Bunuh diri itu …..

Fenomena ibu membunuh anaknya dan kemudian membunuh dirinya sendiri di kota Malang, sungguh sangat memprihatinkan. Masih kita ingat bagaimana kasus serupa pernah terjadi menimpa seorang ibu di Bandung tahun lalu. Fenomena apakah yang sedang terjadi ?

Seolah penyakit hati ini seperti “menular”. Melalui pemberitaan-pemberitaan di media (TV, cetak, radio, internet), yang awalnya adalah berita kemudian dapat dijadikan sebagai referensi bagi siapapun yang mengalami atau merasa senasib dengan materi berita. Mungkin ibu di Malang tadi pernah membaca kasus serupa di Bandung, kemudiaan dia jadikan sebagai “pembenaran” dan “referensi” untuk melakukan tindakan yang sama.

Tentu kita tidak bisa menyalahkan media akibat kasus-kasus tersebut. Namun ya itulah, kenyataannya ketika hampir setiap stasiun TV menayangkan berita kriminal setiap hari (bahkan ada yang sampai beberapa kali tayang, pagi, sore), bukannya kejahatan menurun tetapi malah kejahatan semakin merajalela. Entahlah. Sebagian masyarakat awampun terkadang melihat berita-berita tersebut sebagai hiburan dan adakalanya ketika timbul masalah serupa dengan tidak sadar dia akan merujuk kepada berita yang pernah ditonton dan diingatnya.

Bukankah katanya ketika maling masuk penjara, saat keluar dia bertambah pintar karena belajar dari komunitasnya dipenjara ?

Semuanya akan mengarah kesana bila melulu dipandang dari sudut duniawi. Kalau toh akhirnya kembali kepada fitrah kita sebagai manusia, sebagai makhluk ciptaan Allah, niscaya segala carut marut kehidupan dunia ini akan sirna.

Bacalah pesan singkat (SMS) ibu di Malang kepada suaminya sebelum bunuh diri

Sayang, sori
aku sudah bunuh anak anak.
Aku hancurkan hidup
dan impian mereka,
juga impianku.
Tentang anak-anak dan hari tua
kita hidup yang baik ya.
Aku dan anak anak cinta kamu.
Godbless You.

Sungguh …
penyerahan diri kita kepada Sang Pencipta .. Allah SWT
mutlak diperlukan dalam menjalani kehidupan ini
rasa sesal, perih, rasa sepi dan serasa hidup sendiri dimuka bumi
kadang menggumpal dan mendorong kita untuk mengasihani diri
seakan Tuhan tidak mau menolong derita yang dihadapi
kita vonis Tuhan tidak adil karena merenggut kenikmatan dari sisi kita

Padahal itulah …
semua hanyalah persepsi kita sebagai makhluk
dan Allah telah memberikan jalan untuk kembali kepada-Nya
hanya kepada-Nya
dengan segala kepasrahan yang dalam

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: