Musibah dan Sikap Kita

Bagaimana menyikapi diri ketika menghadapi suatu musibah ataupun hal-hal yang kita anggap merupakan malapetaka ?

Jawabannya sangat beragam tergantung dari berbagai sudut pandang dan orang yang mengungkapkannya, baik sang pelaku maupun yang berdiri diluar masalah. Namun secara umum dapat ditengarai hal-hal sebagai berikut :

1.      Ridho

2.      Muhasabah – Mawas Diri

3.      Mencari dan melakukan solusi

4.      Berserah diri

Ridho

Ridho, sebuah kata yang mudah diucapkan dan dinasehatkan kepada orang lain, tetapi ketika mengalami sendiri seakan-akan kata tersebut susah untuk diterima. Bagaimana tidak, saat mengalami musibah, sebagian besar dari kita tentu akan sungguh serasa menderita. Bahwa seolah-olah diri kita sendirilah di dunia ini yang menderita. Seakan kita terperosok dalam penderitaan, sementara orang lain dapat tersenyum dan tertawa.

Adakalanya dalam penderitaan, terbesit tuduhan akan ketidak adilan Tuhan. Kenapa Allah menimpakan musibah atau derita ini kepada saya ? Sedangkan, perasaan kita selalu beribadah dengan tekun, terus selalu berusaha untuk menjadi orang baik. Lalu mengapa Tuhan menimpakan derita kepada kita, tidak kepada orang yang benar-benar menjadi pendusta agama. Sungguh tidak adil Tuhan.

Yah … memang itulah manusia. Mudah untuk berkeluh kesah dikala susah, namun begitu bahagia dan kelapangan diperoleh maka lupalah akan nikmat yang Tuhan telah berikan.

Kunci pertama dari menghadapi musibah adalah sikap kita menerima segalanya. Semua adalah kehendak Allah semata. Semua telah menjadi skenario Yang Maha Kuasa. Tidak ada kebetulan di dunia ini. Kaum Sufi bahkan akan tersenyum dan berucap Alhamdulillah manakala menerima musibah.

Sebab pada hakekatnya, musibah dapat merupakan kifarat yang akan dapat menghapuskan dosa-dosa kita bila kita menerimanya dengan ridho dan berprasangka baik kepada Allah. Musibah, seperti kata orang bijak, juga pasti ada hikmah di situ. Musibah adalah jalan memperoleh manfaat.

Jadi menerima musibah dengan ridho kepada Allah adalah satu-satunya tindakan yang benar. Bukan hujatan, tangisan ataupun cacian yang kita lakukan ketika menerima musibah itu. Sungguh sulit memang, tapi itulah yang harus kita punyai.

Muhasabah

Mawas diri atau instropeksi adalah hal yang kita lakukan kemudian. Melihat diri memang merupakan hal yang sulit bagi manusia yang dikarunia egoisme. Memandang kesalahan diri sendiri untuk kemudian mengakuinya adalah sikap yang sulit untuk dilakukan. Kebanyakan orang, pekerjaannya adalah mengembalakan “kambing hitam”. Alias, bila terjadi suatu kesalahan, kambing hitamlah yang dikedepankan.

Sikap instropeksi dengan merunut, merenung dan kemudian menyimpulkan sesuatu atas keterlibatan diri dalam suatu masalah, harusnya menjadi bagian dari kehidupan kita. Sungguh indah dunia bila kata maaf, baik minta maupun memberi, selalu hadir dalam keseharian setiap orang. Dengan berkaca diri, kesalahan akan menjadi terang dan mudah untuk dipecahkan.

Yakinlah bahwa manusia adalah gudangnya alpa dan dosa. Yakinlah bahwa kita adalah manusia. Sehingga siapapun kita, apapun jabatan, harta yang melekat pada kita, pasti kita pernah melakukan suatu kesalahan. Tidak berarti pejabat kedudukannya pasti lebih tinggi dari rakyat jelata ataupun guru harus lebih pandai dari pada murid, strata kita adalah sama yaitu sebagai manusia.

Manakala bayang di kaca sudah terlihat dengan jelas, sadarilah bahwa itulah kenyataan yang ada. Bukan rekayasa atau bias semata. Bayang itulah diri kita sebenarnya, dan jangan salahkan kaca bila ternyata bayangan kita menampilkan si buruk rupa.

Pertanyaannya : Apakah hitam wajah kita dalam cermin menjadi penyebab musibah ini ?

Carilah Solusi dan Serahkan hasilnya kepada Allah

Sebagai makhluk yang berakal, manusia diberi karunia untuk melakukan usaha berdasarkan hasil pikirannya. Pengalaman dan pengetahuan tentang kehidupan adalah tools untuk menyempurnakan solusi. Pandangan orang lain merupakan alat tambahan.

Alternatif pilihan solusi mungkin akan cukup banyak. Kewajiban dari kitalah untuk memilih yang tepat dan terbaik (menurut pandangan kita). Bila telah merasa yakin dan kemudian dengan mengucap Bismillah, maka solusi harus dijalankan dengan upaya yang bersungguh-sungguh.

Jangan berpikirlah terlalu jauh akan hasil. Berpikirlah yang lebih maksimal akan usaha yang dilakukan. Apapun hasilnya harus kita serahkan kepada Sang Pemutus. Baik bagi kita ataupun tidak baik bagi kita, semua sudah menjadi urusan Allah. Pasrah diri setelah melakukan upaya adalah jalan yang tepat. Memang begitulah seharusnya.

Tags: , , , ,

No Responses to “Musibah dan Sikap Kita”

  1. rivafauziah Says:

    Berpikir dan Pertindak apa adanya. Tidak Muluk2 (jawa = Terlalu tinggi angan2 dan cita2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: