Ramadhan di kampung

Menjalani bulan puasa di kampung terasa lebih mengesankan. Sebenarnya aktivitas di siang hari tiada beda dengan aktivitas-aktivitas pada bukan bulan Puasa. Para petani tetap ke sawah sepanjang pagi sampai siang hari. Kegiatan, mencangkul, membajak tanah, membersihkan rumput, sampai menuai padi saat panen tetap dilakukan. Walaupun mereka agak membatasi diri agar jangan terlalu sampai kehausan. Puasa berlanjut namun kerja keras tetap, begitu prinsip lugu mereka.

Selama bulan puasa tidak ada lagi yang mengantarkan makanan ke sawah siang hari untuk melepas lelah. Pernahkah Anda merasakan makan siang di bawah rindang pohon pinggir sawah pada siang hari sehabis bekerja keras ? Wow …. nikmat sekali. Disertai dengan semilir angin dan terik mentari, makan di bawah rindang pohon di sekeliling bentang sawah, sungguh merupakan kenikmatan yang tiada tara. Ibarat makanannya cukup dengan nasi disertai urap dan sepotong tempe, seakan makanan pilihan para raja yang disantap. Bahkan mungkin terasa lebih nikmat. Sebab katanya, orang akan merasakan segala kenikmatan duniawi saat menikmatinya penuh dengan rasa syukur terhadap yang diberikan oleh Sang Pemberi Nikmat. Walau yang masuk diperut hanya hidangan sederhana, namun karena rasa lapar dan letih sudah terasa, hidangan yang lewat mulut dan kerongkongan seakan begitu mengundang selera. Toh sebenarnya rasa nikmat sangat dipengaruhi oleh suasana hati dan itupun hanya sebatas tenggorokan saja. Setelah lewat tenggorokan, apapun jenis makanannya dari yang murah sampai yang berharga mahal, sama saja tidak berasa.

Langgar dan Lagu Puji-pujian

Langgar, begitu orang kampung menyebut sebuah mushola atau masjid kecil. Langgar di kampung kami waktu itu hanyalah sebuah bangunan sederhana berukuran tidak seberapa besar dengan dinding yang tidak dihaluskan. Sangat sederhana memang. Untuk mengambil air wudlupun perlu berjalan agak jauh ke sumur dan harus menimba dulu untuk menuangkan air kedalam gentong tempat wudhu.

Oleh karenanya ada lagu puji-pujian (shalawatan) menjelang shalat dilaksanakan berisi hal tersebut. Kami biasanya menyanyikan lagu tersebut menjelang qomad diperdengarkan.

Allahuma sholi ’ala Muhammad

Ya rabbi shali ’alaihi wasalim

He .. sadulur sakwise krungu adzan

Ojo podho ketungkul omong-omongan

Enggal-enggal menyang sumur nuli wudhu terus dandan

Mlebu langgar lakonono sesunatan

Sholat sunat ojo nganti ketinggalanan

Nunggu imam sinambi puji-pujian

Kalau di translate bebas ke bahasa Indonesia :

Hai … Saudaraku bila telah mendengar suara adzan

Jangan melanjutkan obrolanmu

Bersegeralah menuju sumur untuk wudhu dan berbenah

Masuk langgar lakukanlah ibadah sunat

Sholat sunat jangan sampai ketinggalan (tahiyatul masjid, rawatib)

Menunggu imam seraya menyanyikan shalawatan

Tidak hanya lagu itu yang sampai sekarang masih saya hafal, bahkan lagu Tombo Ati yang dipopulerkan oleh Emha dan Opick, sudah lama menjadi tradisi di kampung-kampung di Jawa sebagai bentuk dari sholawatan atau lagu puji-pujian. Kata-katanya ada beberapa versi, namun sebenarnya intinya sama. Dan melodinyapun hampir serupa di setiap kampung.

Tombo ati iku limo perkarane

Ingkang dhihin (sing kesiji) moco quran sakmanane

Kapindhone sholat wengi lakonono

Kapin telu dzikir wengi ingkang suwe

Kaping papat wetengiro luwihono

Kaping limo wong kang sholeh kumpulono

Sopo wonge sawiji biso nglakoni

Insya Allahi ta’ala nyembadani

Tarawih dan Modin keliling

Sholat tarawih biasanya selalu memenuhi mushola hingga ke pekarangan. Dan imam serta pemberi ceramahpun dilakukan oleh kita dan antar kita. Artinya dijadwal bergilir bagi siapa saja yang sudah layak dan bisa untuk tampil kemuka. Namun dari pihak kelurahan, biasanyapun telah menyiapkan beberapa Ustadz dan Modin untuk mengisi jadwal. Di desa kami ada tujuh dukuh (desa : RW, dukuh : RT), rata-rata dua atau tiga kali diisi oleh ustadz tamu.

Sayapun setelah masuk SMA dan sebagai orang “terpelajar”, diberi kesempatan untuk belajar tampil memberi ceramah. Agak susah memang karena harus menggunakan bahasa Jawa halus, sehingga kadang-kadang akhirnya terpaksa dicampur aduk dengan bahasa Indonesia karena tidak sempat memikirkan padanan kata dalam bahasa halusnya. Sebagai informasi, bahwa pada masyarakat Jawa dikenal tiga tingkatan dalam berbahasa yaitu ngoko, kromo alus dan kromo inggil. Kalau nggak salah, ngoko dipakai untuk pembicaraan antar sebaya,antar anak dengan anak misalnya. Kromo alus dipakai kalau kita berbicara dengan orang yang lebih tua dan kromo inggil dipakai untuk para junjungan (semoga saya nggak salah).

Lagian karena jemaah biasanya sangat heterogen antara orang tua, anak-anak dan remaja, sehingga kadang susah untuk mencari bahasan yang sesuai dengan cita rasa dan daya tangkap semua jemaah. Di tambah lagi orang-orang tuapun ada yang sempat mengenyam pendidikan, namun ada juga yang sama sekali tidak pernah sekolah. Jadi ramelah rasanya.

Ada salah satu Modin yang selalu rajin mengisi kegiatan ramadhan di desa. Setiap malam dengan bersepeda, sesuai jadwal maka dia pasti mengunjungi masing-masing langgar di desa. Yang khas dari beliau adalah cengkokan saat melafadzkan al-fatihah pada akhir ayat dan seperti kebanyakan orang Jawa melafazdkan ‘A’ (Ain) dengan ‘Ng’.

Road to Pengajian

Biasanya menjelang peringatan Nuzulul Qur’an, banyak masjid di kampung sebelah ataupun kampung jauh mengadakan peringatan hari besar tersebut. Nah pada saat itulah, kami para pemuda kampung paling bersemangat. Jarak yang cukup jauhpun pada malam hari tetap dijalani dengan menggunakan sepeda. Sehingga rombongan sepeda sering lewat dijalan dan pematang sawah menuju tempat pengajian tersebut.

Sahur dengan orkes kentongan

Capek tidak dirasakan, karena banyak teman dan canda tawa sepanjang jalan. Ketika selesai dari pengajianpun, biasanya kita sepakat untuk tidur bersama dirumah salah satu orang untuk kemudian bangun untuk membangunkan orang yang akan sahur.

Bekalnya adalah bebrapa kentongan dengan nada yang berbeda-beda, sehingga ketika dibunyikan layaknya alat musik padu yang cukup enak didengar. Sambil membunyikan kentongan dan meneriakkan kata-kata sahur, maka berkelilinglah kita di jalan-jalan desa.

“Sahur pakde, sahur mbokde”

“Tangi sahur Lik Poniyem”

Kadang ada yang nakal sambil meneriakan :

“Sahur Lik, wis sing kelonan dirampungi dhisik”

“Tangi tangi, sahur, wis Yu ngganggo klambi sik, kademan mengko”

Yah begitulah beberapa nostalgia puasa jaman dulu ..

Ada cerita yang asyik lagi nggak ya ¿

Sebenarnya sih masih banyak ….

No Responses to “Ramadhan di kampung”

  1. @li Says:

    mas ada gak yang khusus gendeng manthous tanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: