Empat Mata

Memang acara yang lagi ngetop di TV sekarang adalah acaranya si Tukul, “Empat Mata”. Saya sempat melihatnya beberapa kali dan akhirnya tidak saya tuntaskan. Awalnya memang saya ikut tergelak bersama kelucuan dan keluguan Tukul, tapi lama-lama bosen juga. Jangan marah ya mas Tukul …

Berikut sebuah esai dari Aulia Muhammad di suaramerdeka.com mungkin dapat dijadikan sebagai referensi untuk Tukul agar lebih berkembang dan dapat bertahan. Saya kira ulasan Pak Aulia sangat baik dan bermanfaat bagi para penggemar “Empat Mata” dan khususnya bagi mas Tukul dan produsernya.

Esai Aulia A Muhammad

Sebelah Mata untuk “Empat Mata”

Kelemahan utama acara “Empat Mata” justru terletak pada hasrat Tukul yang ingin selalu jadi pemain utama. Januari ini barangkali dapat dijadikan sebagai bulan Tukul Arwana. Nyaris semua tabloid memasang foto dan mengulas dirinya. Biogafi pendeknya tercetak di mana-mana, wajah cengengesannya tayang di berbagai infotainmen. Sebabnya satu, keberhasilannya mengampu talk show “Empat Mata”. Keberhasilan yang dinilai fenomenal karena semula kehadirannya justru dipandang sebelah mata. Dan ketika rating “Empat Mata” melejit, iklan antre, “pesona” Thukul pun menjadi topik hangat. Pujian bertaburan. Kesederhanaan dan keluguannya selalu menjadi anggukan.

“Empat Mata” yang semula sekali tayang, jadi tiga kali seminggu, lalu lima kali sepekan. Tawa, canda, idiom khas Tukul pun jadi santapan rutin. “Silent please…”, “Kembali ke lap…top”, atau “Puas?! Puas?!” menjadi populer dan selalu menerbitkan tawa. Psikolog sosial Sartono Mukadis menyebut Tukul sebagai pelawak jenius, karena dapat berpikir secara cepat (quick thinking). Juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng memuji acara yang dibawakan Tukul sebagai lawakan yang menghibur, segar, santai, serta cerdas. Tukul pun, dalam keluguan dan kesederhanaannya, menjadi sempurna. Dan, lihatlah, semua berlomba melahirkan puji-puja. Tukul menjadi “anak manja” media.

Rutinitas Kembar

“Empat Mata” memang populer karena Tukul. Sosok Tukul-lah yang dijual dan menjadi magnit acara itu. Gestur, umpatan, salah ucap, semua jadi terasa memesona, dan menjual. Dan memang begitulah pada mulanya. Seluruh “tipikalitas” Tukul itu memang membuat perut berguncang. Tapi, ketika “Empat Mata” tayang nyaris setiap malam, kelucuan rutin itu menjadi terasa “menyedihkan”. Sebabnya satu, Tukul terpancang pada idiomatikal itu-itu saja. Yang lahir kemudian hanya semacam perulangan dari adegan di malam-malam sebelumnya. Nyaris tak ada kreasi, bahkan ketika yang hadir adalah tamu dengan karakter yang sangat berbeda. Tukul tak mampu bermetamorfosa. Semesta gelak yang kemudian lahir tak lebih tawa yang kering, tawa dari kelucuan yang sudah menjadi semacam hapalan. Apalagi, tipikalitas itu tak hanya tampil di “Empat Mata” Trans|7. Di “Catatan Harian Si Tukul” di RCTI tiap Selasa dan Rabu pagi pun, gestur dan pola-ucap Tukul tak berbeda. Tukul adalah sama di setiap acara yang berbeda.

“Orang suka kalau melihat saya tampil bodoh,” ucap Tukul. Benar. Tapi penonton tentu tidak menginginkan “kebodohan” yang rutin, akting yang tanpa variasi. Tukul abai dalam hal ini. Maka, “swahina”, hinaan pada diri sendiri pun, selalu ajek, sama, itu ke itu saja, dari memonyongkan bibir, gaya pragawan, dan lainnya. Rutinitas kembar ini bahkan sampai pada ucapan pengantar jeda “Empat Mata”, “Oke pemirsa, jangan ke mana-mana, saya akan mengupas lebih dalam lagi setelah…” Tak ada yang beda, baik intonasi dan diksi. Sama. Hapalan.

Rutinitas itu jugalah yang akhirnya membuat magic word “Kembali ke Lap… top” atau “Silent Please” kehilangan daya provokasinya. Bayangkanlah, jika dalan satu jam, penonton harus mendengar “Kembali ke Lap… top” sampai berpuluh kali, bahkan terkadang, seperti tanpa jeda. Eneg!

Pusat Magma

“Empat Mata” memang talk show yang berbeda. Jangan bandingkan dengan acara sejenis seperti “Lepas Malam” dan “Dorce Show” di Trans TV atau “OM Farhan” di Anteve. Kupasan atas sebuah masalah dan atau pada sosok bintang tamu tak lebih dari basa-basi, artifisial, dan acap hanya sarana untuk melahirkan “improvisasi” kelucuan dari Tukul. Bintang tamu adalah “gantungan” atau “picu” agar kelucuan Tukul lahir. Karena itu, untuk mengadopsi “percikan” kelucuan itu, bintang tamu harus siap dikorbankan. Mereka hanya tamu, hanya selingan, Tukul-lah yang menjadi pusatnya. Tukul tampaknya menyadari hal itu. Sebagai pusat, dia harus tampil lebih utama, menjadi fokus kamera.

“Empat Mata” Senin (29/1) secara jelas menunjukkan hal itu. Kehadiran Maia Ahmad, Sarah Sechan, Koming, dan Omas, memang pelengkap. Karena itu, seluruh pertanyaan untuk mereka bukan hal utama. Lihat ketika Tukul bertanya kepada Maia, “Siapa yang kira-kira akan menggantikan Mulan?” Ini pertanyaan yang bagus, dan jawaban Maia tentu ditunggu pemirsa. Maia terdiam sesaat, dan Tukul segera menyela, “Barangkali saya bisa, atau Omas? Kami siap kok diaudisi…” Dan, bergayalah Tukul, dia ajak Omas untuk bernyanyi, melempar joke –yang garing banget– menyita waktu yang cukup lama, membiarkan Maia dan lainnya hanya sebagai pengamat. Cukup. Tukul kembali ke tempat duduknya, dan berkata, “Kembali ke Lap…top”. Habis. Dia tak pernah menuntaskan pertanyaannya. Dan itu sudah menjadi “penyakit” acara ini.

“Maia, bagaimana melampiaskan segala masalah yang menimpamu selama ini?” tanyanya. “Dilampiaskan ke Mas Tukul, boleh?” Tukul pun jejingkrakan, berdiri, dan bersolilukoi kepada penonton. Dia kembali ke tempat duduknya, dan “Kembali ke Laptop…”. Tak ada pertanyaan yang dia kejar. Hal semacam itulah yang membuat Andi Mallarangeng, ketika menjadi bintang tamu, hanya tersenyum kecut. Kehadirannya jadi “bemper” semata. Wajahnya menunjukkan betapa dia tersiksa.

“Setiap pertanyaan saya memang tidak perlu jawaban yang benar. Yang penting lucu saja,” kata Tukul. Masalahnya, tidak semua narasumber bisa melucu suka dijadikan bahan lawakan, apalagi menyangkut SARA (seputar arah rai dan anatomi). Juga untuk hal yang serius, tak semua penonton juga ingin mendengar jawaban yang asal bunyi.

“Kembali ke Laptop” memang membuat banyak hal menjadi aneh dan tidak wajar. Sering, Tukul bertanya satu hal ke bintang tamu. Jawaban ternyata melebar, mencakup berbagai hal. Dan ketika Tukul kembali ke laptop dan bertanya lagi, pertanyaan itu ternyata sudah dijawab dalam pelebaran persoalan yang diungkapkan narasumber sebelumnya. Tukul acap terlongo, dan menyelamatkan situasi itu dengan … “kembali ke lap…top” Dari situ tampak, Tukul tak pernah berani mengembangkan pertanyaan lebih dari yang “ditawarkan” laptop. Atau mungkin sebaliknya, Tukul memang tak diizinkan untuk melakukan pengembangan. Menyedihkan.

“Aku Melucu maka Empat Mata Ada”. Itu barangkali yang disadari Tukul. Dia adalah pusatnya, sang magma. Tukul mungkin lupa, setiap orang tidak akan pernah puas jika hanya mendapatkan hal yang sama. Kerutinan pasti melahirkan kebosanan. Pemirsa tak pernah bisa setia. Dan jika kemasan “Empat Mata” tidak berubah, Tukul masih selalu memakai idiom yang nyaris jadi hapalan, kepopulerannya tinggal menghitung masa. Karena tanpa disadari, Tukul mengubah kekuatannya menjadi titik terlemahnya: selalu tampil apa adanya, bermodal kelucuan yang itu-itu saja.

No Responses to “Empat Mata”

  1. budi Says:

    Jika ditilik lebih dalam memang hal2 tersebutlah yang mencuat, namun walau bagaimana ini mencerminkan kondisi masyarakat dan gaya talkshow yang ‘beda’ dari Empat mata dan mampu menggeser talkshow yang lebih ‘ilmiah’ seperti reinkarnasi republik BBM misalnya.

  2. Pak Amed Glodock Says:

    Saya dari Malaysia menyatakan secara peribadi adalah seperti berikut:
    Memang Mas Tukul punya gaya menghibur serta jenius apatah lagi beliau mendapat bahan persembahan lewat dari bahan bacaan, saya akui sendiri dengan membaca kita memang banyak modal untuk di utarakan walau dalam topik apa sekali pun. Syabas Mas tukul. Saya di belakang anda. Jangan pandang belakang teruskan dengan idea anda yang jenius.
    Kulo tiang jawi.(wong Deso jugak)

  3. SHIROROBET Says:

    KENAPA CIPIKA-CIPIKI DILARANG BUAT ACARA 4MATA,PADAHAL BANYAK ACARA2 SINETRON YANG LEBIH DARI ITU.KALO AKU JADI KETUA MURI AKU AKAN MASUKAN MAS TUKUL KE DALAM MURI KARENA MAS TUKUL ADALAH ORANG PERTAMA YANG SUDAH MENCIUM SEMUA ARTIA DI INDONESIA. AKU KAGUM MA MAS TUKUL. HIDUUP MAS TUKUL

  4. andik asmoro Says:

    entahlah aku tak tau,.. tapi ketika berlibur ke Indonesia, tontonan tukul dan empat matanya lah yang menghiburku selama sebulan.pun aku kembali bekerja dinegeri orang aku onlen.ups tau ndak ya gmana liat tukul online?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: