Obrolan masalah perut

A : Untuk apak sampeyan makan ?

B : Agar perut yang lapar menjadi terisi dan kenyang, agar manusia tidak kelaparan karena makanan merupakan sumber kekuatan bagi tubuh untuk selalu bergerak dan terus bergerak.

A : Makan untuk mulut atau untuk perut ?

B : Ya jelas untuk perut no. Lha wong yang lapar tu perut, yang melilit saat lapar tu usus di perut, yang bunyi keroncongan kalau lapar tu juga ada di perut. Sedangkan mulut kan hanya untuk numpang lewat saja.

A : Seandainya sampeyan saya kasih dua pilihan nih. Ada dua paha ayam goreng, satu paha ayam nggak dikasih bumbu apa-apa, begitu ayamnya disembelih kemudian pahanya dipotong, langsung masuk wajan. Sementara paha yang lainnya, sebelum digoreng dikasih bumbu macem-macem sehingga begitu tersentuh minyak panas tercium aroma yang mengundang selera.

Sampeyan pilih yang mana ¿

B : Sampeyan ini bodoh, gendeng apa nggak pernah makan sekolahan to. Lha wong ngasih pertanyaan kok kayak begitu, jawabannya kan sudah jelas to. Lha mbok yang agak intelek sedikit tho mas … mas …

A : Lho ini juga intelek Mas, cuma sekarang belum nyampe sasaran, bertahap dong, kata wong Diwek step by step. Nyebar godhong koro, Mas. Sing sabar sauntoro.

Ayo sampeyan pilih paha yang mana ¿

B : Ya sudah … selaku orang normal saya tentu memilih paha yang mulus … eh maksud saya paha ayam yang dibumbui.

A : Seandainya yang ada cuma paha yang satu yang nggak dibumbui, sampeyan mau ¿

B : Kalau nggak ada yang lain, ya mau saja

A : Meskipun hambar …

B : Ya nggak apa-apa … yang penting wareg alias kenyang

A : Sebentar .. jadi sampeyan makan itu untuk kenyang apa dalam rangka mencari kenikmatan

B : Dua-duanya no, ya kenyang tapi yang enak

A : Kalau dipilih salah satu, kenyang tapi nggak enak atau nggak kenyang tapi nggak enak ¿

B : Sampeyan ki kalau ngasih pilihan ya yang bener saja no. Masak begitu. Pertanyaan sampeyan itu idenetik dengan pilihan : Mau pilih jodoh yang kaya, cantik, pintar dan soleha apa jodoh yang jelek, miskin dan kafir lagi.

A : He he he …. Iya saya ulang. Jadi sebenarnya yang butuh makan itu : mulut sampeyan atau perut sampeyan ?

B : Ya sebenarnya sih yang butuh perut saya mas, tapi kan untuk mengundang selera butuh mulut, mas ?

A : Oke, kesimpulan pertama adalah bahwa yang butuh makan adalah perut, mulut hanya sekedar melalukan dan sebelum masuk tenggorokan terciptalah rasa yang akan menimbulkan selera. Namun setelah masuk kerongkongan semua makanan tidak ada rasanya, semua sama yang diambil adalah sari pati makanan yang diperlukan oleh tubuh.

Saya dulu pernah makan nggak pake mulut lho Mas ! Sewaktu mulut saya sakit bekas ditabrak motor, dokter akhirnya nyogok hidung saya untuk dimasuki selang hingga ke kerongkongan. Campuran telur dan madu yang dikocok kemudian di masukan melalui selang menuju perut melalui selang tersebut. Rasanya di kerongkong cuma dingin, nggak ada tu rasa manis ataupun amis. Yang ada di perut tinggal adem dan kenyang. Gitu … mas

B : Yah memang begitu Mas. Sekarang ini orang cenderung mencari yang bukan esensinya. Kalau soal makanan, yang dicari adalah rasa lezatnya, aroma yang membetot nafsu makan yang berlebihan, ataupun bentuk makanan yang akan disantap. Semua hanya dibatasi dari pandangan mata sampai kerongkongan saja. Hitung saja mas, kalau sebuah makanan yang begitu mahal, tertata dengan indah dalam baki emas dan dihidangkan oleh pelayan yang cantik manis, maka rasa nikmatnya hanyalah sesaat saja. Dan hasilnya sama dengan makanan yang lain, singkong misalnya yang hanya direbus dan di hidangkan dalam alas daun pisang dipinggir jalan.

A : Itu baru soal rasa yang dikecap oleh lidah lho mas. Belum kalau bicara panca indra yang lain seperti cita rasa harum penciuman, indah pandangan, merdu suara, halus raba rasa.

Tapi justru itulah sekarang yang dijadikan sebagai komoditas bagi hingar bingar dan gemerlap dunia.

B : Memang Mas, seperti sekarang ini. Dengan puasa sebenarnya kita mampu untuk mengendalikan semua itu. Istilahnya, jangankan yang haram yang memang harus kita hindari untuk dilakukan, yang halalpun yang boleh kita lakukan setiap saat, pada bulan ramadhan ini harus tetap kita kendalikan.

Sebenarnya kita mampu melakukan itu semua ya Mas, namun kelemahan dan kekurangan kita dari dulu adalah sama yaitu tidak konsisten alias istiqomah.

Seandainya pengendalian diri dilakukan setiap saat, tidak hanya pada bulan Ramadhan, Insya Allah orang Indonesia pada baik-baik semua Mas … dan Allah-pun niscaya akan senang dan senantiasa akan melimpahkan berkah dan nikmatnya kepada kita semua

Begitu kan Mas …

A : Inggih Mas … saestu kados mekaten. Namung kulo badhe tanglet … sakmeniko sampeyan taksih shiam punopo mboten, sebab kulo tingali kadosipun mboten kepanggih sampeyan wonten masjid kala wau dalu rikala tarawih lan sholat subuh ¿

B : Oh …. anu mas … Niki … anu … niku lho boyok kulo niki kumat, dados kulo mboten saget niku … nopo … sujud kaliyan rukuk. Lan sak meniko …. mboten ngartos niki kok dumadakan sakit mag kulo kumat kadosipin …….

Aduh … nyuwun sewu nggih kulo wangsul rumiyin … perut kulo mboten sekeco puniko

A : (Huh Dasar Mas B .. Mas B …..)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: