Bapak, Anak, Keledai dan Kita

Melalui teve nasional terestrial acara infotainmen dalam satu hari dimunculkan selama sekitar 13 jam, atau lebih dari setengah hari. Dalam kurun 2002 hingga 2005 jumlah program infotainmen di teve swasta meningkat dari 24 episode per minggu (3 espisode per hari) menjadi 180 episode per minggu atau 26 episode per hari. Belum lagi kalau ditambah dengan media lain seperti radio dan media cetak.

Begitu getol dan bersemangat kita untuk mengetahui kehidupan para selebritis. Dari peristiwa yang biasa saja seperti pasangan, kelahiran, hobi sampai peristiwa yang heboh seperti perceraian dan pertentangan. Seakan berita tentang mereka menjadi kewajiban yang harus diketahui oleh seluruh masyarakat. Tidak peduli apakah itu merupakan aib ataupun sekedar informasi kehidupan sehari-hari saja. Tidak peduli apakah berita tersebut layak untuk dipublikasi atau warta yang sebenarnya merupakan rahasia yang harus dipendam. Semua Program berlomba-lomba untuk menampilkannya secara cepat dan terupdate untuk meraih pemirsa sebanyak-banyaknya.

Bahkan dibeberapa program acara ada yang menampilkannya secara live tentang misteri sang selebriti ketika timbul masalah yang heboh. Layaknya sebuah pertandingan olah raga yang disiarkan secara live, sang reporter memaparkan kondisi teranyar dari selibriti di depan rumahnya diselingi dengan gambar-gambar suasana sekitar.

Apapun kegiatan selebritis patut dan layak untuk disimak. Dan pemirsapun dengan serius menyimak dan kemudian memberikan komentar dan berdiskusi antar teman sejawat tentang berita tersebut. Layaknya diskusi panel dalam sebuah seminar, terjadi saling adu argumen tentang berita tersebut. Dilihat dari sisi sang selebriti, dipandang dari kacamata hukum dan dicermati dari sisi psikologi. Dan akhirnya disimpulkan dengan “suara tidak bulat” tentang kebenaran atau ketidakbenaran sang selebriti dan sikap yang harus dilakukan olehnya. Suara tidak bulat karena sebagian dari peserta diskusi masih menyimpan uneg-uneg dan akan menyampaikannya pada diskusi lain dengan peserta lain.

Semua kejadian yang menyangkut selebriti seakan wajib untuk diketahui, dimengerti dan dikomentari. Seperti cerita seorang Bapak dan Anak yang membeli seekor keledai.

Suatu hari seorang Bapak bersama dengan Anaknya membeli seekor keledai untuk dipelihara di rumahnya. Setelah transaksi terjadi dengan penjual keledai, maka dengan riang mereka menuntun keledai ke jalan menuju rumah. Karena kasihan kepada anaknya maka si Bapak menyuruh anaknya untuk menaiki keledai sementara si Bapak menuntun disamping.

Melewati sebuah perumahan ada sekumpulan orang-orang di jalan memandang Bapak dan Anak dan langsung timbul komentar beberapa warga tersebut : “Dasar anak nggak tahu diri, masak dia enak-enak naik di keledai sementara Bapaknya disuruh menuntunnya. Anak durhaka kali ya !”

Si bapak mendengar komentar tersebut dan selepas dari perumahan tadi maka dia menyuruh anaknya turun dan dia sendiri kemudian naik ke keledai tersebut.

Hingga tiba pada perumahan berikutnya dan kebetulan melalui ibu-ibu yang sedang membeli sayuran di muka rumah seorang warga. Sedang ramai tawar menawar harga sayuran dengan penjualnya, namun begitu bapak dan anak tersebut lewat, semua berhenti sejenak kemudian memandang mereka yang lewat. Kemudian salah satu ibu berbisik dengan keras kepada ibu disebelahnya : “Ih … dasar bapak nggak tahu diri ya, kayaknya sih suka menyiksa anak. Tuh lihat, masak dia sendiri enak-enak naik di keledai sementara anaknya sampai keringatan disuruh nuntun disebelahnya. Amit-amit deh punya suami kayak begitu !”

Si bapak mendengar komentar tersebut dan selepas dari perumahan tadi maka dia menghentikan sementara keledainya dan kemudian menyuruh anaknya untuk maju sedikit dan kemudian dia naik ke keledai. Akhirnya mereka berdua menaiki keledai hingga lewat suatu kampung di siang hari itu. Kebetulan mereka melewati sebuah rumah yang sedang melangsungkan hajat pernikahan. Suasana ramai dan banyak tamu dijalan yang akan memasuki rumah tersebut. Terlihat sepasang suami istri dengan seorang anak yang semuanya berbaju tradisional, mereka melihat bapak dan anak yang sedang menaiki keledai. Dengan wajah tidak senang kemudian si Ibu mengatakan kepada suami dan anaknya : “Mas … jangan seperti bapak di keledai itu ya. Coba lihat apa dia nggak punya peri kebinatangan, masak keledai yang kecil begitu dinaiki berdua dengan anaknya. Kan kasihan, hari panas begini tentu keledainya capek. Dan engkau Nak, perhatikan nasehat ibu ya. Kalau pergi sama bapakmu jangan seperti itu”.

Si bapak mendengar komentar tersebut dan selepas dari kampung tadi maka dia menghentikan keledainya dan kemudian menyuruh anaknya untuk turun dari keledai dan dia sendiri juga turun. Akhirnya mereka berdua berjalan di samping keledai tersebut menuju rumah. Hingga mendekati rumah, mereka melewati persawahan dimana dipinggir jalan kebetulan ada beberapa petani yang sedang beristirahat. Ketika telah melewati mereka, sayup-sayup terdengar komentar dari salah satu petani tersebut : “Huh … punya keledai nggak dimanfaatkan. Mungkin nggak bisa naik keledai kali ya. Keledai kan diciptakan oleh Tuhan untuk membantu kita para manusia. Mau nggangkat barang, nggangkat manusia, itu sudah tugas keledai. Dasar bapak anak yang nggak tahu apa-apa !”

Si Bapak tercenung (dan anaknya meringis …), apa yang harus dia perbuat agar semua yang dilakukan dinilai orang benar ? Apakah dia harus mengangkat keledai tersebut kemudian terbang menuju rumah ?

Demikianlah kisah Bapak, Anak dan Keledai. Dan Infotainmen, selebriti dan kita. Kesimpulannya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: