Kisah Nazaruddin (3)

Terburu-Buru

Keledai Nazaruddin jatuh sakit. Maka ia meminjam seekor kuda kepada tetangganya. Kuda itu besar dan kuat serta kencang larinya. Begitu Nazaruddin menaikinya, ia langsung melesat secepat kilat, sementara Nazaruddin berpegangan di atasnya, ketakutan.

Nazaruddin mencoba membelokkan arah kuda. Tapi sia-sia. Kuda itu lari lebih kencang lagi.

Beberapa teman Nazaruddin sedang bekerja di ladang ketika melihat Nazaruddin melaju kencang di atas kuda. Mengira sedang ada sesuatu yang penting, mereka berteriak,

“Ada apa Nazaruddin ? Ke mana engkau ? Mengapa terburu-buru ?”

Nazaruddin balas berteriak, “Saya tidak tahu ! Binatang ini tidak mengatakannya kepadaku !”

Periuk Beranak

Nazaruddin meminjam periuk kepada tetangganya. Seminggu kemudian, ia mengembalikannya dengan menyertakan juga periuk kecil di sampingnya. Tetangganya heran dan bertanya mengenai periuk kecil itu.

“Periukmu sedang hamil waktu kupinjam. Dua hari kemudian ia melahirkan bayinya dengan selamat.”

Tetangganya itu menerimanya dengan senang. Nazaruddin pun pulang.

Beberapa hari kemudian, Nazaruddin meminjam kembali periuk itu. Namun kali ini ia pura-pura lupa mengembalikannya. Sang tetangga mulai gusar, dan ia pun datang ke rumah Nazaruddin,

Sambil terisak-isak, Nazaruddin menyambut tamunya, “Oh, sungguh sebuah malapetaka. Takdir telah menentukan bahwa periukmu meninggal di rumahku. Dan sekarang telah kumakamkan.”

Sang tetangga menjadi marah, “Ayo kembalikan periukku. Jangan belagak bodoh. Mana ada periuk bisa meninggal dunia!”

“Tapi periuk yang bisa beranak, tentu bisa pula meninggal dunia,” kata Nazaruddin, sambil menghentikan isaknya.

Jatuhnya Jubah

Nazaruddin pulang malam bersama teman-temannya. Di pintu rumah mereka berpisah. Di dalam rumah, istri Nazaruddin sudah menanti dengan marah. “Aku telah bersusah payah memasak untukmu sore tadi !” katanya sambil menjewer Nazaruddin. Karena kuatnya, Nazaruddin terpelanting dan jatuh menabrak peti.

Mendengar suara gaduh, teman-teman Nazaruddin yang belum terlalu jauh kembali, dan bertanya dari balik pintu,

“Ada apa Nazaruddin, malam-malam begini ribut sekali?”

“Jubahku jatuh dan menabrak peti,” jawab Nazaruddin.

“Jubah jatuh saja ribut sekali ?”

“Tentu saja,” sesal Nazaruddin, “Karena aku masih berada di dalamnya.”

Relativitas Keju

Setelah bepergian jauh, Nazaruddin tiba kembali di rumah. Istrinya menyambut dengan gembira,

“Aku punya sepotong keju untukmu,” kata istrinya.

“Alhamdulillah,” puji Nazaruddin, “Aku suka keju. Keju itu baik untuk kesehatan perut.”

Tidak lama Nazaruddin kembali pergi. Ketika ia kembali, istrinya menyambutnya dengan gembira juga.

“Adakah keju untukku ?” tanya Nazaruddin.

“Tidak ada lagi,” kata istrinya.

Kata Nazaruddin, “Yah, tidak apa-apa. Lagipula keju itu tidak baik bagi kesehatan gigi.”

“Jadi mana yang benar ?” kata istri Nazaruddin bertanya-tanya, “Keju itu baik untuk perut atau tidak baik untuk gigi ?”

“Itu tergantung,” sambut Nazaruddin, “Tergantung apakah kejunya ada atau tidak.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: