Tidak ada yang namanya kebetulan

Dua hari ini saya ijin nggak masuk kerja karena mendapat berkah sakit. Hari minggu lalu badan rasanya ngreges panas dingin dan tulang-tulang rasanya linu capek-capek. Ngak tahu kenapa, tapi kayaknya faktor kelelahan saja. Kata dokter sih terkena virus yang lagi terjangkit dimana-mana dan kayaknya kondisi tubuh lagi kurang fit. Maklum, keluarga di rumah semua dapat sakit dan tetangga-tetangga saya lihat banyak juga yang sakit. Tapi alhamdulillah sekarang sudah lumayan dan dapat masuk kerja lagi.

Saya ingat pelajaran filsafat Islam di masjid kantor minggu kemarin tentang ”mencapai kebahagiaan”. Bahwa kalau bayi akan bisa sesuatu keahlian tertentu misalnya mau bisa jalan, mau dapat ngomong atau akan tumbuh gigi maka dia akan diberi rasa sakit misalnya panas. Filosofi tersebut ternyata berlaku selamanya bagi setiap orang ketika hidup di dunia ini. Ketika kita dikaruniai sakit atau musibah, niscaya Allah telah menyiapkan ”sesuatu” yang lebih dan berharga bagi kita. Sehingga sabar dan tabah dalam menghadapi segala ketidaknyamanan itu merupakan sikap hidup kita yang seharusnya ada dan selalu kita jaga keberadaannya. Dengan keyakinan bahwa Allah memberikan sesuatu yang lebih baik untuk kita, maka rasa sakit (fisik maupun hati) niscaya akan nikmat terasa.

Tetapi umumnya manusia berpandangan “short term” dan berfikiran hanya yang dirasakan dan dialami sekarang, sehingga rasa sakit dirasakan sebagai siksaan yang sangat. Ketika sakit dan sedih, Allah dicap sebagai tidak adil karena memberikan sakit kepada kita padahal kita sudah beriman dan beribadah dengan baik. Lalu apa yang salah ?

Tidak ada yang salah dalam hal ini. Yang perlu ditempatkan pada sikap yang benar adalah bahwa kita harus menerima segala sesuatu yang menimpa kita, baik itu senang atau sedih, bahagia atau nestapa, cinta atau benci, semua adalah dalam skenario Allah semata. Sebab tidak ada yang ”kebetulan” di muka bumi ini semua ada dalam rencana Sang Pengatur.

Jikalau hati sudah mampu mengatur suasananya dengan tenang, segala input dari berbagai sumber kejadian dan kehidupan niscaya tidak menjadikannya bergejolak. Tidak menjadikan hati galau yang ada adalah jiwa yang tenang, yang berserah diri hanya kepada Allah.

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: