Amnesia dan sinetron

“Mas, penyakit amnesia itu di Indonesia banyak yang menderita ya Mas ya ? Kurang lebih berapa prosentasenya dibanding dengan penduduk Indonesia ?”

Tiba-tiba Mbak Tika bertanya kepada Mas Pras saat lagi santai sehabis menikmati hidangan buka puasa.

”Kenapa gitu, kok tiba-tiba bertanya soal amnesia segala ?” Jawab Mas Pras sambil mengepulkan asap rokok dibibirnya.

”Itu tuh, kayak sinetron yang kita lihat sekarang ini. Bayangin mas, di tiga sinetron RCTI yang saya tonton yaitu Soleha, Candy dan Aisyah, semuanya ada yang amnesia. Jadi kalau layaknya saya sebagai seorang analis dan ahli statistik, dapat disimpulkan bahwa penyakit amnesia itu begitu banyak terjadi di Indonesia. Dan kemungkinan orang Indonesia untuk mengalami amnesia sangat besar, khan”

Dengan semangat membara Mbak Tika memberikan analisa dan argumen untuk membahas amnesia dikaitkan dengan persinetronan. Sungguh meyakinkan karena penjelasan diikuti dengan gerak tangan, leher serta gaya yang memikat.

”Coba pikirkan, dari tiga seinetron semuanya ada yang kena amnesia. Luar biasa kan mas ?”

“Luar biasa atau malah sudah biasa Dik ?” Mas Pras menimpali

“Kalau saya sih tidak heran kalau di setiap sinetron Indonesia ada yang kena amnesia. Lha wong jalan cerita sinetron di Indonesia mah gampang di tebak, tidak neko-neko dan selalu begitu-begitu. Coba saja lihat, anak yang kehilangan orang tua sejak lahir dan konflik dimulai saat dia mencari jati diri sebenarnya. Atau ada orang jahat sekali melawan orang lemah yang tiada daya di awal cerita, namun sedikit demi sedikit terkuak kebenaran dan kenyataan bahwa si jahat pasti akan kalah oleh si baik.”

“Coba perhatikan lagi, kayak sinetron apa tuh yang disiarin jam 9 malam pada bulan Ramadhan ini?

”Aisyah !”

”Lha itu. Aisyah diposisikian sebagai orang yang teraniaya dari awal cerita, dan menjelang akhir cerita pasti nanti happy ending. Aisyah begitu luar biasa, nyaris sempurna baiknya. Begitu pun dengan adik perempuannya. Meskipun terbilang masih kecil, namun mempunyai kebijaksanaan yang luar biasa layaknya orang tua yang telah mengalami pahit getir kehidupan. Nyaris tidak terlihat disana sikap dan tindakan dia seperti layaknya anak-anak.”

Disamping itu ceritanya juga mbulet, muter-muter penuh kejutan yang tidak membuat terkejut, karena sebenarnya nunggu gong diakhir episode saja, yaitu happy ending”.

”Yah jangan terlalu sinis gitu dong mas. Buktinya, banyak lho penggemar-penggemar sinetron sampai terikat dengan jalan ceritanya. Katanya bagus, mewakili diri mereka sebagai orang kecil yang kadang ”merasa” teraniaya. Makanya kalau kita nih ibu-ibu lagi pada ngumpul dan nonton bareng, biasanya sampai kadang terbawa emosi dan sangat membenci si artis yang berperan sebagai si jahat.” Ujar Mbak Tika.

”Yah, namanya juga hiburan Dik. Pasti diharapkan pemirsa ataupun penikmat sinetron tersebut lengket dengan alur cerita dan tidak pernah beranjak dari jalan cerita sampai nanti tamat. Meskipun sebenarnya kita sudah tahu akhir cerita akan bagaimana, misalnya si Aisyah jadian sama siapa, kemudian dia kumpul lagi sama Bapaknya dan kakak adiknya serta tinggal kembali dirumahnya dalam kebahagiaan. Begitu khan ?”

”Iya sih, tapi step by step, adegan per adegan khan bisa kita nikmati dan rasakan sehingga emosi kita terbawa hingga ibaratnya kita mendaki melalui sebuah tangga, saat mencapai puncak tangga dan sampai pada tujuan, kepuasan akan tercapai, akan maksimal.”

Oke Mas, sekarang agak ilmiah dikit. Kembali ke persoalan yang tadi, soal amnesia itu. Gimana ? Mbak Tika mengalihkan pembicaraan kembali ke awal percakapan

”Gimana apanya. Lha itu khan cuma kejadian di sinetron. Sekarang ya tergantung sama sang penulis naskah cerita. Kalau dianya hanya bisa atau sengaja membuat tokoh cerita menjadi amnesia guna memeriahkan dan mempertegang atau memperlama alur cerita, ya dibikinlah si tokoh amnesia. Sehingga dibikinkan kejadian yang menyebabkan amnesia secara wajar. Kalau lagi amnesia kan gampang karena semua memori hilang sehingga cerita jadi mudah dikembangkan kemana-mana”

”Wah iya juga ya. Kalau saya perhatikan beberapa sinetron, memang sering diperpanjang alur ceritanya dengan menciptakan kejadian yang tak terduga. Kadang juga nggak masuk akal. Tapi ya itulah sinetron.”

”Makanya kalau sudah tahu begitu, ya lebih baik kita manfaatkan waktu kita dengan optimal. Dari pada lihat sinetron yang nggak jelas, lebih baik dimanfaatkan lihat ceramah, baca buku atau ngaji.”

”Itu sih memang harus mas, tapi sekali-sekali khan nggak apa-apa. Hitung-hitung hiburang lihat orang-orang cakep maen sinetron. Kali kita jadi ketularan cakepnya … he he he.”

”Ati-ati lho dik, nanti kalau jadi cakep, ada kemungkinan bisa terkena amnesia.”

”Lho kok ?”

”Lha iya lah. Syarat dapat terkena amnesia secara tiba-tiba adalah harus CAKEP”

”Kenapa harus cakep ?”

”Lha pemain sinetron khan cakep-cakep”

”Kalau mas merasa sebagai orang cakep ndak ?”

”ehmmmm .. kalau saya sih merasa biasa-biasa saja. Tetapi sekedar cerita saja ya dik. Dulu itu meskipun saya bukan bintang sinetron, tapi yang naksir saya cukup banyak juga. Sampai saya jadi nggak enak, takut kalau pada ngecewain cewek-cewek. Kan termasuk juga dik Tika salah satunya yang ngejar-ngejar saya … he he he”

“Ih … lagunya, kayak yang cakep-cakep sendiri saja. Yang ngejar-ngejar tuh saya atau Mas. Ingat waktu di kampus itu saya lagi duduk terus mas ……

“Sudah Dik gitu aja kok dibahas, khan kita lagi membahas amnesia. Kalau cakep-cakep kemudian marah-marah nanti terkena amnesia lho ….

“Ah mas … sudah ah … berangkat sana Tarawih !”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: