Singapura

Membandingkan antara Singapura dengan Indonesia serasa tidak sepadan. Singapura hanyalah negara pulau yang kecil sedangkan Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang begitu luas dengan lebar seperlapan keliling dunia. Jumlah penduduk jangan juga disetarakan. Indonesia dengan penduduk 200 juta lebih, jauh lebih besar dibanding dengan Singapura yang hanya dalam hitungan jutaan.

Namun ketika perbandingan dihadapkan pada perekonomian, GDP, kemajuan, kedisiplinan dan kemoderenan, rasanya kita jauh tertinggal. Atau karena badan kita yang besar sehingga gerak kita lamban sedangkan Singa dengan tubuh yang ramping gerakannya menjadi gesit ? Tidak juga. Atau karena faktor historis sehingga kita yang dijajah oleh bangsa penjajah seperti Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang mewariskan mental budaya bangsa yang lemah dan rendah diri ?

Tidak juga. Negara tetanggga kita lainnya yaitu Malaysia, sekarang telah menjelma menjadi negara yang tangguh juga dengan landasan yang kuat. Kita ingat pada tahun 70-an mahasiswa mereka begitu banyak menimba ilmu di negri kita, dan sekarang berbalik arah. Ibarat pertumbuhan bayi, kita tumbuhnya sangat lambat karena kurang memperoleh curahan kasih sayang dan limpahan gizi yang seimbang.

Kembali ke negri Singa. Saat memanfaatkan fasilitas MRT disana, saya sempat berfikir, bisa nggak ya seandainya di Jakarta ada MRT akan seperti di sini. Masyarakat pengguna dengan tertib mengikuti semua petunjuk dan tata tertib, kebersihan begitu terjaga, kerapian dan skedul lalu lintas kereta terlaksana dengan baik sehingga memudahkan masyarakat dalam mengatur rencana. Masyarakat menjadi tidak segan naik kereta karena dapat menyesuaikan dengan jadwal serta ada kepastian. Sementara kalau kita di Jakarta, naik bus atau kereta sama halnya dengan menikmati ketidak nyamanan. Debu, sesak, panas, copet dan ndak pasti adalah sebuah kepastian. Jangan heran akhirnya lebih nyaman pake mobil pribadi (bagi yang punya). Akhirnya, infrastruktur jalan yang sudah terbatas, disesaki oleh berjubelnya kendaraan pribadi dan angkutan umum. Dan terciptalah kemacetan sepanjang hari.

Ketika jalan-jalan di Orchard, saya membayangkan alangkah indahnya bila hal serupa dapat disediakan pula oleh pemerintah Jakarta ataupun Bandung. Fasilitas umum bagi pejalan kaki serta kebersihan yang selalu terjaga membuat suasana jalan-jalan terasa nyaman. Berbanding terbalik dengan bila jalan-jalan di Jakarta, trotoar yang sudah sempit sebagian ”difungsikan’ oleh pedagang kaki lima sehingga ruang yang tersisa hanya bisa untuk berjalan sambil miring .. he he he …

Saat nyebrang dari Batam ke Singa, memang begitu terasa perbedaannya. Dari cara kru pabean bekerja sampai suasana dan kelengkapan fasilitas harbour yang langsung terhubung ke MRT, menunjukan jelas kelasnya. Tidak heran sampai dengan saat ini Singapura masih merupakan magnet bagi para pelancong. Saya terus terang baru kali ketiga nyebrang ke sana dan rasanya telah cukup memperoleh teladan.

Banyak hal-hal lain yang bisa kita teladani dari negri tetangga. Tentu saja kalau kita mau. Namun lebih daripada itu saya tetap mencintai tanah kelahiran dan merindukannya selalu. Harapan tentu saja ada agar bangsa kita juga menjadi maju dan nyaman. Masak sich .. sudah sekian lama dijajah, sampai sekarang kita ”menderita” terus. Betul nggak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: