Hedonisme

Mbak Tika : Mas, ngerti nggak uraian dari ustad di mushola tadi tentang nafsu ?

Mas Pras : Yah … ngerti-ngerti dikit lah dik. Kalau soal nafsu mah, saya selalu tertarik karena sekarangpun saya sedang bernafsu

Mbak Tika : Maksudnya nafsu apa Mas … (sambil mesam mesem)

Mas Pras : Nggak … ini lagi nafsu makan, habis kelaperan sih dari tadi belum dikasih makan

Mbak Tika : Ooo … kirain nafsu yang itu ..

Mas Pras : yang itu atau yang ini

Mbak Tika : yang itu tuh

Mas Pras : Oke … sekarang serius nih. Saya mau jelaskan sekarang ..

Mbak Tika : Iya mbah Kiai

Mas Pras : Jangan ngeledek Dik, masak masih muda dan cakep begini disebut mbah Kiai

Mbak Tika : Emang cakep gitu …

Mas Pras : Lha iya lah ….. lha wong sebelum jadian sama kamu kan saya banyak penggemarnya. Untung waktu itu nggak ketemu sama Dian Sastro, coba kalau ketemu ….

Mbak Tika : Kalau ketemu Dian Satro nya kenapa Mas …

Mas Pras : Ya nggak apa-apa … Oke sekarang serius nih

Nafsu itu sebenarnya diambil dari bahasa Arab ”nafs”. Namun setelah diadopt ke bahasa Indonesia ternyata artinya bergeser cukup jauh. Dalam bahasa aslinya nafs berarti diri, orang, individu, pribadi, sedangkan dalam bahasa Indonesia secara umum nafsu mempunyai arti dorongan atau hasrat hati yang biasanya berkonotasi jahat atau jelek.

Mbak Tika : Kenapa bisa begitu ya ..

Mas Pras : Yah memang … banyak sekali kosa kata bahasa Indonesia yang mengambil dari kosa kata bahasa Arab, namun begitu dipakai maka artinya sudah tidak sesuai lagi dengan bahasa aslinya. Biasanya cenderung lebih sempit, misalnya : ’amal, ’ilmu, sabar (shabar), sedekah (shadaqah), infak (infaq), ikhlash, syukur dll.

Mbak Tika : Tika tadi masih belum jelas Mas, mengenai apa itu paradigma materialistik dalam hal kemanusiaan …

Mas Pras : Secara sederhana dijelaskan bahwa paradigma ini sesuai dengan namanya, memandang kehidupan dari sisi yang nampak saja, sisi yang jelas dan dapat dinalar secara akal sehat katanya. Dia memandang bahwa keberadaan manusia adalah saat ketika seseorang dilahirkan di muka bumi ini, karena manusia adalah tubuh yang kelihatan ini. Yang terdiri dari anggota tubuh seperti badan, kaki, tangan, organ-organ dalam, kemudian dilengkapi dengan panca indra serta otak untuk berfikir. Cara pandang tidak sampai pada siapa yang menciptakan itu semua, dan apa-apa yang berada di dalam tubuh kasar (jasad) seorang manusia.

Mbak Tika : Sempit ya cara pandangnya …

Mas Pras : Ditambah lagi bila dia memandang hidup ini, adalah hidup yang sekarang ini dijalaninya, yaitu saat kehadiran tubuh di muka bumi ini sampai nati dia mati dan lenyap ditelan bumi maka berakhirlah kehidupan.

Hidup adalah kehadiran tubuh di bumi

Mati adalah ketika musnah dari bumi

Sehingga karena mereka berprinsip begitu, maka pandangan hidupnya jadi sekuler. Segalanya harus diraih sekarang juga, bila mampu di sini juga, mumpung masih ada di bumi. Pokoknya saat ini dan disini karena besok tidak ada lagi.

Mbak Tika : Terus bagaimana mereka yang berpandangan begitu dalam mengejar kebahagiaan, Mas ..

Mas Pras : Biasanya bagi mereka kebahagiaan itu adalah hedonisme. Kebahagiaan diukur dari kenikmatan jasmaniah semata. Tubuh dan perasaannya merasa senang bila ditabur dengan gemerlap dunia, merasakan harum wewangian, mereguk nikmat minuman memabukan dan memenuhi perut dengan makanan lezat nan nikmat terasa. Hanya sampai batas itu, karena yang dipuaskannya hanyalah tubuh atau jasad-nya saja.

Mbak Tika : Mereka tidak mengenal Tuhan ya Mas …

Mas Pras : Berdasarkan hati nurani, harusnya mereka pasti merasakan tentang Dzat yang mengatur hidupnya. Kalaupun mereka percaya tentang adanya Tuhan, bila pemahaman kemanusiaan dan kehidupannya masih berparadigma materialistik dan secular, maka Tuhan dianggap tidak mempunyai peranan. Semua berjalan dengan sendirinya, karena memang sudah harus begitu. Karena alam memang harus begitu.

Mbak Tika : Jadi bagaimana hidupnya …

Mas Pras : Einstein sempat menyinggung masalah hedonisme dengan mengungkap ”hedonisme adalah sistem moral yang dibangun dengan dasar kenikmatan ragawi semata hanya cocok bagi kawanan ternak !”

Mbak Tika : Einstein itu siapa Mas ?

Mas Pras : Masak nggak kenal sih sama Beliau. Nama lengkapnya Albert Einstein. Masak nggak pernah bertemu dengan dia sih. Rumahnya kan dekat dengan rumah kita sekarang, itu lho yang jualan krupuk .

Mbak Tika : Oh … yang rambutnya putih semua, ada botaknya, kumisnya panjang dan putih dan hidungnya agak mancung itu ya Mas ….

Mas Pras : Ya itu lah, dia sebenarnya keturunan Yahudi cuma lama tinggal di Tasik jadi sebelumnya jadi tukang kredit

Mbak Tika : Tapi sebentar Mas …. Rasanya saya pernah dengar ada nama seperti itu di pelajaran Fisika dulu … Albert Ein … (sambil pura-pura berfikir). Yah ketemu ….. Albert Einstein penemu hukum relativitas khan Mas !

Mas Pras : Iya …

Mbak Tika : Terus apa hubungannya dengan tetangga kita yang jualan krupuk dan bekas tukang kredit tadi ?

Mas Pras : Nggak ada hubungannya

Mbak Tika : Terus ngapain diceritakan

Mas Pras : Yah pengin aja diceritakan …

Mbak Tika : ?????

No Responses to “Hedonisme”

  1. riki Says:

    haloo… mbak Tika & Mas Pras, gwa mo nanya kenapa manusia dalam hidupnya harus mencari kesenangan (hedonisme)? gpl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: