Pindahan

Di Klaten, suasana pedesaan sungguh terasa. Beda dengan di Panca Arga Magelang yang suasananya sedikit kota. Meskipun kalau keluar dari kompleks masuk ke desa tetanggga pasti ditemui suasana kampung. Namun sebagian besar tempat permainan adalah di dalam kompleks yang sudah cukup luas sehingga jarang sekali maen di kampung tetangga.

Klaten, kota masa depanku

Di Klaten, memang saya tinggal di kampung. Karena Bapak memang orang kampung. Rumah warisan kakek memang sungguh besar. Dengan bangunan khas Jawa yaitu berbentuk joglo, di dalam runmah yang cukup luas di bagi menjadi tiga bagian besar. Yaitu pendopo, ruang depan, ruang tengah dan ruang belakang. Masing-masing ruangan cukup luas dengan disangga oleh soko-soko dari kayu jati asli berumur ratusan tahun.

Kata Bapak, rumah sudah kosong dan tidak ditinggali lagi pada saat simbah putri meninggal dan kakak saya lahir tahun 1964. Jadi pada saat kami pindah ke Klaten, rumah dalam keadaan kosong selama 16 tahun ! Kalaupun dibersihin oleh saudara kami yang tinggal di kampung itu, paling-paling hanya di halaman depannya saja dan itupun tidak setiap hari. Di dalam rumah nyaris tidak mendapat perhatian karena katanya banyak ”penunggunya”. Tetangga-tetangga yang pernah masuk ke situ katanya sering melihat penampakan.

Beberapa kali saya sempat di ajak Bapak ke Klaten pada saat masih tinggal di Magelang. Sekali naik vespa bersama kakak saya. Capek rasanya naik bertiga dengan berbagi tempat duduk yang sempit. Namun namanya anak-anak ya enjoy aja karena bisa naik motor dan pesiar ke lain kota. Beberapa kali naik mobil dinas Bapak gess (bagaimana ya tulisan yang benar ?), mobil tentara bikinan Rusia, bersama keluarga dikemudikan oleh sopir Bapak. Duduk di belakang berhadap-hadapan kayak tentara maju ke medan perang he he he … Karena jalannya sering nggak enak dan suasananya panas, maka saya paling sering mabok. Dimaafkan saja karena waktu itu saya masih kecil.

Rumah yang besar, kuno dan menyeramkan

Sampai saat inipun saya masih kagum akan rumah warisan itu. Betapa tidak, sudah tidak ditempati sekian lama namun kondisinya masih bagus. Soko-soko penyangga rumah masih begitu kokoh berdiri, tembok-tembok yang tebal masih kuat menahan tubuh bangunan meskipun dibeberapa bagian ada timbul retak-retak. Meskipun sebagian lantai rumah masih beralaskan tanah, namun kondisinya masih kering dan padat. Sehingga perbaikan dan renovasi hanya dilakukan pada sebagian kecil saja dari bagian rumah.

Saya tidak mau menceritakan penampakan yang terjadi di rumah simbah. Karena itu adalah kata orang. Buktinya beberapa kali kami tidur di dalamnya, tidak terjadi penampakan apa-apa. Memang sungguh menakutkan suasana di dalam rumah pada malam hari. Hanya di temani oleh lampu teplok kecil, ruangan yang luas rasanya dingin sekali. Terlihat tiang-tiang penyangga rumah yang begitu kokoh menahan kayu dan genting di atasnya. Sebenarnya karena telah mendengar cerita-cerita yang menakutkan tentang rumah ini, perasaan jadi takut. Namun ternyata itu hanya sebuah perasaan yang dibumbui cerita-cerita menakutkan.

Hingga saat kami mempersiapkan untuk pindah rumah, maka kondisi rumah harus dibersihkan. Minimal layak untuk ditempati, dari ruangan-ruangan yang masih kelihatan kusam sampai dengan sumur yang harus di bersihkan dari kotoran-kotoran yang menumpuk. Ketika saya diajak naik ke genting bersama Bapak, saya menjadi terkejut sekali. Apa sebab ?  Terlihat diatas wuwungan genting, pohon-pohon tumbuh subur. Mungkin karena tidak pernah dibersihkan sehingga pohon-pohon liar tumbuh liar tak terkendali. Terpaksa akhirnya saya membantu Bapak mencabuti pohon-pohon di atas wuwungan genting rumah dan sekalian mengganti genting yang telah pecah dengan yang baru.

Rumah warisan simbah begitu luas. Rumah sudah luas, halaman belakang masih luas ditambah halaman depan cukup luas. Halaman belakang dibelah oleh sungai irigasi dan dibatasi oleh sungai alam. Banyak bertumbuh pohon-pohon bambu yang membuat suasana jadi adem dan basah. Sementara halaman depan dipenuhi oleh pohon-pohon tua seperti mangga, mlinjo dan kelapa.

Memang begitu memasuki wilayah rumah, serasa memasuki dunia lain.

Nyari Sekolah Favorit

Pada saat itu karena baru saja lulus dari SD di Magelang, maka sebelum resmi pindahan, saya bersama kakak dan diantar Bapak mencari sekolah di Klaten, kotanya. Saya mencari SMP, kakak mendaftar ke SMA. Masih gelap sekitar jam dua pagi, kami dibangunin oleh Bapak untuk segera ke kota Klaten guna antri mengambil formulir pendaftaran. Waktu itu di sekolah-sekolah favorit untuk ambil formulirpun harus berebut karena banyak peminat dan dibatasi jumlahnya. Sesampai di depan sekolah saya sempat bengong karena sudah banyak yang menggelar tikar di pintu gerbang sekolah. Dan akhirnya sayapun cangkruk di depan gerbang sambil nunggu pagi dan nunggu pintu gerbang di buka.

Yah itulah perjuangan awal saat mau menetap di kampung baru.

Namun alhamdulillah, ternyata perjuangan berbuah manis. Saya dan kakak diterima disekolah sesuai dengan harapan setelah melalui ujian penyaringan yang cukup ketat.

Dan akhirnya setelah semua urusan selesai, maka pindahlah kami sekeluarga dari kota yang melahirkanku menuju ke kampung masa depanku.

Perjuangan berikutnya adalah penyesuaian diri dengan lingkungan baik tetangga, sekolah maupun suasana kampung dan kota.

No Responses to “Pindahan”

  1. uyab Says:

    Klaten, endah edi peni sekeca kagem bapak remen ayem tentrem,sederhana. Klaten top abis, panjenengan klaten tlatah pundi pak?
    Kula saking ngawen pak, tempursari…

  2. prabu Says:

    Kula saking Wonosari, Trucuk. Menika lho margi ingkang badhe ka makamipun Ranggawarsito.
    Salam kenal, mugi remen ing penggalih

  3. koncling Says:

    taksih teng Klaten pak?

  4. prabu Says:

    Sakmeniko pun wonten mBandung
    Liburan kemawon Mas …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: