Kho Ping Hoo

Asyik memang kalau lagi baca ceritanya Kho Ping Hoo. Harus diakui bahwa untuk urusan bikin cerita silat, Kho Ping Hoo–lah jagonya. Ceritanya begitu mengalir dan menarik. Sering dilatar belakangi sejarah China (maupun Nusantara) sehingga menunjukan bahwa seolah-olah cerita tersebut pernah terjadi. Pintar sekali beliau memadu antara berbagai tokoh dan karakter melalui cerita tentang balas dendam, perjuangan, asmara membara dan cerita-cerita menarik lainnya.

Sebenarnya saya sudah beberapa kali membaca karya Kho Ping Hoo terutama 3 serial terkenalnya yaitu : Serial Bu Kek Siansu, Bu Pun Su dan Pedang Kayu Harum. Bahkan sejak saya SD waktu di Magelang saya sudah membacanya rebutan sama kakak-kakak (lihat minat baca). Tapi karena tertarik lagi dan ingin lebih mendalami dan menikmati, akhirnya ya baca lagi baca lagi. Mungkin dulu sewaktu membacanya nggak dengan sepenuh hati alias sekedar membaca saja kali ya .. he he ….

Saya tidak ingin membahas lebih lanjut karya-karya beliau karena sudah banyak yang membahas lebih lengkap.

Sebagai contoh mungkin saya dapat cuplik sedikit “petuah” dan penggambaran tokoh pada cerita silat “Suling Mas” salah satu karya di serial Bu Kek Siansu (dalam setiap cerita sering diselipkan petuah-petuah yang bagus juga untuk kita perhatikan).

Dan sepenggal lagi tentang drama percintaan yang begitu romantis dan mengharukan.

Berikut cuplikannya :

Memang banyak sekali hal-hal terjadi di dunia ini yang amat menyedihkan dan membingungkan manusia. Banyak terjadi hal-hal yang kelihatannya tidak adil. Namun sesungguhnya tidaklah demikian adanya. Semua peristiwa yang terjadi sudah menjadi kehendak Tuhan yang mengatur dengan sesempurna-sesempurnanya. Hanya karena semua itu menjadi rahasia besar, maka manusia tidak dapat menyelaminya dengan akal dan pikiran, sehingga bagi manusia kadang-kadang kelihatannya aneh dan janggal serta tidak adil.

Bagi pendapat umum, agaknya sudahlah sepatutnya kalau orang seperti Liu Lu Sian setelah tua hidup menderita oleh karena ia memetik buah daripada semua perbuatannya sendiri di waktu ia masih muda. Masih muda menjadi hamba nafsu, setelah tua timbul sesal dan duka. Akan tetapi bagaimanakah dengan Kim-mo Taisu? Mengapa ia selalu hidup merana dan sengsara?

Bukankah dia seorang pendekar besar, seorang yang berbudi baik? Mengapa ia pun mengalami hidup menderita di waktu tua? Memang sudah semestinya begitulah! Dunia ini berputar oleh dua sifat yang bertentangan dan saling dorong, saling menghidupkan. Ada terang ada gelap, ada panas ada dingin! Sudah semestinya begitu.

Yang menderita karena gelap, yang menderita karena panas atau dingin! Bahagialah mereka yang tidak menderita karena terang atau gelap, karena panas atau dingin. Mereka inilah sesungguhnya manusia yang sudah sadar dan dapat menyesuaikan diri dengan segala peristiwa yang menimpa dirinya karena maklum bahwa semua itu adalah kehendak Tuhan!

Segala peristiwa yang sudah semestinya terjadi di dunia ini, terjadilah sesuai dengan rencana-Nya dan kehendak-Nya. Tiada kekuasaan lain di dunia yang mampu mengubahnya. Peristiwa pun terjadilah. Tidak ada susah atau senang. Susah atau senang merupakan hasil tanggapan si manusia yang menghadapinya.

Manusia bijaksana dan sadar akan menerima penuh kesadaran dan kesenangan, baik peristiwa itu menguntungkan maupun merugikan dirinya. Sebaliknya, orang yang belum sadar akan menerimanya dengan sorak-sorai kesenangan atau tangis keluh kedukaan. Penerimaan macam inilah yang akan membentuk akibat-akibat dan perbuatan-perbuatan yang tiada berkeputusan, membentuk lingkaran-lingkaran. Karma yang makin kuat membelenggu manusia.

Kim-mo Taisu bukanlah seorang bodoh, akan tetapi ia seorang yang lemah. Peristiwa-peristiwa yang menimpa dirinya diterimanya dengan perasaan hancur dan menyebabkan ia menanam bibit kebencian dan dendam yang mendalam terhadap musuh-musuh keluarga isterinya. Kematian isterinya dan puterinya membuat pendekar ini hanya mempunyai satu cita-cita di dalam hatinya, yaitu membalas dendam dan membasmi musuh-musuh keluarga isterinya.

Mulailah ia merantau dan mulai saat itu, nama Kim-mo Taisu menjadi terkenal sebagai seorang yang sepak terjangnya menakutkan. Para tokoh yang merasa pernah bermusuhan dengan Kerajaan Tang, yang pernah bermusuhan dengan Kong Lo Sengjin atau Sin-jiu Couw Pa Ong diam-diam men yembunyikan diri, takut bertemu dengan Kim-mo Taisu yang amat hebat ilmu kepandaiannya itu

Bu Song juga terpukul hatinya oleh peristiwa kematian Eng Eng. Akan tetapi ia seorang muda yang kuat menderita. Agaknya karena banyak menderita semenjak kecil, membuat hatinya menjadi kuat dan kebal. Tidak mudah ia runtuh semangat. Agaknya karena tubuh sehat batin kuat inilah yang membuat Bu Song dapat melakukan perjalanan cepat dengan penuh gairah hidup. Matanya yang tadinya redup sayu mulai bersinar-sinar lagi, kedua kakinya melangkah lebar.

======= xxxxxxx =========

Eng Eng meramkan mata, keningnya berkerut-kerut. Jelas bahwa ia menderita nyeri hebat yang ditahan-tahannya, kemudian ia membuka lagi matanya dan kini bulu matanya basah. “koko… tiada harapan lagi…”

Seakan-akan terhenti detik jantung Bu Song dan ia mereka-reka arti yang lain untuk kalimat itu. “… apa… apa maksudmu…?”

Kembali Eng Eng meramkan mata dan ketika membukanya lagi, kini beberapa butir air mata mengalir turun. Ia menggeleng kepala. “Sakit semua rasa tubuhku… Song-ko. Kepalaku… ah, serasa dipukul-pukul dari dalam… dadaku… serasa terbakar dan akan pecah… oh…”

“Eng-moi…!” Bu Song mendekap kepala itu, mengelus-elusnya seakan-akan ia hendak mengusir rasa nyeri di kepala dengan usapan dan hendak mengoper rasa panas di dadanya sendiri. “Eng-moi, kau tentu akan selamat. Jangan khawatir, Moi-moi… aku akan membawamu pulang, aku akan…”

“Ssttt, diamlah… jangan bergerak, Koko… biarkan aku menikmati pelukanmu seperti ini untuk terakhir kali…! Song-koko, kau… kau… girangkah dijodohkan dengan aku…?”

Makin perih hati Bu Song, seakan-akan kini ditusuk-tusuk jarum. Ia menahan air mata yang hendak runtuh, lalu menundukkan muka menempelkan pipinya pada pipi Eng Eng, berbisik di telinganya, “Tentu saja, kekasihku, tentu saja aku girang sekali…, karena itu kau harus sembuh, kau harus sembuh, kau harus selamat, kelak kita… menikah…”

Naik sedu sedan di dada Eng Eng dan hal ini agaknya amat menimbulkan nyeri sehingga ia meramkan matanya kembali. Ketika ia membuka matanya, air matanya makin deras mengalir akan tetapi mulutnya tersenyum. “Song-ko…” Tangannya diangkat lemah, meraba-raba dan membelai dagu Bu Song yang agak berlekuk, “… mengapa kau… girang berjodoh denganku? Apakah kau… cinta padaku…?”

“Eng-moi…!” Bu Song teringat akan bisikan gadis itu ketika dalam keadaan setengah sadar tadi, bisikan pengakuan cinta. “Kau masih bertanya lagi? Aku cinta kepadamu, Eng-moi. Aku mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku…”

“Koko…, kasihan kau…” Eng Eng merangkul leher itu dan mereka bertangisan. Bu Song tak dapat menahan diri lagi, air matanya bercucuran, bercampur dengan air mata Eng Eng di pipi gadis itu yang ia coba mengeringkannya dengan ciumannya. Air mata yang bercampur dengan air mata Eng Eng di pipi gadis itu yang ia coba mengeringkannya dengan ciumannya. Air mata yang bercampur darah yang masih mengalir keluar dari hidung. Bu Song tidak peduli, ia menghisap air mata dan darah itu.

“Kasihan kau, Koko…, karena aku… aku tidak akan hidup lagi…” “Eng-moi…! Jangan berkata begitu…. Moi-moi, kau tidak… kau tidak akan… ah, kau akan hidup bersamaku…”

Jari-jari tangan Eng Eng menjelajahi muka pemuda itu, mengelus rambutnya seakan-akan ia hendak menggunakan saat terakhir untuk mengenal lebih dekat wajah pemuda yang sejak dahulu telah menguasai rasa kasihnya, yang dahulu hanya dapat ia pandang dan kenang saja.

“Aku tahu, Koko… aku terluka dalam hebat sekali… dalam dada… darah mengalir di dadaku, juga di kepalaku… tiada guna…, aku akan mati… dalam pelukanmu.”

“Moi-moi!” Kini Bu Song menangis tersedu-sedu sambil mendekap gadis itu. “kau tidak akan mati! Kalau kau mati, aku pun ingin mati di sampingmu!” Eng Eng tersenyum mendengar ini dan kini air mata Bu Song yang membanjir turun itu memasuki bibirnya yang terbuka, menimbulkan rasa segar pada kerongkongannya yang serasa panas terbakar. Tiba-tiba Eng Eng mendapatkan tenaganya kembali dan ia menolak muka Bu Song, lalu ia bangkit duduk.

Bu Song tentu saja menjadi girang sekali. “Moi-moi, kau sembuh! Kuambilkan air, ya? Biar kumasak air agar air hangat-hangat dapat menyegarkan tubuhmu. Lalu kita mencari jalan naik, jangan khawatir, aku masih sanggup menggendongmu ke atas. Kita pulang!”

Eng Eng tersenyum akan tetapi menggeleng kepalanya, lalu tangannya menepuk tanah di dekatnya memberi isyarat kepada Bu Song untuk duduk di dekatnya.

“Kau.. kau sanggulkan rambutku….,” katanya. Biarpun kelihatannya gadis ini bertenaga kembali, namun suaranya tersendat-sendat dan sukar keluarnya, Bu Song cepat melakukan perintah ini. Jari-jari tangannya menggetarkan kasih sayang mesra ketika ia berusaha menyanggul rambut panjang halus itu sedapat mungkin. Akan tetapi pekerjaan ini sukar sekali ia laksanakan. Jari-jari tangannya menggigil. Tubuhnya sendiri terasa sakit-sakit, ditambah rasa haru dan khawatir membuat air matanya bercucuran. Matanya menjadi kabur dan beberapa kali ia mendekap dan menciumi gadis itu dengan hati hancur.

Eng Eng balas memeluk dan bahkan gadis inilah yang mengeluarkan kata-kata hiburan, kata-kata lemah yang berbisik-bisik hampir tak terdengar. “Diamlah… Koko, diamlah… kausanggulkan rambutku… biar rapi…”

Bu Song berusaha membesarkan hatinya, akan tetapi bagaimana ia dapat menahan isak tangisnya ketika ia menyanggul rambut itu melihat betapa kepala Eng Eng penuh darah yang mulai membeku? Namun akhirnya berhasil juga ia menyanggul rambut gadis itu. “Koko… aku… aku ingin…” Ia berhenti sukar sekali melanjutkan kata-katanya. Bu Song menempelkan telinga di dekat bibir yang sudah pucat itu. “Apa, Moi-moi kau ingin apa?”

“Ah, aku… aku malu… hik…” Bu Song memeluknya. “Katakanlah, kau mau apa, Moi-moi…”

“…hemmm…? … aku… aku ingin… sekarang menikah denganmu.” Lalu disambungnya perlahan sekali, “aku ingin… mati sebagai istrimu…”

“Eng-moi…!” Bu Song tak kuat menahan tangisnya. “Koko, jangan menangis. Maukah kau…? Maukah kau…?”

Bu Song tak dapat menjawab, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan air matanya bercucuran membasahi mukanya. Hampir pemuda ini pingsan saking perih dan sakit rasa hatinya.

“Mari kita bersumpah, Koko, marilah…”

Terpaksa Bu Song menuruti permintaan Eng Eng. Dengan susah payah ia menggandeng gadis itu, diajak berlutut sambil berpegang tangan, berlutut seperti sepasang pengantin bersembahyang! Untuk menyenangkan hati gadis itu Bu Song berkata keras-keras,

“Langit dan bumi menjadi saksi! Saat ini kami, Kam Bu Song dan Kwee Eng, menjadi suami isteri, sehidup semati…!”

Eng Eng tertawa, tertawa malu-malu dan ketika Bu Song menolehnya, gadis itu merangkulnya dengan wajah penuh bahagia. Eng Eng menyembunyikan mukanya di dada Bu Song, akan tetapi pada saat itu pula nyawanya telah melayang meninggalkan raganya! Tadinya Bu Song tidak tahu, baru setelah ia merasa betapa tubuh gadis itu lemas sekali, ia mengangkat dan tahu bahwa kekasihnya itu tak bernyawa lagi.

“Eng-moi…!!” Ia menjerit, mendekap dan roboh pingsan sambil memeluk Eng Eng.

Pukulan batin yang diderita Kim-mo Taisu ketika ia mendapatkan muridnya pingsan di samping puterinya, membuat pendekar ini seketika menjadi seorang yang seperti hilang semangat. Rambutnya seketika menjadi putih semua, wajahnya kerut-merut dan pandang matanya sayu seperti lampu kehabisan minyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: