IPDN, keledai atau manusia ?

Rasanya waktu berjalan dengan cepat sekali. Ndak terasa besok sudah week end lagi, perasaan long week end baru kemarin-kemarin.

Mungkin karena lagi banyak kerjaan ya, sehingga waktu serasa cepat berlalu. Pada minggu ini kebanyakan aktifitas ada diluar kantor yaitu di Purwakarta, dan karena kegiatan cukup padat menjadikan hari serasa berjalan cepat. Namun alhamdulillah segala harapan dapat tercapai sehingga dapat menjawab rasa penat.

Tapi bukan masalah itu yang menarik untuk dibahas, melainkan masalah IPDN. Meskipun saya hanya sekilas membaca maupun nonton di teve berita tentang IPDN, namun cukup bisa mengikuti perkembangannya. SCTV cukup intensif mengungkap masalah ini karena pada tahun 2003 dialah yang menayangkan secara eksklusif video amatiran yang merekam kejadian “horror” di STPDN waktu itu (sebelum diganti menjadi IPDN). Kenapa horror ? Karena di tayangan itu terlihat begitu jelas tentang salah satu jeroan pendidikan di IPDN, yaitu dominannya senior sehinga layaknya majikan dan budak yang dapat berbuat semena-mena main pukul dan hantam tanpa dapat dilawan dan disalahkan. Sementara sang penguasa lembaga pendidikan (STPDN) seolah-olah ”membiarkan” hal tersebut terjadi menjadi suatu kelaziman dan tradisi yang harus dilakukan.

Praja dididik dengan kekerasan sebelum menjadi birokrat, sehingga setelah resmi ada di birokrasi tinggal mengimplementasikannya. Dan ketika kematian seorang praja mencuat (kalau nggak salah Wahyu Hidayat), yang diputuskan bersalah hanyalah sepuluh praja senior sedangkan sang penguasa cukup hanya dilengserkan (nggak tahu punggawa yang lainnya bagaimana). Dan anehnya lagi, praja yang divonis dihukum, sampai dengan saat ini masih bebas berkeliaran bahkan malah beberapa diantaranya telah menjadi PNS. Sungguh dunia (baca Indonesia) memang hanya panggung sandiwara. No comment.

Mungkin banyak kejadian yang mirip seperti itu terjadi di Indonesia dan dianggap sebagai hal yang ”biasa”. Sungguh menyedihkan menjadi orang Indonesia ya ?

Dan setelah kasus Cliff Muntu ini, terus apa tindak lanjutnya ? Cukupkah hanya dengan melengserkan rektor IPDN dan kemudian menghukum sang pelaku ? Yakinkah kita bahwa tidak akan ada lagi kejadian serupa dimasa yang akan datang ?

Urun rembuk sudah banyak dilontarkan oleh segenap lapisan masyarakat. Dari ibu rumah tangga, orang tua praja, para pejabat pemerintah sampai wakil kita di DPR yang intinya harus ada perbaikan atau kalau nggak bisa diperbaiki ya dibubarkan saja.

Sekarang terserah kita, mau jadi keledai atau mau jadi manusia (yang siap untuk belajar dan menjalani hari ini menjadi lebih baik dari kemarin) ?

Tags:

No Responses to “IPDN, keledai atau manusia ?”

  1. IPDN ? « Catatan Perjuangan Yudhi Arie Baskoro Says:

    […] by wadehel Surat-cinta-untuk-praja-ipdn by senyum sehat Ipdn-tidak-bersalah by manusia super Ipdn-keledai-atau-manusia by prabu Stpdn-versus-ipdn by luthfi Bubarkan-ipdn by thamrin Ipdn-patutkah-dibubarkan by kampung wacana […]

  2. GAGOUGH Says:

    BUBARKAN IPDN ………..!!!!!!!!!!
    PENCETAK BANGSAT BERKUALITAS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: