Jalani hidup dengan senyum

Kelemahan ataupun kekurang fisik dan phsikis seseorang tidak seharusnya membuat orang menjadi rendah diri. Pada hakekatnya setiap manusia pasti memiliki kekurangan disamping kelebihannya. Adakalanya seseorang terlalu mengeksploitir kelemahannya sehingga seakan-akan dunia telah kiamat bagi dirinya. Tidak nampak bahwa kelemahan tersebut adalah gabungan dari kelebihan yang dipunyainya yang membentuk dia menjadi manusia seutuhnya.

Semua orang cenderung untuk selalu hidup “normal”. Melakoni hari-harinya melalui jalan yang mulus tanpa hambatan sesuai dengan segala rencana yang telah disusunnya. Siapa sih orang yang nggak ingin dalam hidupnya menjadi orang yang cukup harta, dikaruniai keluarga yang menentramkan hatinya dan diakui dalam masyarakat sekelilingnya. Harapan-harapan tersebut selalu tumbuh dan seakan menjadi tujuan hidup yang harus terpenuhi. Keinginan untuk hidup seperti itu tentu saja wajar dan memang merupakan fitrah dari makhluk yang bernama manusia. Segala aktivitas hidupnya diharapkan berjalan normal dan hidup pas-pasan itulah pedomannya (maksudnya pas butuh, pas ada).

Namun tentu saja Tuhan telah membuat skenario atas hidup manusia di dunia. Manusia di karuniai tubuh, akal pikiran dan perasaan yang dengannyalah mereka mengarungi hidup sehari-hari sampai ajal menjemput. Dan lagi masing-masing mempunyai hal yang berbeda terhadap potensi yang dimilikinya. Juga jalan tidak selalu mulus, kadang berlubang dan sering pula terhalang kerikil-kerikil dan batu-batu yang berserakan di jalan yang dilalui. Demikianlah ibarat kehidupan ini, suka duka, canda tawa dan tangis haru, sengsara bahagia, miskin kaya, adalah bagian yang selalu hadir melengkapi kiprah hidup seseorang.

Fisik cacat, semangat tetap membara

Ibarat sekolah, untuk naik ke jenjang kelas yang lebih tinggi, maka dilakukan ujian. Pada saat ujian inilah nasib murid ditentukan. Tetap di kelas tersebut karena tidak lulus ujian, atau melanjutkan ke kelas yang lebih tinggi karena lulus. Dan penerimaan akan hasil ujianpun beraneka ragam. Bagi yang lulus, selebrasi kelulusan ada yang berlebihan, biasa saja dan ada pula yang cukup tersenyum dan mengucapkan Alhamdulillah. Bagi yang belum lulus, ada yang histeris, menangis, meratapi nasib bahkan ada yang masih bisa tersenyum seraya mengucapkan “Insya Allah tahun depan bisa lulus”.

Gambaran itulah merupakan ragam sikap manusia dalam menghadapi suatu kejadian yang menimpanya, baik berwujud kesenangan maupun saat datangnya musibah.

Di perumahan kampung, ada seorang warga yang cukup istimewa. Dia sering dipanggil Ustadz karena mengajar anak-anak ngaji, kegiatannya sebagai anggota DKM masjid, suara tilawahnya cukup baik sehingga sering dipanggil untuk membaca Al Qur’an pada berbagai acara keagamaan dan acara selamatan. Dalam kehidupan kemasyarakatan, dia menjadi warga perumahan cukup lama, memiliki sebuah rumah mungil yang dilengkapi dengan sebuah warung sebagai tambahan penghasilan, kadang menerima perbaikan barang-barang elektronik dan tentu saja mempunyai sebuah keluarga yang harmonis.

Apa yang istimewa pada dirinya ? Anak istrinya normal fisiknya, namun dia dikaruniai bentuk badan yang tidak normal. Badannya kecil, tangan dan kakinya cacat, bengkok kecil dengan jari-jari yang tidak normal sehingga untuk berjalanpun agak kesusahan. Tapi yang dia lakukan ? Meskipun agak susah, dia selalu rajin pergi ke masjid, sering memenuhi undangan pengajian bahkan kadang naik kendaraan (meskipun harus memperoleh bantuan orang lain untuk naik ke kendaraan). Dan satu hal yang membuat saya kagum adalah beliau selalu tersenyum setiap kali bertemu dengan orang lain. Dan mengungkapkan kegembiraan dengan bercanda ringan setiap perjumpaan. Dalam perjalanan hidupnya selalu dipenuhi dengan semangat dan kegiatan yang bermanfaat. Memang saya tidak tahu bagaimana masa kecilnya dan saat menjalani remaja hingga memutuskan untuk berumah tangga.

Namun yang jelas sikap dan pandangan hidupnya penuh optimis, nyaris tidak ada keluh kesah keluar dari bibirnya. Yang selalu hadir dari mulutnya adalah kata-kata bijak penuh makna dan kata-kata memuji kebesaran Allah.

Sungguh Indah.

Hikmah Ludesnya Harta

Ada lagi satu warga yang perlu diteladani. Dahulu dia adalah pengusaha kontraktor sukses. Levelnya sudah nasional karena proyeknya sudah menasional dan kapitalnya mencapai milyaran rupiah. Pegawainya ratusan dengan proyek yang tersebar dimana-mana berukuran sedang maupun besar. Rumahnya ada di beberapa lokasi serta tanah-tanah kosong hasil dia membeli untuk berinvestasi.

Kehidupan malam akibat gaya hidup yang “menyesuaikan” dengan gaya hidup para pebisnis besar untuk menjamu sang pemberi kontrak, mengejar kontrak dengan upaya apa saja, serta penghamburan uang dalam dunia malam serta “tipu daya wanita”, adalah bagian hidupnya yang tidak terlewat. Ibaratnya percaturan bisnis adalah identik dengan dunia hiburan dan dunia malam yang penuh maksiat, serta berakhir dengan KKN.

Hingga suatu kali dia terperosok dalam kontrak besar yang membuat dia rugi besar. Harta benda habis ludes untuk menutupi segala utang akibat proyek tersebut. Yang tertinggal hanyalah istri dan anak-anaknya serta rumah kontrakan kecil. Beruntung anak dan istrinya masih menerimanya setelah sekian lama dicuekin.

Dia belajar dari musibah itu. Penyesalan hanyalah di awal, tidak berlanjut dengan sesal yang berkepanjangan dan mabuk-mabukan sebagai pelampiasan. Selanjutnya adalah perbaikan sikap dan perilaku melalui kedekatan dengan Ilahi. Meskipun mulai merangkak dari bawah lagi, namun semua dijalani dengan sikap menyerahkan semuanya kepada Allah semata. Meskipun sedikit setiap kali dia memperoleh rejeki maka langsung dipotong untuk zakat. Hal tersebut tidak dia lakukan saat jayanya.

Demikianlah, sikap kita dalam menjalani hidup adalah saat bagaimana kita menyikapi segala sesuatu yang menimpa kita. Baik atau buruk menurut persepsi kita, namun keyakinan bahwa segalanya adalah atas kehendak Allah maka senyum dan keyakinan akan selalu menghiasi langkah kita disertai dengan upaya untuk senantiasa berbuat sesuai dengan jalan Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: