Ramadhan Anak-Anak di kampungku, sebuah kenangan

Sikap anak-anak dalam menyambut bulan Ramadhan tentu berbeda-beda. Sebagian merasa senang karena pada bulan itu banyak waktu berkumpul dengan teman-temannya. Yang pada bulan biasa mereka sudah dilarang keluar rumah setelah Maghrib, pada bulan Ramadhan diberi kesempatan oleh orang tuanya untuk keluar rumah melaksanakan sholat tarawih di masjid atau mushola. Karena banyak teman, maka suasana ramai selalu terdengar diselingi gelak dan canda. Bahkan kadang sering dibawa sampai saat sholat dimulai. Ustadz di mimbar berceramah, sementara anak-anak di belakang ngobrol sendiri. Yah … namanya juga anak-anak.

Belum lagi kalau sewaktu sholat dimulai. Sambil berdiri sholat, kadang di shaf belakang terdengar suara anak-annak yang cekikikan. Begitu setelah selesai sholat diperingatkan, besok lagi ya tetap saja sholat sambil towal-towel temannya. Yah …. Namanya juga anak-anak.

Begitupun masa kecil saya ketika tinggal di Magelang. Saat bulan Ramadhan pasti menyisakan kenangan indah ala anak kecil.

Bulan Puasa di Kompleks

Masjid di kompleks kebetulan agak jauh dari rumah. Sehingga aktivitas sholat di masjid biasanya yang diikuti hanya sholat tarawih. Bersama teman sebaya tetangga dekat, setelah berbuka puasa dengan semangat tentu akan segera menuju ke masjid dengan berjalan kaki. Meskipun cukup jauh tidak dirasakan karena disepanjang jalan banyak celoteh riang teman. Sholat Subuh-pun kadang kita sempatkan ke masjid, namun biasanya bersama kakak-kakak.

Simpan jajanan untuk buka puasa

Ada hal yang menggelikan yang sering terjadi pada saat puasa. Biasanya kami sering menyembunyikan makanan (jajanan) untuk berbuka puasa. Supaya tidak ketahuan sama kakak atau adik, maka jajanan kita simpan ditempat yang tersembunyi. Hingga pada saat buka puasa maka begitu bedug atau sirine tanda buka puasa terdengar, maka bergegas lansung rebutan minum kolak atau borjo (bubur kacang hijau) atau sesuatu yang manis yang disediakan oleh ibu. Adakalanya setelah itu langsung makan. Dan karena sudah kenyang, maka seringkali makanan yang kita simpan terlupakan. Beberapa hari kemudian ketika kita mau menyimpan jajanan yang lain, makanan yang kita simpan sebelumnya telah mengering. Mubazir deh hanya karena nafsu sesaat. Padahal setelah kita buka puasa, sedikit makananpun akan memuaskan kita, tidak perlu macam-macam dan porsi besar. Ya …. dasar anak-anak

Suatu saat karena rebutan ingin berbuka puasa sambil berlari-lari ngak tahunya ada kucing yang sedang nangkring di jalan, terinjak dan lari ketakutan (atau kesakitan). Ibu marah kepada kita semua anak-anak, dan kitapun hanya bisa berdiam diri menyesali kesalahan. Padahal sebenarnya kucing yang keinjak tadi adalah kucing yang jinak sering dikeloni tidurnya oleh saya, dan karena terinjak dan ketakutan maka dia dalam beberapa hari nggak main ke rumah. Makanya kalau buka puasa yang sabar dan nggak perlu buru-buru he he he ….

Bicara soal binatang peliharaan, saya jadi ingat bahwa dulu paling hobi sekali sama ayam, kucing dan burung. Kucing tidur di kasur, asal bersih, pasti sudah dikelonin. Sampai suatu kali pernah ngelonin anak ayam, dan karena ketiduran, begitu bangun ternyata anak ayam sudah mati tertindih. Aduh kasian dech ….

Padusan menjelang Ramadhan

Ada suatu tradisi di Jawa yang dahulu sering kita lakukan, yaitu padusan menjelang Ramadhan. Padusan artinya ”mandi besar” menjelang akan melakukan puasa. Biasanya secara bersama-sama kita mencari tempat pemandian, pancuran atau kolam guna mandi. Dan oleh anak-anak kesempatan itu dimanfaatkan untuk mengunjungi tempat tertentu meskipun agak jauh untuk melaksanakan hal tersebut.

Tradisi itu mungkin baik untuk membersihkan diri menjelang melaksanakan ibadah puasa, meskipun sebenarnya bukan merupakan suatu sunnah.

Biasanya setelah padusan kita langsung cari buah-buahan segar seperti mangga muda, bengkoang, timun, pepaya untuk rujakan bersama-sama (istilah kita lotis). Gula jawa, asem jawa, cabe, trasi, garam adalah bumbu-bumbunya. Salah satu teman bawa cobek dan akhirnya makan rame-rame akan terasa nikmat direrindangan bawah pohon. Sungguh indah untuk dikenang.

Bermain dan bermain

Bulan puasa tidak menghentikan aktivitas bermain teman-teman. Hampir tiap hari suasana tempat bermain pasti penuh oleh anak-anak. Di pekarangan rumah, pada main engklek, gobak sodor, kelereng sampai lompat tali. Sementara kalau sudah menjelang sore, main layangan, main kasti sampai main sepak bolapun dilakukan. Tidak kenal capek meskipun sementara sedang puasa.

Yang khas dari bulan Ramadhan adalah mulai terdengarnya dari sore sampai malam hari suara long bumbung. Suara keras dari sebatang bambu yang disulut seperti meriam. Kalau di Jawa biasa menggunakan namanya pring pethung, sejenis bambu berdiameter besar dan berkulit keras.

Ternyata benar ya, sebenarnya Allah itu mewajibkan hambaNya untuk berpuasa telah disesuaikan dengan kemampuan tubuh manusia. Sehingga walaupun kita masih kecil waktu itu, dengan aktivitas bermain yang cukup melelahkan, ternyata kuat juga menjalani puasa. Makanya sungguh heran apabila melihat orang yang sehat baik anak-anak maupun dewasa, terlihat begitu menderita dalam menjalankan puasa. Pasti ada yang salah, atau karena memang niatnya kurang kuat sehingga seolah-olah seluruh tubuh merasa lelah.

Padahal saat kita menjalankan puasa, kegiatan sehari-hari yang tetap dijalankan dengan rutin seperti belajar, bermain dan bekerja akan terasa lebih enak. Dan kenikmatan yang tiada tara adalah ketika berbuka. Apalagi pada masa anak-anak ketika sambil menunggu berbuka, main bersama teman-temanya dengan gembira sehingga ketika saat berbuka sungguh nikmat terasa.

Yah memang saat teka dan SD kelas satu, saya disuruh ibu puasa hanya sampai bedug Dzuhur kemudian makan dan melanjutkan puasa sampai maghrib lagi. Dan itu berfungsi sebagai pembelajaran anak-anak. Sehingga setelah kelas dua akhirnya saya dapat puasa penuh tanpa satu haripun batal, meskipun setiap harinya nyaris selalu diluar rumah untuk bermain. Sebelum tahun delapan puluhan kan setiap bulan puasa anak sekolah diliburkan.

Masih banyak lagi sebenarnya cerita-cerita masa kecil dalam menjalani puasa. Tentu saja versi anak kecil.

Sewaktu pindah ke Klaten setelah lulus SD, suasananya pasti lain karena memang lain ladang lain belalang. Gimana ya ceritanya ?

No Responses to “Ramadhan Anak-Anak di kampungku, sebuah kenangan”

  1. jessika Says:

    hai slm kenal dari jessica,yangsering, nonton.kamunihaku,kangensamakamu.pinginketemu,kamuohiya.bisagaketemuan.besoksoredirumahku.jalancem paka,putih timurpatradua.nahsampaidisiniduluya.da,dahemawah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: