Kosong

Melanjutkan tulisan tentang Kho Ping Hoo, berikut adalah cuplikan dialog antara suhu dan teecu, guru dan murid. Diambil dari cerita silat serial Bu Kek Siansu – Suling Mas :

“ADA muncul dari TIADA,

betapa mungkin mencari sumber TIADA!

Mengapa cari ujung sebuah mangkok?

Mengapa cari titik awal akhir sebuah bola?

Akhirnya semua itu kosong hampa,

Sesungguhnya tidak ada apa-apa!”

Sampai tiga kali Kim-mo Taisu mengulang nyanyian ini, diiringi suara suling Bu Song yang merayu-rayu. Kemudian ia diam dan keadaan menjadi sunyi, sunyi hening dan gaib.

Kim-mo Taisu memejamkan matanya. Dua butir air mata menempel di atas pipi. Napasnya tenang dan wajahnya tersenyum, seperti orang yang merasa puas dan lega. Tadinya Bu Song kaget melihat dua butir air mata, akan tetapi hatinya lega melihat wajah yang tenang tenteram itu.

“Bu Song, dengarlah baik-baik,” katanya, suaranya lirih sehingga Bu Song mendekat dan duduk bersila di atas lantai, di bawah gurunya. “Ada muncul dari tiada, akan tetapi tiada itu sendiri adalah suatu keadaan, karenanya, tiada juga muncul dari ada. Maka jangan salah duga, muridku, dan jangan salah laku. Mencari sesuatu dalam arti kata mengejar-ngejar, berarti mencari kekosongan. Segala sesuatu tercipta atau terjadi karena dua kekuatan Im dan Yang di alam semesta ini, yang saling tolak, saling tarik, saling isi-mengisi.

Segala sesuatu yang ada dan yang tidak ada dalam pengertian manusia, terjadi oleh Im Yang ini, kemudian segala sesuatu di alam semesta ini saling berkait, saling mempengaruhi sehingga tidak mungkin lagi dipisah-pisahkan. Tidak ada yang paling penting dan tidak ada yang paling tidak penting, tidak ada yang paling tinggi ataupun paling rendah. Semua itu tali-temali dan kait-mengkait, seperti hukum Ngo-heng (Lima Anasir), Kayu, Api, Tanah, Logam, Air, saling mempengaruhi, saling membasmi juga saling menghidupkan, karenanya berputar dan terus berputar merupakan bibir mangkok. Tidak ada ujungnya dan tidak ada pangkalnya, tiada awal tiada akhir, sekali saja terganggu akan menjadi rusak sebentar dan mengakibatkan kekacauan, menjatuhkan korban, baru dapat pulih kembali, kait-mengait, berputar-putar.

Semua sudah sewajarnya dan sudah semestinya begitu, jadi tidak perlu dianehkan atau diherankan lagi. Semua itu kosong, lahirmu, hidupmu, sepak terjangmu, susahmu, senangmu, matimu. Semua itu kosong dan hampa belaka karena memang sudah semestinya begitu, sudah wajar, sehingga pengorbanan perasaan dan pikiran itu sia-sia dan kosong belaka. Karena sesungguhnya yang disusah-senangi, ditawa-tangisi manusia, itu bukan apa-apa. Kosong hampa dan sesungguhnya tidak ada apa-apa! Mengertikah engkau, Bu Song?”

Dengan terus terang Bu Song menjawab, “Terlalu dalam untuk teecu, Suhu. Teecu kurang mengerti.”

Kim-mo Taisu tersenyum dan membuka matanya. Sepasang matanya memancarkan sinar aneh dan tajam sekali, bening dan penuh pengertian. “Tidak aneh, Bu Song. Memang kau masih terlalu muda untuk mudah menangkap semua itu, sungguhpun engkau sudah banyak dijadikan permainan perasaan dan jasmanimu sendiri. Nah, contohnya begini. Seorang ibu kematian anaknya yang terkasih. Apakah yang aneh dalam peristiwa ini? Tidak aneh. Anak itu terlahir, tentu saja bisa mati karena sakit atau karena sebab lain. Jadi tidak aneh, dan sewajarnyalah kalau seseorang yang dilahirkan itu akan mati, cepat atau lambat. Kuulangi lagi. Seorang ibu kematian anaknya yang terkasih. Peristiwa wajar, bukan? Kejadian itu wajar, semestinya, tidak ada sifat suka maupun duka. Sang ibu berduka, menangis dan tersiksa hatinya, merana dan merasa sengsara. Inilah yang tidak wajar!”

Bu Song kaget, terheran, jelas membayang di wajahnya. “Mengapa kukatakan tidak wajar? Memang, karena semua ibu bersikap demikian, bagi umum hal ini adalah wajar. Namun bagi hukum alam tidaklah wajar karena tidak ada kaitannya sama sekali antara dua peristiwa itu. Disusah-senangi, atau ditawa-tangisi, peristiwa kematian itu tidaklah berubah karena tidak ada pertaliannya! Sang ibu berduka sampai jatuh sakit paru-parunya. Nah, ini wajar, karena duka itu ada hubungannya dengan paru-paru, keduanya termasuk kekuasaan Im. Karena hukum kait-mengait, tali-temali inilah maka timbul bermacam peristiwa di dunia ini, semua wajar dan semestinya. Yang tidak semestinya, yang tidak wajar, mendatangkan kekacauan dan karenanya menimbulkan hal-hal lain sehingga meluas sampai menimbulkan perang, menjadikan wabah penyakit, menimbulkan bencana alam dan lain-lain karena perputarannya tidak selaras.

Maka, kalau semua manusia dapat menempatkan diri masing-masing selaras dengan kehendak alam, kalau manusia dapat menyesuaikan diri dengan segala apa yang dihadapinya, menyesuaikan diri dengan segala apa yang diperbuatnya, dengan kehendak alam, maka kekuatan Im dan Yang akan berimbang, perputaran Ngo-heng akan sempurna, dunia akan tenteram dan aman.”

Sampai lama keadaan menjadi hening. Akhirnya Bu Song berkata, “Maafkan teecu, Suhu. Teecu yang masih bodoh hanya dapat menangkap secara samar-samar saja. Namun, menurut pendapat teecu, justeru menyesuaikan diri dengan kehendak alam itulah yang hanya mudah dibayangkan sukar dilaksanakan. Manusia sudah terlanjur menganggap wajar dan benar akan sesuatu yang sudah dilakukan dan dibenarkan banyak orang, sudah menjadi kebiasaan umum!

Daun telinga wanita menurut kehendak alam tidak ada lubangnya, akan tetapi oleh manusia dilubangi untuk tempat perhiasan telinga. Ini sudah wajar dan benar menurut pendapat umum sehingga kalau ada wanita yang daun telinganya tidak dilubangi, dia ditertawai dan dianggap menyeleweng dari kebenaran umum. Pula, manusia terikat oleh wajib, terikat oleh hal-hal yang menyangkut kemanusiaan. Betapa dapat melepaskan diri daripada kemanusiaan, Suhu? Manusia dikurniai akal budi untuk dipergunakan. Maaf kalau kata-kata teecu keliru.”

“Tidak, kau tidak keliru. Memang semua ucapanku tadi hanya dapat diterima oleh getaran perasaan. Memang manusia mempunyai wajib, yaitu wajib ikhtiar. Dan kau memang betul bahwa sukar bagi kita untuk melepaskan diri daripada kemanusiaan. Kalau tidak, tentu kita akan dicap sebagai seorang gila karena menyeleweng daripada kebiasaan umum. Kurasa cukuplah Bu Song, kelak kau akan mengerti sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: