Mainan masa kecil

Masa kecil dengan permainan adalah memang seharusnya. Anak kecil memang tugasnya hanya bermain. Kalaupun dia sudah bersekolah, maka sekolahnyapun sebenarnya adalah bagian dari permainan juga. Setelah bertambah umurnya, maka tentu saja akan semakin luas dalam berfikir. Kegiatan sekolah telah diembel-embeli dengan upaya untuk membuat pintar, mencari ilmu dan memperluas wawasan.

Begitupun saat masa kecilku. Masa sekolah di TK kemudian SD kerjanya memang hanya bermain. Sudah ada tanggung jawab yang diberikan orang tua memang untuk misalnya nyapu halaman dan membersihkan piring selesai makan. Namun adakalanya pada saat nyapu halaman dan tiba-tiba ada teman yang ngajak bermain, langsung saja sapu ditinggalkan. Yah memang habis itu pasti mendapat teguran dari orang tua. Begitupun setelah makan, adakalanya langsung aja ngacir keluar untuk main.

Namun setelah beranjak dewasa, akhirnya mulai timbul kesadaran bahwa didikan orang tua dengan memberikan tanggung jawab terhadap sesuatu, sangat bermanfaat di kemudian hari. Jiwa mandiri, suka bekerja dan sayang kepada saudara, di kehidupan selanjutnya sangat diperlukan. Pada saat itu dengan anak yang banyak, mana mungkin orang tua mengangkat pembantu. Semua dikerjakan sendiri oleh para anak dan Bapak Ibu berada dibarisan terdepan dengan memberikan teladan. Sikap atau pelajaran inilah yang membekas hingga sekarang sehingga ketika kami telah dewasa sadar bagaimana kita bersikap dan bertindak.

Permainan Anak Kompleks

Tapi yang akan saya tulis sekarang adalah permainan-permainan yang ada di lingkungan saat itu. Sebagai gambaran, saat itu sekitar tahun 70-80an dan uang jajan ke sekolah masih dikasih 5 rupiah yang sudah dapat jajan es dan makanan kecil ala anak kecil. Saya tinggal di kompleks Akabri di Magelang sehingga otomatis lingkungan main terbanyak adalah di kompleks bersama sesama anak kecil di kompleks juga. Tentu saja adakalanya main sampai menyeberang ke luar kompleks baik jalan maupun pakai sepeda.

Pemerintah dalam hal ini Akabri saat itu cukup banyak memperhatikan warganya. Relatif banyak tersedia sarana-sarana tempat bermain dan berolah raga. Dan jalan-jalan komplekspun cukup bagus untuk sekedar bermain dengan bersepeda. Disamping itu halaman rumah cukup luas juga untuk dapat dipakai sebagai tempat bermain. Memang sih … sesuatu hal yang wajar di lingkungan tentara, bahwa fasilitas dan penghormatan disesuaikan dengan pangkat seseorang di kedinasan. Begitu halnya dengan Bapak, kami sekeluarga sempat pindah rumah beberapa kali setiap Bapak naik pangkat. Kalau naik pangkat golongan tertentu, maka rumah dinasnyapun akan naik kelas. Rumah dinas Bintara tentu beda dengan rumah dinasnya para Perwira. Pasti rumah dinas perwira akan lebih besar dan luas.

Pada saat saya SD, Bapak terhitung sudah perwira makanya dapat jatah rumah dinas yang cukup besar dengan halaman yang lumayan. Saya ingat di pekarangan rumah ada dua pohon nangka dan pohon salam, bahkan disamping rumah waktu itu semapat ada kebon nanas dan beberapa pohon turi dan tebu. Dan bila saat itu lagi musim main bola volley maka tinggal dipasang net maka dengan menggunakan bola plastik sudah terjadi permainan yang ramai. Makanya tidak heran, halaman rumah dinas Bapak sering dijadikan ajang bermain anak-anak.

Memang namanya permainan di sana waktu itu tergantung musim. Ada musim main layang-layang, main kelereng, gambar, karet gelang, yoyo, gasing, petak umpet (benteng-bentengan), gobak sodor, egrang, long bumbung, kasti dll.

Titis dan Hoki

Saat musim permainan kelereng, gambar dan karet gelang tiba, maka saat itulah saya panen. Saya dikenal oleh anak-anak “seperjuangan” karena kalau main kelereng “titis” sekali. Titis tu artinya dapat menembak dengan tepat kelereng lawan meski kedudukannya cukup jauh jaraknya. Bisa dengan satu tangan atau dua tangan. Makanya lawan saya kebanyakan adalah anak-anak yang lebih besar, anak sebaya minggir denang sendirinya. Pernah satu kali, anak Kolonel di seberang rumah sampai bolak-balik datang ke halaman dan kembali ke rumahnya untuk mengambil sisa kelereng yang tersisa untuk bermain terus dan kebetulan dianya kalah melulu. Begitu kelereng di rumah habis, dia menyodorkan uang untuk membeli kelereng dari saya. Lima rupiah dapat sepuluh kelereng. Sampai berapa kali uangnya dikuras habis dan pulang dengan uang kosong dan tangan hampa. He he he …

Disamping itu, saya juga kadang heran, kenapa kalau permainan kelereng, gambar, karet gelang saya sering menang ? Pernah suatu kali juga, anak belakang rumah mengajak main karet gelang. Pada saat itu saya tidak mempunyai sebuahpun, dan dia dengan rela memberikan sepuluh karet gelang kepada saya sebagai modal permainan. Setelah selesai main, modal saya sepuluh biji karet tadi telah berkembang menjadi ribuan biji dan anak di belakang rumah tadi sampai bolak-balik juga ke rumahnya untuk mengambil miliknya yang akhirnya ludes. Nasib mujur kali ….

Saya masih ingat nama kedua anak tersebut, yang anak kolonel adalah Laksono sedangkan anak di belakang rumah adalah Nanok. Hallo semua …. masih ingat nggak, gimana kabarnya sekarang ?

Hasil Mainan

Makanya ketika suatu saat saya menghitung hasil permainan saya, bangga juga saya melihatnya. Ada ratusan kelereng tersimpan di kardus, untaian panjang karet gelang dan tumpukan gambar yang disimpan juga dalam kardus lain. Disamping itu saya juga memperoleh ribuan rupiah dari hasil penjualan bahan-bahan mainan. Kaya juga saya waktu itu ya ?

Namun biasanya musim mainan kembali berputar, setelah mulai bosan dengan mainan tertentu kemudian anak-anak memainkan yang lain. Egrang misalnya. Bila musim itu tiba maka order untuk membuat egrang kembali marak. Seperti halnya bila saat Ramadhan tiba, maka penjual bambu petung (bambu besar yang berkulit tebal) berdatangan untuk dijadikan sebagai pengisi waktu menunggu buka puasa. Nah kalau long bumbung istilahnya, ini adalah permainanan perorangan. Hanya suara yang diperoleh. Semakin besar dan keras suara, maka perasaan akan menjadi senang dan bangga.

Long bumbung adalah permainanan laksana meriam. Bambu dipotong seukuran meriam, kemudian dilubangi untuk diisi minyak tanah. Kemudian api disulut pada lubang itu dan saat minyak tanah sudah mulai panas maka akan keluar bunyi yang cukup keras. Dasar anak, pada saat main long bumbung ini alis saya sempat hilang terbakar sebagian. Tapi tetap aja nggak kapok-kapok ya ….

Banyak sebenarnya jenis permainan lainnya dan pengalaman yang menyertainya. Dan memang sudah berbeda jauh dengan jaman sekarang yang anak-anaknya kebanyakan bermain sendiri-sendiri di dalam rumah. Yah memang jaman sudah berubah ……

No Responses to “Mainan masa kecil”

  1. Aguk Zuhdi Says:

    Mas Prabu….di era yang anda ceritakan itu saya juga tinggal di Panca Arga, Saya pernah tinggal di blok G-27 dan move ke B-5. Mainanmu itu juga mainanku dulu. Sepertinya anda lebih titis dalam memainkan setin, ketimbang saya. Tapi saya juga pengkoleksi mainan seperti anda, dan saya juga termasuk penjual kelereng dan gambar. Saya tergolong pendiam, tetapi saya pernah melakukan kesalahan besar waktu kanak-kanak (di panca Arga). Pertama, saya mencuri getuk dan putil mbok Bon (bu Dullah), waktu sore hari ketika selesai main bola dilapangan SD (dengan memanjat tembok). Kedua, saya ambil mangga pak Harto (kepala sekolah) dengan tanpa ijin, dan ketahuan. Tentu saja saya tidak sendiri dalam pencurian tersebut. Kalau saya ingat saya selalu bertaubat kepada Allah, sepertinya sudah sangat sulit untuk bermohon maaf kepada orang-orang yang saya curangi tersebut.

    Mas Prabu, komplek tempat kita tinggal dulu sangat besar, jadi saya tak ingat bahkan namamu asing (mungkin kita beda umur) bagiku. Kemungkinan perbedaan umur kita agak banyak, sekitar diatas 5 tahun. Sepertinya lokasi rumahmu itu sangat mirip dengan lokasi rumahku, mungkin anda teman bermain adik-adikku.

    Tulisanmu pertama aku baca lewat milist yang saya langgan (Killer statement), hari ini saya mencoba telusuri sumber aslinya dan ternyata penulisnya anak sekomplek semasa kanak-kanaknya. Sungguh senang sekali dapat menulis di web page anda. Teriring salam kenal penuh rasa hormat selalu.

  2. prabu Says:

    Terima kasih Mas Aguk Zuhdi atas responnya
    Yah memang masa kecil memang tidak akan dapat kita lupakan
    Dan mungkin karena begitu banyak peristiwa dan sosok teman bermain, maka semuanya tidak dapat di rekam dengan baik
    Sayapun hanya teringat beberapa momentum dan teman yang paling menimbulkan kesan. Semuanya pasti tidak ingat alias dihapus dari memori otak yang memang berkapasitas terbatas
    Kalau nggak salah terakhir saya ikut Bapak tinggal di Panca Arga di Jl Utama nomor 35 adalah BlokG (lupa G berapa)
    Bahkan sebelumnyapun saya sudah nggak inggat apa-apa lagi karena mungkin masih belum lahir atau masih bayi he he he ..
    Lagian memang Bapak tinggal cukup lama di Pancaarga sehingga sebagian besar anak-anaknya lahir di Magelang
    Terima kasih sekali lagi saya ucapkan
    dan Salam Kenal kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: