-nya kepada orang-orang dimana letak dermaga,.. dermaga yang dipakai saat kapal kayu yang membawa rombonga haji bertolak? Bermodalkan dua helai daun mangga, Ameng pun tiba di tepi dermaga. Diletakkannya dua helai daun mangga diatas air .. mengapung .. lalu diucapkannya “BISMILLAH” dengan sebuah kepercayaan. Percaya sepenuhnya. Dengan hati-hati Ameng meletakkan kaki kanannya pada salah satu daun .. berhasil!! Lalu diikuti oleh kaki kirinya .. berhasil!! Ameng pun berucap,.. “Ya Allah, hamba berniat melaksanakan ibadah Haji ke tanah suci Makkah!!” .. apa yang terjadi? Daun mangga pun bergerak .. melaju .. entah arah mana yang dituju, Ameng tak tahu .. yang jelas, dalam waktu sekian menit, Ameng telah tiba di tanah suci!!!!

Dan memang Allah SWT telah berkehendak, Ameng pun bertemu Haji Mahmud di tanah suci!!! Melihat Ameng, Haji Mahmud berteriak histeris .. dipeluknya Ameng dengan perasaan tidak percaya. Apa yang telah berlaku? Usai mendengar cerita Ameng .. Haji Mahmud hanya bisa bilang “Subhanallah!!! Allah telah menunjukkan keberadaannya dengan nyata kepadamu Ameng!!” dan Ameng pun menjalani ibadah Haji bersama Haji Mahmud. Perasaannya amatlah bahagia. Dua helai daun mangga miliknya pun disimpan dengan baik, agar dapat dipakai untuk pulang kembali ke kampungnya.

Usai ibadah Haji dan menjadi seorang Haji, Ameng pun pulang kembali ke kampungnya dengan dua helai daun mangganya itu. Haji Mahmud berurai air mata .. tiba di kampung, Ameng menemui Jaenudin dan menceritakan semuanya. Jaenudin tak percaya .. dirinya sedikit gusar menanti Ameng yang tidak pulang hampir dua minggu lamanya. Ditambah lagi mendengar cerita Ameng, Jaenudin menjadi amat marah!!

Dua Bulan kemudian, rombongan Haji pun kembali ke tanah air. Tempat pertama yang dikunjungi Haji Mahmud bukanlah rumahnya,.. Orang pertama yang ingin dijumpai Haji Mahmud, bukanlah anak dan istrinya,.. melainkan Ameng dan Ameng!!! Tiba di kampung,.. Haji Mahmud mencari Ameng dan mengumpulkan semua muridnya … “Ameng telah menunaikan ibadah Haji atas KEPERCAYAANNYA pada omongan Jaenudin .. panggilah dia dengan sebutan Haji Ameng!!” mendengar itu, Jaenudin pun pingsan tak sadarkan diri!!!

-cut-

Petiklah satu makna dari cerita tersebut .. dengan PERCAYA kepada Allah SWT
secara tulus dan ikhlas, apa sih yang tidak Allah berikan kepada kita?!

Wassalam
tuteh–

(Sumber : milis Airputih)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: