Gosip maning … gosip maning

Pagi itu suasana Minggu pagi di beranda rumah Mas Pras adem ayem. Mas Pras duduk santai sambil membaca berita di Koran pagi. Sementara Mbak Tika, sang istri tercinta, sambil tidur-tiduran tengah nonton televisi dengan acara favorit yaitu gossip artis.

Hari ini adalah memasuki hari ke empat bulan puasa. Setelah menjalankan sahur dan sholat Subuh, Ganden, putra dari pasangan Mas Pras dan Mbak Tika, memperkenankan diri untuk melanjutkan istirahat alias tidur lagi. Kalau hari libur, tidurnya menjadi tidak terkontrol. Terkadang bangunnyapun sampai menjelang siang hari. Mbak Tika memakluminya karena Ganden memang masih belum dewasa, masih kelas tiga SD. Sehingga Ganden sudah puasa penuh sekarangpun, Mbak Tika sudah merasa bersyukur. Walaupun puasa penuh harus pakai imbalan segala.

Imbalan bagaimana ? Sebelum bulan puasa tiba, maka diadakan perjanjian antara Ganden dengan orang tuanya. Ganden mau puasa bila dipenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Ganden mengajukan lima ribu rupiah setiap hari untuk puasa yang dijalani penuh, dan dibayarkan sewaktu menjelang tarawih !

Mbak Tika tersenyum bila mengenang perjanjian dengan anaknya tersebut. Dia tahu bahwa uang hasil upah berpuasa itu pasti dipakai untuk jajan. Namun yang menyenangkan hati Mbak Tika adalah bahwa jajannya itu pasti dipakai ramai-ramai bersama teman-temannya alias nraktir. Mbak Tika cukup bersyukur bahwa dia dikaruniai anak yang mempunyai sifat yang baik. Dia merasa bersyukur, keluarganya tinggal pada lingkungan yang baik. Tetangganya ramah-ramah dengan sifat kekeluargaannya yang tinggi. Memang tidak semua tetangga orang berpunya dan justru karena itulah sikap menghormati dan menyayangi terhadap sesama dapat tumbuh dan dikembangkan pada jiwa anak-anaknya, Ganden dan Elis.

Mas Pras masih asyik dengan koran paginya, sementara Mbak Tika sudah mulai terkantuk-kantuk antara mata untuk melihat dengan mata untuk dipejamkan saling betot-betotan.

Tiba-tiba samar-samar diantara mata yang nyaris terpejam, terdengar suaminya berkata :

Mas Pras : Lha mbok ya kalau sudah ngantuk, teve dimatiin saja terus tidur gitu lho. Masak mau tidur saja kok harus diiringi dengan berita-berita gosip artis-artis. Apa nanti bisa dibawa sampai mimpi si artis tersebut ? Kan lebih indah bila diiringi dengan merdu suara kalam ilahi atau lagu-lagu rohani, biar tidurnya enak dan siapa tahu dalam mimpi ketemu dengan Nabi. Pengin mana ketemu sama artis atau sama Nabi ?

Mbak Tika langsung hilang rasa kantuknya, begitu terdengar kata ”gosip” dan kata ”artis”

Mbak Tika : Peyek yo peyek mas, ning ojo diremet-remet. Ngenyek yo ngenyek Mas, ning ojo banget-banget.

Mas Pras : Enggak ngenyek Dik, Cuma aku tu heran ya, susah sekali kamu tuh untuk menghindar dari urusan acara-acara teve yang begituan. Khan sudah pada tahu bahwa konten acaranya itu-itu saja. Di pengajian khan sudah sering dibahas bahwa ngegosip itu dosa hukumnya, fitnah itu sangat dilarang, membicarakan orang lain itu tidak baik. Sudah jelas kan Dik !

Sambil manyun keluarlah penjelasan alasan

Mbak Tika : Ya sudah tahu lah … tapi kan dari segala peristiwa yang menimpa artis tersebut kita dapat mengambil hikmahnya. Juga ada lho artis yang pinter, tidak hanya cakep tapi juga pinter, memberikan nasehat-nasehat yang bermanfaat atau tips-tips dalam keseharian dan tentang kehidupan. Banyak juga lho artis-artis begitu islami, pake kerudung, pake pakaian koko dan kopiah haji. Dari mereka-mereka kan kita bisa mengambil hikmah pelajaran

Mas Pras : Yah memang Dik, kalau hal-hal baik dari manapun sumbernya, ya layak untuk kita teladani dan ambil hikmahnya. Masalahnya sebenarnya adalah kebanyakan atau hampir semua acara-acara teve kayak begitu, mengumbar kehidupan baik aib ataupun bukan, seorang publik figur. Seakan artis tersebut harus mengungkapkan semua rahasia dibalik semua tindakannya. Artis senang ditelanjangi kehidupannya sementara kita merasa senang akan ketelanjangan tersebut.

Mbak Tika : Jangan terlalu vulgar lah Mas. Masak sampai urusan telanjang-telanjang segala. Apalagi kan masih bulan puasa lho …

Mas Pras : Maksudnya adalah ….

Intinya sebenarnya bahwa acara kayak begitu adalah tidak layak untuk ditonton karena mengandung hal-hal yang tidak diperkenankan oleh agama kita. Membicarakan aib orang, bergunjing sampai dengan fitnah meskipun acaranya dibungkus dengan balutan-balutan yang menarik, tetap saja seharusnya kita jangan terpengaruh.

Lebih bermanfaat kan kalau kita nonton Quraish Shihab, atau lagu-lagulah yang menghibur. Atau lawakan, atau malah gambar kartun …

Atau kalau mata masih belum capek, bisa kita manfaatkan dengan membaca buku. Manfaatnya lebih jelas terasa daripada nonton yang begituan

Mbak Tika : Iya juga sih Mas, tapi kan nanti kalau di kantor atau di tempat lain, teman teman pada membicarakan masalah gosip tersebut, saya jadi ikut nimbrung meramaikannya. Malukan kalau saya bengong sendirian sementara yang lain sedang membahas masalah yang masih hangat-hangatnya

Mas Pras : Yah itulah kita. Harus bijaksanalah kita menyikapinya. Namun yang pokok adalah apakah kita harus mengikuti mayoritas bila mayoritas berbuat kesalahan ¿ Tentu tidak bukan. Saya yakin bahwa banyak komunitas lain yang masih dalam rel yang benar, menghindari untuk membicarakan yang tidak layak untuk dibicarakan, berdiskusi masalah keseharian atau tentang keimanan.

Jangan mudah terpengaruh dong dalam suatu lingkungan pergaulan. Kalau bisa malah mempengaruhi untuk hal-hal yang baik. Begitu ada indikasi pembicaraan mengarah kepada gosip, segera arahkan ke pembahasan lain tentang pekerjaan misalnya. Begitu Dik ..

Mbak Tika : Susah mas kalau begitu. Gosip itu ibarat sebuah makanan yang lezat. Baunya mengundang selera, rasanya mengundang nikmat.

Mas Pras : Sekarang gini saja Dik. Mau nggak kalau suatu kali Ibu mendengar bahwa tetanggga-tetangga sedang membicarakan keburukan-keburukan kita. Bahwa Mas Pras itu istrinya ada dimana-mana, kekayaanya hasil korupsi dan pekerjaan Tuyul. Mbak Tika itu pasang susuk di wajahnya sehingga masih kelihatan muda dan cantik. Mbak Tika itu pernah selingkuh sama bosnya di kantor. Berita tersebut sudah tersebar di tetangga-tetangga sehingga seolah-olah merupakan suatu kebenaran. Padahal hanyalah gosip yang berhembus.

Mbak Tika : Amit-amit mas kalau sampai begitu

Mas Pras : Itukan hanya ibaratnya Dik. Lagian kan Ibu pasti pernah mendengar di pengajian. Bahwa orang yang menggunjingkan sesamanya disebut ghibah, adalah laksana memakan bangkai saudaranya. Dosa mereka yang kita ghibah-i bisa diberikan kepada kita dan sebaliknya tentu akan mengurangi pahala-pahala kita.

Memang setan telah membungkus bangkai itu dengan kain yang indah dan berbau harum sehingga layak untuk dipegang dan dikagumi. Setan telah membungkus bangkai dengan nikmatnya mengetahui aib orang. Apakah kita mau menjadi pengikut setan ?

Mbak Tika : Ya sudah Mas ah .. mata ini sudah ngantuk pengin tidur nemenin Galang. Kasihan kalau ditinggal ….

Sudah ya …

Mas Pras : Yah … begitu deh. Setiap kali dikasih tahu, ujung-ujungnya pasti nikung. Mangga wae ari badhe kulem mah … tapi jangan lupa dicerna ya obrolan kita barusan

Mbak Tika : Lha iya lah suamiku yang baik …

Mau ikutan bobok nggak … mumpung hari libur sambil nunggu siang hari

Mas Pras : Ikut aja deh …..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: