Cinta Monyet (2)

Ketertarikan saya pada lawan jenis, pertama kali tertuju pada teman sekelas. Anaknya yang jelas perempuan, putih dan berbadan agak besar. Dia punya seorang kakak laki-laki selisih satu tahun. Jadi terhitung kakak kelas gitu. Kalau nggak salah asal orang tuanya dari Manado sehingga nama-namanyapun berbau Manado pula. Nama kakak beradik itu Mike dan Yance. Saya lupa nama fam-nya. Kalu ingat tentu akan saya cari di Manado dulu sewaktu saya tinggal di Manado. Tentu saja kalau orangnya ada di sana he hehe ….

Sekarang saya heran juga. Sewaktu SD saya ingat sama Yayah yang asli Sunda dan sekarang saya dapat istri orang Sunda. Dan saya juga kenal sama si Mike yang asal Manado, ternyata dikemudian hari saya sempat tinggal di Manado selama empat tahun lebih. Kebetulan kali ya … Ah nggak ada yang namanya kebetulan, semua sudah di atur oleh Tuhan.

Ketertarikan saya kepada Mike hanya sekedar ketertarikan pergaulan ala anak-anak karena teman-teman selalu menjodohkan Mike dengan Rosyid sehingga sering saya singkat waktu itu menjadi Mikro alias Mike-Rosyid. Saya sebenarnya hanya “cemburu” saja, kenapa bukan saya yang dijodohkan sama dia. Padahal saya kan lebih gedhe, lebih pinter, lebih terkenal lebih ganteng lagi. Ehmmmm (ge er nih).

Coba bayangin sejak kelas lima saya sudah diangkat sebagai bintang kelas, mewakili sekolah bersama SD Panca Arga lainnya dalam event cerdas cermat, event paduan suara dan lainnya. Bahkan sempat dipanggil ke Jakarta untuk dipertemukan dengan Pak M Yusuf sebagai bintang pelajar bersama para bintang lainya dibawah yayasan keluarga ABRI waktu itu. Lagian saya juga paling gemar membaca sehingga pernah diberi hadiah “Nobel” paling sering membaca (meminjam) di Perpustakaan Sekolah disaksikan seluruh siswa SD Panca Arga 1-4. Hadiahnya peralatan tulis, lumayanlah. Mungkin waktu itu saya pemalu kali ya….

Eh .. bicara perpustakaan Sekolah, saya waktu itu sempat dekat juga lho sama Mbak-mbak yang nungguin perpustakaan. Orangnya sudah dewasa, manis dan putih, namanya Lupa karena dia sudah gedhe jadi nggak level dong dengan saya yang masih anak kecil. Perpustakaan di sana adalah perpustakaan untuk empat SD dilingkungan SD Panca Arga. Pada masa itu koleksinya terbilang lengkap dengan buku-buku cerita yang beraneka ragam dan majalah-majalah baru seperti Kuncung, Bobo, Hai, Kawanku de el el. Saya paling rajin meminjam meskipun untuk meminjam harus membayar. Jangankan majalah atau cerita anak-anak, lha wong Kho Ping Hoo pada masa itu sudah menjadi materi bacaan saya kok. Pokoknya semua bacaan kakak-kakak yang sudah gedhe ikut juga menjadi bacaan saya, termasuk juga majalah-majalah remaja pada waktu itu.

Berhubung saya dianggap agak pintar waktu itu (ehmmm), maka ketika oleh guru disuruh belajar kelompok untuk menghadapi ujian, akupun jadi rebutan untuk ikut bersama group yang dibentuk. Termasuk beberapa anak perempuan mengajakku untuk bergabung. Tapi sekarang aku ingat-ingat siapa saja mereka kok sudah lupa sama sekali ya ? Masalahnya mungkin nggak ada kejadian yang berkesan, alias biasa-biasa saja.

Dan pengalaman yang agak “syahdu” adalah ketika aku dipanggil ke Jakarta menghadap Pak M Yusuf waktu itu. Masing-masing SD diwakili oleh satu orang murid dan saya termasuk diantara empat orang siswa dan empat guru. Kebetulan wakil dari salah satu SD ada yang perempuan. Wajahnya sudah lupa, pokoknya manislah. Kalau nggak salah namanya Henni. Yang saya ingat adalah orang tua Henni memiliki warung dekat bunderan komplek dan setiap hari saya harus melaluinya untuk menuju ke sekolah.

Dan kebetulan aku diberi tempat duduk disebelahnya di bis yang menuju ke Jakarta pada waktu malam hari. Namanya anak kecil, begitu bis berangkat setelah makan malam ya terus langsung tidur. Antara sadar dan nggak sadar aku tidur sambil bersandar di bahu si Henni tadi. Nggak tahu dia sudah tidur atau belum, yang jelas aku bersandar cukup lama sebelum “dipisahkan” sama guru di dekat tempat duduk kami. Untung ya waktu itu aku nggak ngiler … he he he …

Sampai di Jakartapun setelah acara resmi diangsungkan, kami di ajak ke Ancol untuk berpiknik bersama. Sudah lupalah waktu itu ada apa saja di sana. Kalau nggak salah waktu itu sekitar tahun delapan puluh. Yang aku masih ingat adalah bahwa kami sekeluarga sedang bersiap-siap untuk pindah ke Klaten ke rumah warisan Simbah di sana. Maklum Bapak sudah pensiun beberapa lama.

Dan sehabis itu, putuslah hubungan saya dengan mantan teman-teman saya di SD. Termasuk dengan Mike dan Heni. Gimana ya kabar mereka sekarang. Mungkin sudah pada punya anak besar-besar.

Yah itulah yang masih saya ingat sepenggal kisah saat SD berhubungan dengan aktivitas pergaulan antara anak-anak termasuk rasa “greng” dengan lawan jenis. Tapi ini hanya cerita anak-anak lho, sekarangpun kalau diingat membuat tertawa sendiri bercampur malu.

Mungkin kalau cerita di SMP atau SMA akan lain ya ? Saya punya sih beberapa kisah sewaktu remaja menjelang dewasa itu. Bahkan beberapa nama masih ku ingat betul, termasuk orangnya. Nantilah kalau ada kemauan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: