Ikhlas, hanya kita sendiri dan Allah-lah yang tahu

Niat sebagai titik awal amal

Dari Amirul mukminin, Umar bin khathab “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.(HR Bukhori Muslim)

Ingatlah akan kisah seorang saleh yang begitu perkasa melawan setan saat berencana menebang pohon yang dijadikan ajang syirik dikarenakan niatnya yang masih suci dalam menghancurkan kemusyrikan. Dan takala niatnya telah dikotori oleh selain Allah berupa harta benda dunia karena tipu daya setan, maka orang tersebut tiada mampu menghadapi setan. Dan akhirnya kalah secara menyakitkan. Semua karena niat yang telah berbelok, dari jalan lurus menjadi jalannya kegelapan.

Niat itu amalan hati, tidak perlu dilafadzkan, cukup dicamkan dalam hati, ditetapkan, diazzamkan. Niat mengandung makna :

  • Niat yang dikaitkan dengan ritual ibadah yang merupakan getaran hati dan menentukan jenis ibadah yang akan dilakukan.

Niat dapat dikatakan juga sebagai rukun pertama ibadah karena segala ibadah harus diawali dengan niat.

Sebagai contoh, sehabis wudlu memasuki waktu sholat Dzuhur, ketika seseorang kemudian masuk masjid dan melaksanakan sholat sunat dua raka’at maka ada beberapa kemungkinan sholat sunah yang bisa dilakukan yaitu : sholat syukru wudlu, sholat tahiyatul masjid, sholat rawatib qobla dzuhur, atau mungkin bisa juga sholat istiharoh. Pilihan dari sholat sunah 2 rakaat yang dilakukan adalah tergantung dari niatnya melaksanakan salah satu dari sholat sunah tadi.

  • Niat yang kemudian akan dapat menentukan status hukum suatu amalan. Niat berumah tangga adalah wajib bagi seorang muslim yang telah baligh dan telah mampu serta mempunyai calon pasangan. Tapi bila berniat mengawini seorang gadis dengan tujuan untuk balas dendam terhadap mertuanya, hukum menikah menjadi haram.
  • Niat yang akan menentukan kualitas pekerjaan dan hasil pahala suatu amal perbuatan.

Dari niat inilah akan menghasilkan perbuatan berskala dari kualitas ’RIYA’ sampai dengan kualitas ’IKHLAS’. Kalau dibuat analogi dengan suatu hasil ujian dari nilai nol sampai nilai seratus, maka riya’ bernilai nol dan ikhlas bernilai seratus. Tapi tentu saja penilai utama adalah Sang Pemutus yaitu Allah swt.

RIYA’

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir (QS Al Baqarah : 264)

Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya (QS An Nisa :4)

Rasulullah bersabda: Barang siapa mencari popularitas dengan amal perbuatannya, maka Allah akan menyiarkan aibnya dan barang siapa yang riya dengan amalnya, maka Allah akan menampakkan riyanya (HR Muslim)

Dari Mahmud Ibnu Labid bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya hal yang paling aku takuti menimpamu ialah syirik kecil: yaitu riya.” (HR Ahmad)

Riya’ adalah pamer, mewartakan atau memperlihatkan kepada umum akan tindakannya (umumnya adalah amalan baik) dengan tujuan agar umum tahu akan perbuatan baiknya sehingga timbul pujian, penghargaan ataupun rasa kagum terhadapnya. Sederhananya, riya’ adalah melakukan suatu amalan dengan mengharap pujian orang lain.

Ada kalanya perilaku riya’ diperlukan untuk menarik minat berbuat orang lain. Misalnya, mewartakan kepada umum sumbangan uang kepada kegiatan amal dengan tujuan agar orang lain melakukan sumbangan serupa. Namun urusan apakah itu riya’ atau bukan kita serahkan kembali kepada Allah.

IKHLAS

Ikhlas adalah amalan hati. Ikhlas adalah urusan seorang hamba dengan Tuhannya. Prasangka akan keikhlasan terhadap sesuatu yang telah kita lakukan, tidak selalu tepat. Allah lebih tahu. Apatah lagi bila kita menilai keikhlasan orang lain terhadap yang dia perbuat bagi diri kita maupun orang lain. Semua adalah rahasia Allah, nilainya adalah urusan Allah.

Namun lihatlah, bahwa dengan keikhlasan sesuatu yang kecil menjadi bernilai besar. Sesuatu yang seakan-akan tidak berharga, menjadi luar biasa berharga di kemudian hari, manakala ikhlaslah landasannya.

Ahmad bin Miskin malam itu sungguh gelisah dan sedih. Betapa tidak, dirinya bersama istri dan seorang anaknya, beberapa hari ini makan tidak teratur. Kadang makan hanya sesuap, bahkan terkadang tiada makanan yang masuk ke perut. Dan sedari pagi hingga malam menjelang, dia sekeluarga belum memperoleh makanan sedikitpun. Ahmad memandang dengan penuh kesedihan wajah anaknya yang kuyu karena belum memperoleh susu dari tetek ibunya. Bagaimana dapat keluar susu dari sang ibu, bila badan tidak memperoleh makanan sejak pagi tadi.

Melihat kondisi ini Ahmad bertekad untuk menemui sahabatnya besok Subuh. Maka sehabis sholat Subuh berjamaan di masjid, bergegas Ahmad menemui sahabatnya Abdullah as Sayyad, dan menceritakan kepahitannya. ”Nanti rumahku akan kujual, tolong engkau beri aku pinjaman beberapa dinar !”

Dengan lembut Abdullah segera menyodorkan bungkusan makanan kepada Ahmad dan berujar ”Bawalah ini dulu untuk keluargamu, nanti siang aku akan berkunjung ke rumahmu dengan membawa sesuatu untuk membantumu”. ”Tidak perlulah kau jual rumah milikmu satu-satunya itu’.

Bergegas dengan gembira Ahmad membawa bungkusan makanan itu menuju ke rumah. Terbayang bahwa istrinya akan menyambutnya dengan senyum, dan anaknya akan segera tertawa renyah. Namun ditengah perjalanan dia bersua dengan seorang ibu yang lusuh dan lemah sedang menggendong anaknya yang pucat dan kurus kering. Ibu tersebut menatap bungkusan yang sedang dipegangnya, seraya berucap : ”Tuan, berilah kami makanan. Sudah beberapa hari ini kami tidak menyentuh makanan sama sekali. Anak ini anak yatim yang kelaparan, Tuan. Berilah makanan kepada kami dan semoga Allah SWT merahmatimu”

Dipandangi oleh Ahmad anak itu, sungguh kasian sekali, masih mending anakku dirumah yang cuma belum makan sehari saja. Setelah dipertimbangkan maka dengan rela disodorkannya bungkusan makanannya itu kepada ibu tadi ”Ini ambillah bu sekedar makanan, aku tidak mempunyai yang lain. Semoga yang sedikit ini dapat meringankanmu”

Dengan tangan gemetar Ibu tadi menerima bungkusan itu dengan hormat ”Terima kasih tuan, pemberian tuan sangat membantu bagi kami. Semoga Tuan memperoleh balasan dari Allah yang lebih besar”.

Kemudian Dua titik air mata menetes dari mata si Ibu.

Ahmad meneruskan perjalanannya dan sempat berhenti di bawah pohon sambil merenung. Cukup lama dia berdiam diri dan akhirnya berdiri untuk segera menuju rumah dan menghadapi apapun yang nanti terjadi.

Belum lama dia berjalan, tiba-tiba terdengar teriakan dari belakangnya. ”Ahmad … Ahmad … berhenti sebentar !!”. Ternyata sahabatnya Abdullah yang berteriak tadi, dan begitu dekat maka Abdullah menceritakan tentang berita gembira bagi Ahmad.

Disampaikan bahwa tadi Abdullah bertemu dengan seorang Saudagar yang mencari Ayahnya Ahmad karena 30 tahun lalu dia berhutang untuk usaha berdagang. Setelah sekian lama berusaha, sekarang dia menjadi pedagang yang sukses dan ingin mengembalikan hutangnya dengan hadiah-hadian yang banyak.

”Dia sekarang ada di rumahmu, Ahmad. Mari kita segera menuju kesana, sebentar lagi kau akan kaya raya, sahabatku !.

Dan memang benar, akhirnya Ahmad sekeluarga menjadi kaya raya akibat pemberian saudagar sahabat ayahnya tadi. Namun Ahmad tetap menjadi orang baik, sering memberi sedekah kepada orang miskin dan membantu anak yatim.

Hingga pada suatu hari Ahmad, tidur dan bermimpi. Sepertinya amalannya pada saat itu dihisab oleh malaikat. Berinfaq dengan 2.000 dirham, timbangannya ternyata ringan-ringan saja karena telah dipotong dengan kesombongan dan riya’. Hingga seluruh kebaikannya ditimbang ternyata belum bisa mengimbangi dosa-dosa yang telah dilakukannya. Ahmad pucat. Malaikat bertanya : “Masih adakah amalan kamu lagi ?” Seorang malaikat kemudian menjawab : “Masih, ada dua amal baik lagi !”

Ternyata salah satunya adalah makanan yang diberikannya kepada ibu dan anak yatim. Ahmad sangat takjub, ternyata amal baik tersebut dapat menyeimbangkan timbangan yang tadi masih njomplang ke dosa. Betapa berat timbangan bungkusan roti tadi, bahkan dibandingkan dengan amal baik lainnya.

Ahmad agak tenang karena timbangannya telah seimbang. Kemudian dia bertanya-tanya apakah gerangan yang dianggap amal oleh malaikat lagi. Padahal seingatnya sudah tidak ada lagi amal baik yang dia lakukan.

Kemudian malaikatpun mendatangkan dua butir airmata syukur dan haru dari ibu yang ditolong oleh Ahmad. Dua butir airmata tersebut tiba-tiba berubah menjadi air yang meluap laksana air bah. Tiba-tiba muncullah ikan besar dari dalam air yang kemudian diambil oleh malaikat untuk ditimbang disetarakan dengan airmata. Dan ketika ikan menyentuh timbangan, bobot terasa sungguh berat dan akhirnya jarum menunjukan pada kebaikan.

”Dia selamat, dia selamat !” teriak malaikat dengan gembira.

Dan gembiralah hati Ahmad

Bagaimana menuju Ikhlas

Lihatlah betapa hanya dengan sebungkus makanan, akhirnya Ahmad terbebas dari malapetaka. Ingat, hanya sebungkus makanan, sementara shodaqoh yang ribuan dinar hanya menolong sedikit. Ibadah lain yang dia lakukanpun ternyata setelah ditimbang, bobotnya ringan-ringan saja.

Oleh karena nya sungguh luar biasa, kebesaran dan kemuliaan dari IKHLAS. Karena Allah tidak melihat sebesar apa yang dilakukan oleh hambanya, atau sehebat apa tindakan dari manusia, melainkan hanya seberapa ikhlas hambanya menyerahkan dirinya kepada Sang Kholiq.

Ikhlas adalah amalan hati. Tiada yang tahu kadar ikhlas kita kecuali diri kita sendiri dan Allah.

Yang kita bisa upayakan adalah segala tindakan kita harus didasari pada sistimatika yang jelas dan terarah. Jelas sistimatikanya, bahwa :

  • Titik awal : SUKARELA, TULUS
  • Landasan : IMAN
  • Proses : KEBENARAN
  • Tujuan : RIDLO ALLAH

Dan jelas arahnya bahwa ikhlaslah tujuannya. Karena Allah tujuan hidupnya.

No Responses to “Ikhlas, hanya kita sendiri dan Allah-lah yang tahu”

  1. nchiek Says:

    aduh mas prabu,
    ngbaca tulisan ini hati sungguh tersentuh, ternyata ya, apa yg kita lakukan kalau tidak ridho dan ikhlas, walau besar segunungpun tidak menghasilkan apapun, terimakasih atas pencerahannya ini.

  2. hidayah Says:

    fantastis. trimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: