Nanggap Wayang Kulit

Kembali lagi cerita masalah wayang. Memang nggak ada habis-habisnya untuk diceritakan dan dikenang. Kali ini cerita ketika aku di-sunat dan nanggap wayang. Sunat didefinisikan sebagai kewajiban seorang muslim laki-laki sesuai dengan ajaran Islam untuk membersihkan ”peralatan vitalnya” dengan cara memotong sebagian daging diujungnya. Pelaksananya biasa dilakukan oleh bong supit atau dokter atau mantri.

Orang Jawa dahulu memang menyunatkan anaknya biasanya kalau sudah cukup umur. Demikian juga dengan saya. Kalau nggak salah waktu itu saya sudah kelas 2 SMP ketika disunat. Saya ingat persis ketika sedang asyik nyari sawo matang di atas pohon, tiba-tiba Bapak menyuruh saya turun. Ketika sampai dibawah dan menghadap beliau, saya langsung di todong dengan pertanyaan : ”Berani nggak kamu sunat sekarang ?”.

Saya kaget mendapat pertanyaan yang tiba-tiba begitu, lha wong sebelumnya Bapak nggak pernah bilang apa-apa tentang masalah persunatan. Tapi setelah berkaca diri melihat bahwa saya sudah besar dan sudah, maaf, bisa ngaceng, akhirnya saya berani menerima tantangan ini.

Kemudian proses menuju persunatan segera terjadi. Saya mandi dan ganti baju ala kadarnya kemudian mbonceng Bapak naek Vespa menuju ke Mantri. Kenapa mantri ? Waktu itu tidak ada dalam pikiran saya untuk memilih hari ataupun memilih metode penyunatan. Pokoknya tinggal menurut apa kata dan mau Bapak.

Saya juga nggak mikir kalau habis sunatan terus dirayain dengan mengundang tetangga dan menerima salam tempel dari mereka. Sebab saya ingat, ketika masih ada di Magelang saat kakak saya disunat, dia memperoleh salam tempel dari ibu-ibu tetangga yang mengunjunginya. Saya nggak mikir untuk dapat uang. Yang saya inginkan semua proses berjalan dengan baik dan saya kembali ”normal” lagi.

Mantri nggak jauh dari rumah, kira-kira sepuluh menit perjalanan. Nyampek disana saya disambut dengan hangat oleh mantri tersebut (saya lupa namanya) karena beliau adalah kenalan bapak. Masuk kamar periksa, tanya sana tanya sini, mengoleskan atau menyemprotkan sesuatu dan akhirnya, cleekiit saya merasakan sesuatu yang hilang di peralatan saya. Sambil tersenyum ramah sang Mantri memperlihatkan bagian tubuh saya yang telah lepas dan kemudian peralatan saya dirumat dan dibungkus dengan perban. Kemudian dengan berjalan agak ngangkang pake sarung, kembali deh kerumah dengan selamat. Nggak ada sambutan macem-macem, yang ada hanya senyum Ibu sambil bertanya : ”Sakit Le ?”.

Ketika bude dari Solo datang karena beberapa hari kemudian Nyadran (menjelang puasa), dikasih tahu bahwa saya telah sunat. Beliau dengan girang memberi ucapan selamat : ”Loro Wo disunat ? Coba tak delok wekmu sing disunat !”. Dengan malu (karena saya merasa sudah besar), saya menolak dengan halus untuk memperlihatkan anu saya. Bude tertawa, aku tersenyum kecut.

Tapi ternyata moment aku sunat lumayan heboh juga. Bapak nanggap wayang. Sorry bukan hanya bapak, tapi seluruh kampung nanggap wayang. Lho kok ? Pada waktu itu sudah menjadi tradisi di kampung kami bahwa setiap Nyadran melalui iuran bersama setiap KK, kampung kami mengadakan pagelaran wayang kulit. Bahkan dilakukan dua kali. Sekali dilakukan waktu siang sampai sore hari dengan dalang yang nggak terlalu terkenal, dan malamnya sampai subuh diadakan pagelaran lagi. Biasanya orang-orang nunggu yang malam karena dalangnya cukup terkenal dan bagus. Lagian wayang kulit akan lebih indah ditonton pada malam hari.

Dan berkaitan dengan event sunatan saya, kebetulan rumah Bapak mendapatkan giliran untuk mementaskan wayang kulit tahun itu. Sangat cocok karena rumah Bapak (warisan Kakek) sangat besar dengan model joglo dengan halaman yang sangat luas. Karena dinding depan terbuat dari kayu jati yang dapat dilepas dan dipasang ulang, maka segera dipasang gedebog pisang dan wayang-wayang serta layar dan dijejerkan disitu. Penontonpun jadi nyaman karena dapat melihat pertunjukan wayang dari luar (menghadap layar), atau didalam rumah dengan melihat dari balik layar. Tinggal pilih. Penonton pada malam itu sangat banyak, berdatangan dari berbagai penjuru kampung sehingga memenuhi halaman dan ruangan dalam.

Kini saya berfikir, hebat juga Bapak ya, menyunatkan anaknya dengan nanggap wayang dan dihadiri oleh ribuan orang. Sungguh memberi kesan yang sangat dalam event sunatan saya yang hanya sekali ini.

Matur nuwun Bapak.

Matur nuwun Ibu.

Matur nuwun Bude.

Matur nuwun sedherek-sedherek dusun kulo.

Matur nuwun kangge sadaya ingkang sampun mbingahi manah kulo.

Matur nuwun.

Tags: , , ,

No Responses to “Nanggap Wayang Kulit”

  1. DEMANG Says:

    klo menurut saya wayang itu ada sesuatu ilmu yg di bawakan oleh suatu dalang…saya juga baru tau2x sekarang saya sering ngobrol dgn orang2x di kampung(Majalaya Bandung), saya heran kok dulu bapak saya suka sekali Wayang Golek,eh ternyata semua itu ada ilmu di balik wayang golek itu,katanya orang tua dulu itu klo menerangkan ilmu agama itu dgn berdasarkan SIMBOL dan SILOKA,contohnya wayang…bahwa kita itu d dunia bagaikan wayang yg d gerakan oleh dalang…dan si wayang ga bisa melihat si dalang karena adanya suatu hijab.. begitu juga dgn kita, bahwa kita pingin mengenal Allah tp kita masih terhalang oleh hijab,walaupun d dalam al qur’an di jelaskan bahwa sebenarnya sang pencipta dng kita itu tidak ada antara(dekat)…walupun urat leher dgn leher masih ada antara tp sang pencipta ga ada antara dgn kita..,tp masih poek ya..??trus d dalam wayang ada cerita begini “Klo kita pingin hidup kekal di dunia dan Akherat carilah DALIMA”, karena dulu banyak mistiknya makanya konotasi kita itu bahwa DALIMA itu Batu Akik Berwana merah, tp setelah di jelaskan bahwa DALIMA itu surat Al IKLASH (terdapat Dal yg berjumlah 5 di dalam surat tsb)…Punteun Upami Abdi Lepat…tolong koreksinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: