Rejeki bukan hitungan matematis

Ada sebuah cirita dari ranah Minahasa begini :

Dantje manangis ukur bengko.

Opa: Kiapa ngana Dantje!

Dantje: (kurang hela-hela napas) hu…hu..hu… Ta pe doi dua ra’ ilang.

Opa: Stop jo manangis. napa opa ganti dua ratus. Dantje lebe kuat bakuku manangis. opa bingo hebat.

Opa: Eh tuang. kiapa Dantje?

Dantje: Bagini so ampa ratus. hu….hu…hu….

Pada cirita diatas si Dantje menghitung uang yang dipunyainya seharusnya sebesar 400 yaitu 200 dari yang hilang dan 200 yang opa kase sebagai ganti yang hilang. Meskipun itu hanya cirita bakusedu biasa, namun kadang-kadang sikap dan pikiran kita selama ini sehaluan dengan Dantje.

Kita sudah mulai berhitung ketika tanggal muda sudah datang saat Gajian bagi yang kerja kantoran. Uang gaji sekian ditambah penghasilan lain-lain sekian, sedangkan selama sebulan membutuhkan pengeluaran sekian, sehingga ada sisa untuk ditabung sekian. Memang hal tersebut diperlukan untuk manajemen moneter keluarga kita sehingga cash flow uang kita selalu terkontrol dan terjaga. Namun adakalanya dan bahkan sering kali yang telah kita susun dan rencanakan meleset karena sesuatu dan lain hal. Karena musibah, tetangga butuh bantuan, harga kebutuhan naik dan lain-lain.

Sampai sekarang saya sangat kagum kepada Almarhumah ibu saya. Saya ndak habis pikir, saudara saya semua ada 9 orang, Bapak hanya mengandalkan gaji dari tentara tok alias nggak macem-macem. Dan setelah Bapa pensiun kembali ke kampung di Klaten menempati rumah warisan dari Kakek (karena Bapak nggak bisa punya rumah sendiri), sumber roda ekonomi keluarga hanya berasal dari uang pensiun Bapak ditambah hasil dari sepetak sawah yang dikerjakan oleh orang lain. Sementara ibu harus mengelola keuangan dari pendapatan bulanan untuk “menghidupi” kebutuhan sehari-hari ditambah biaya pendidikan anak-anak. Rata-rata selisih usia kami anak-anaknya adalah 3 tahun, jadi pada saat yang bersamaan di keluarga kami ada yang sekolah dari tingkat SD sampai PT. Dan lagi tidak semuanya sekolah di sekolah Negri, jadi biaya sekolah dan kost bagi yang sekolah di luar kota cukup lumayan.

Yang saya kagumi dari ibu adalah bahwa beliau mampu mengelola semua itu dengan baik dan alhamdulillah kami semua anak-nya mampu menyelesaikan pendidikannya dengan baik. Saya masih teringat kata-kata bijaknya dengan kasih sayang kepada kami anak-anaknya :

“Le .. Nduk … Rejeki iki wis ono sing ngatur”

“Awake dhewe minangka wong urip gari nglakoni naging tetep waspadha lan tetep ngupaya”

“Kalau kita selalu berusaha dan senantiasa berserah diri kepada Allah, Insya Allah apa pun masalah kita dapat terselesaikan”

Ibu yang saya tahu tidak pernah berkeluh kesah bahwa uang yang dimilikinya kurang. Bahkan sering saya lihat masih sempat memberikan pinjaman kepada tetangga yang lebih membutuhkan. Tetapi herannya setiap kali saya minta untuk bayar uang sekolah, dengan segera ibu mengambil dompet dan memberikannya kepada saya.

Jadi memang rejeki bukan hitung-hitungan matematis. Tugas kita hanyalah berupaya untuk menjemput rejeki yang diberikan oleh Allah dan memanfaatkan rejeki tersebut sebaik-baiknya kemudian semua kita serahkan kepada Sang Pemberi Rejeki.

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: