Cinta Monyet (1)

Cinta Monyet sering diartikan sebagai cinta anak kecil yang belum seharusnya bercinta. Bisa juga disebut sebagai cinta anak di bawah umur. Sebenarnya sih belum dapat disebut sebagai cinta karena memang nggak ada cinta disana. Yang ada biasanya adalah sebatas ketertarikan antara pria dan wanita karena sikap dan tutur katanya, atau karena bentuk fisiknya, atau mungkin karena kesamaan kesenangan. Kebersamaan dua bocah berlawanan jenis tersebut biasanya terus akan menimbulkan imajinasi dan khayalan yang berlebihan. Apalagi bila kemudian didukung oleh lingkungan tempat bergaulnya serta pengetahuan serta terutama bahan bacaannya. Sering dahulu bila dua bocah yang lagi asyik ngobrol, kemudian teman-temannya memasangkan mereka sebagai pasangan (kalau sekarang istilahnya pacaran). Yang diledekin pura-pura marah, padahal sebenarnya sangat senang. Sebagian dari yang ngomporin itu mungkin ada juga yang merasa “cemburu” kenapa bukan dia yang diledekin he he he …. Dasar anak kecil.

Dulu sewaktu saya masih di SD, tepatnya di Panca Arga Magelang sekitar tahun 70-an, rasanya hal seperti itu pernah terjadi. Oke … saya ceritakan saja seingat saya yang berkaitan dengan “perasaan lain pada teman berlainan jenis” dan cerita-cerita lucu.

Karena tinggal di kompleks tentara maka penghuninya sangat heterogen. Nyaris dari setiap suku bangsa di Indonesia ada wakilnya di sana. Termasuk di sekolah.

Yang saya ingat saya masuk SD tahun 74-an setelah menjalani masa TK selama dua tahun (istilahnya TK kecil dan TK besar). Hebatnya .. (sedikit ge er nih) saya waktu itu berangkat sendiri ke sekolah tanpa ada yang mengantar pada hari pertama masuk kelas. Berdiri dengan rapi di luar kelas dan kemudian masuk kelas sambil di absen. Banyak diantara teman-teman sebagian besar ditunggguin oleh orang tuanya. Dan saya waktu itu dengan sedikit takut dan malu mencoba untuk berjuang sendiri. Rasanya di kelas satu ini nggak ada kejadian aneh dan lucu yang saya ingat (maklum sudah begitu lama sih ..).

Nah giliran ketika kelas dua, ada beberapa kejadian yang membekas yang masih saya ingat. Menimpa pada seorang teman, kebetulan orang tuanya dari Sunda dan nama anaknya kalau nggak salah Yayah Sonayah. Saya sudah lupa bagaimana raut wajahnya, tapi yang saya ingat hanyalah saat dia menangis di dalam kelas karena ngompol (maaf Yayah semoga saya nggak salah ingat …). Dan yang saya kenang lagi ketika ada pelajaran yang harus menyebutkan nama gunung di Jawa, maka dengan lugunya si Dia mengucapkan Merpapi untuk gunung Merapi. Dan ketika dibetulkan pengucapannya sama guru si Dia tetap saja mengucapkan merpapi. Sampai akhirnya gurunya menyerah dan membiarkannya. Mungkin karena sebelah Merapi ada gunung Merbabu jadi pasangannya Merpapi kali ya …..

Dan satu lagi adalah pelajaran membaca. Dulu buku nggak ganti-ganti. Makanya buku kakak masih bisa di pakai sama adiknya. Nggak kayak sekarang. Nah pada saat pelajaran membaca ada satu kalimat yang murid disuruh mengulang, yaitu “Palupi lupa”. Pada saat seorang murid disuruh mengulang kalimat tersebut, maka dengan mantab dan keras dia mengucapkan : “ Palupi lupalupi”. Kalau tidak keliru si Yayah lagi … tapi saya tidak pasti kalau dia … (curiga aja ya .. Yayah …)

Selama sekolah di SD Panca Arga IV itu, rasanya saya selalu jadi anak yang baik. Nilai rapot baik-baik semua dan ngak pernah ada yang merah dan Nggak pernah mbolos kecuali ….. Nah inilah hebatnya Muhammad Ali. Lho apa hubungannya mbolos dengan Muhammad Ali ? Waktu itu kalau nggak salah saya kelas dua dan kebetulan ada pertandingan tinju yang disiarkan langsung pada pagi hari di TVRI. Saya lupa siapa lawan Muhammad Ali, namun karena saya terpengaruh dari obrolan orang dewasa, maka saya memutuskan untuk nonton di rumah dan mbolos sekolah. Bilangnya sih sama orang tua, kalau di kelas di suruh pulang.

Sampai di rumah sudah penuh ruangan tengah oleh para tetanggga dan tentara-tentara anak buah Bapak yang juga di ungsikan ke rumah untuk nonton pertandingan tersebut. Maklum teve masih jarang, mungkin di komplek hanya satu dua orang saja yang punya, dan kebetulan di rumah dikaruniai sebuah teve hitam putih 14 inchi. Rumah rame oleh teriakan-teriakan para penontonnya dan sayapun mengikutinya meskipun belum tahu tentang tinju. Yang penting nanti dapat cerita kalau saya nonton dan tahu hasil akhirnya. Dan akibatnya saya mbolos sehari. Tapi anehnya besok harinya guru nggak nanyain saya kenapa kemarin nggak masuk sekolah. (kali dia nonton juga ya … he he he ..)

Kejadian yang terekam dalam benak saya masih soal perngompolan. Kalau nggak salah waktu itu kelas tiga. Saya lupa siapa yang ngompol waktu itu, tetapi momentnya adalah saat baris setelah istirahat sebelum masuk kelas. Kali dia sudah kebelet tapi belum sempat ke WC keburu lonceng tanda masuk terdengar. Jelas saja dia nangis karena diketawaiin sama teman-temannya.

Terus mana cerita tentang cinta monyet ?

Tunggu lagi saya inget-inget (sambil senyam senyum membayangkannya)

to be continued

No Responses to “Cinta Monyet (1)”

  1. djundu Says:

    monyetnya cinta??
    jadi ikut inget, waktu itu kelas 2 SD, ada yang ngompol.. namanya Yanti, anaknya Jenderal… depan sekolah..

    dulu kelasnya masih yang berdinding kayu, terus dirubuhkan untuk tanaman pepaya… dan satu lagi be;lakang warung, disisakan untuk Aula, tempat main.. kalau sekarang mungkin jadi gedung KARTINI…

    dan aku adalah…

    sd panca arga 1, th 70-76 (mungkin)
    smp 1 76-79
    sma 1 79-82

    salam kenal,
    biar lebih ingat..
    mas Prabu ini.. putranya siapa ya..??
    saya dulu di jl. Kacapiring no. 3

    salut

    wassalam,

    djundu ROSANTO
    putra ke 4 dari SAROSO BERHARSANTO
    nama adikku Fitrot Agung Pribadi

  2. prabu Says:

    Salam kenal kembali Mas djundu ROSANTO
    Saya lulus SD tahun 80 jadi kayaknya, saya lebih muda beberapa tahun. Mungkin kalau dengan kakak-kakak saya, salah satunya pernah ketemu atau mungkin malah kenal. Saya kebetulan anak ke-7 dari 9 bersaudara. Maklum Bapak Ibu ikut KB alias Kerep Bayen.
    Nama Bapak adalah Soewardi, terakhir tinggal di Jalan Utama No 35

    matur nuwun

  3. Rachmad Priyatmo Says:

    Salam kenal,
    Aku jadi inget waktu masih di Panca Arga, dulu akun juga di SD Panca Arga, rumahku persis di depan sekolah, jadi deket sekali.
    Aku lulus SD tahun 65, terus SMP di SMP 2 sebentar karena pindah ke Jakarta sampai sekarang, malah sudah mau pensiun.
    Tapi temen2 eks Panca Arga di Jakarta masih suka kumpul, jadi sering bernostalgia. Banyak temen2 di Panca Arga yang sudah jadi orang2 top.

  4. prabu Says:

    Kemarin waktu ada reuni AMPA di Bandung pada malam tahun baru di Pusenif ikut nggak Pak Rahmad ?
    Mungkin Pak Rahmad tahu ada blog atau web site punya orang-orang PA yang eksis ?

  5. Rachmad P Says:

    Terima kasih atas responsenya dan salam kenal.
    Kalau tahu mungkin saya datang karena anak saya kuliah di Bandung. Di Jakarta saya juga suka ketinggalan info, 2 minggu yg lalu ada kumpul2 di Pondok Indah saya juga nggak ikut. Blog yang eksis kurang tahu. Saya tinggal di Bekasi tapi kerja di Karawang.
    Tapi di Jakarta yang biasa mengkordinir Mas Harry Purnomo, anaknya Pak R Soeprapto mantan Gubernur DKI (di AMN beliau dulu Dan Men Taruna).

  6. Wahyu Wijonarko (Koko) Says:

    Mas Prabu…membaca surat sampeyan itu kok saya yakin kalau sampeyan pernah sekelas sama saya di SD IV Panca Arga ya…tapi yang mana kok tak bayangin gak nangkep-nangkep…Sama Mas Djundo diatas saya kenal baik sama adiknya yang bernama Fitrot Agung Pribadi, lha saya malah hilang kontak jeh sama mereka…Baguslah kita masih bisa ketemu di dunia maya ini…Salam buat temen-temen Panca Arga ya…dan Buat Mas Djundo kalau baca email saya tolong kasih tahu kontak Adiknya…makasih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: