Bila Harus Berbagi

Hari ini aku kesal sekali, suamiku mulai lagi bagi-bagi “duit” kepada keluarga mertuaku. Padahal aku ingat satu bulan lalu, bapak mertuaku datang meminta uang, katanya sih untuk menembok saluran air sebab musim hujan seperti ini air suka meluap ke rumah mereka.

Sejak awal menikah sebenarnya aku sudah tahu ketika suamiku menceritakan tentang ketergantungan keluarga padanya. Tadinya aku berusaha memahami, karena bagiku yang penting kebutuhan keluarga tidak terabaikan. Tapi, sejak ada Hamzah, buah cinta kami, aku merasa kebutuhan kami semakin meningkat.

“Yah… lebaran nih, Hamzah belum beli baju baru”, seruku sewot.

“Iya ayah tahu, tapi mama sekarang lagi butuh uang untuk biaya sekolah de’ Mia”, sahut suamiku. Aku diam, dalam hati aku ngedumel ada saja alasan yang dicari-cari untuk pembenaran… percuma aku protes, suamiku pasti akan mengeluarkan dalil yang akan mendukung perbuatannya tersebut.

Kejadian lama terulang lagi, di depan suamiku, aku menasehati adik iparku agak keras. “De’ ngapain sih beli baju muslim baru, toh yang lama juga masih bagus, orang itu tidak penting bajunya, yang penting hatinya”, kataku. Mia diam saja. Kulihat suamiku mau membela, tapi langsung kupelototi.

Akhirnya untuk meredakan suasana yang semakin tidak enak ini, suamiku berujar, “Udah deh Mia kamu pulang dulu, nanti abang pikirkan permintaanmu itu”. Wajah Mia memerah, kulihat ada tangis menggantung disana. Kukuatkan hatiku untuk tidak terenyuh. Mia pun pulang. suamiku diam saja, rupa ia malas berargumen dengan ku disaat puasa.

Sikapku ternyata berdampak luas, bang adi sejak saat itu sepertinya puasa bicara banyak denganku, hanya kalimat-kalimat pendek yang terlontar. Dan yang membuat hatiku bertambah gundah, ketika tiga hari menjelang lebaran, kami berkunjung ke rumah mertua karena mama kangen dengan Hamzah. Sesampainya disana, mama cerita kalau Mia tidak jadi ikut sanlat di sekolahnya karena baju muslimnya yang agak baikan tidak ada. Bajunya yang lama sudah disumbangkan. Bang Adi melirikku, ternyata Mia baik sekali, ia tidak cerita pada mama kalau ia sudah minta pada abangnya tapi aku tolak.

Malam itu kami menginap, karena hatiku diliputi rasa bersalah yang mendalam, tengah malam sekitar jam 2 malam aku bangun untuk sholat malam, memohon ampun kepada-Nya. Ketika melewati kamar mama, kulihat pintu terbuka, iseng kuintip karena kudengar isak tangis mama. Semakin mendekat, kudengar dalam doanya mama mengucap beberapa kali nama suamiku. “Ya Allah berikanlah anakku, Adi, rezeki yang melimpah karena ia harus membiayai dua keluarga. Ya Allah berilah ia kesehatan, karena jika ia sakit kami masih membutuhkannya ya Allah…”.

Aku menyandarkan badanku ke dinding. Tangisku pun pecah, Ah… betapa naifnya aku. Mestinya aku tahu, jika mereka mampu pasti mereka tidak akan meminta pada anaknya. Lagi pula doa seorang ibu yang bersih akan diterima Allah. Kenapa aku harus menahan, sementara Allah saja tidak menahan rezeki-Nya dari langit!

(Sumber : milis Airputih)

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: