Kenangan ber-sepeda

Suasana baru dan lingkungan baru harus menyertai pada saat memasuki sekolah baru. Semua serba baru. Teman, tetangga, kehidupan, suasana sekolah, suasana kampung, suasana kota dan juga suasana hati. Biasanya ketika menginjak episode kehidupan seperti itu, sikap belum PD, kurang optimis dan selalu terkenang pada nostalgia masa lalu yang indah, adalah hal yang biasa terjadi. Apalagi pada masa anak-anak.

Kalau dahulu pergi ke sekolah karena lokasinya berada dalam satu kompleks, meskipun agak jauh, dilakoni dengan jalan kaki. Jalan nggak terlalu ramai, santai dan tidak terlalu diburu waktu. Namun sekarang, saat menginjak hidup baru di kota baru, Klaten, pergi ke sekolah harus melalui perjuangan mengayuh sepeda sejauh kurang lebih delapan km, sekitar 30 menit perjalanan. Harus bangun pagi, mandi, sarapan dan langsung olah raga alias nggenjot sepeda.

Perjalananpun tidak dilalui dengan nyaman dan tenang karena harus melalui jalan Yogya – Solo yang waktu itu masih sempit, belum selebar dan semulus sekarang.

Namun yang membuat berbesar hati adalah bahwa saat itu yang seperti saya pun ternyata banyak sekali. Bahkan yang lebih jauh dari saya untuk pergi ke sekolah, dua atau tiga kali lipat jaraknya dari yang saya tempuh, cukup banyak. Mereka dari kampung-kampung yang jauh dari kota, dan dengan penuh semangat melanjutkan sekolah ke kota. Sehingga lambat laun, suasana pergi dan pulang sekolah dapat dinikmati dengan nyaman.

Betapa akan indah dipandang mata, apalagi kalau seandainya dinikmati pemandangan dari udara, berjajar beriringan para pengayuh sepada di kanan kiri jalan Yogya – Solo pada pagi hari. Bahkan kadang kalau berangkat dengan teman sekampung, atau ketemu dengan teman sesekolah atau teman lantaran kenal di jalan, kemudian menjalankan sepeda dengan beriringan adalah sangat nikmat. Sambil ngobrol, nafas tidak jadi ngos-ngosan meskipun jalan mendaki. Yang ada adalah rasa gembira karena banyak teman ”seperjuangan”.

Cuma kendalanya bila saat musim hujan tiba. Itulah yang jadi masalah. Memang jas hujan selalu tersedia, namun bila hujannya diwaktu pagi hari saat mau masuk sekolah, harus berfikir dua kali untuk melanjutkan perjalanan ke sekolah. Karena akibatnya kalau hujan cukup deras, maka pakaian dan terutama sepatu dan kaos sepatu akan basah. Dan masuk kelas sambil berbasah ria. Kalau hujan terjadi saat pulang sekolah, langsung tancap saja meskipun pada saat menjalankan sepeda dengan ngebut bila hujan cukup deras, butiran-buturan air hujan cukup keras menimpa kepala dan muka. Tapi ya happy saja.

Dan satu lagi momen paling nggak enak bila menggunakan sepeda, yaitu saat ban kempes alias bocor karena memang sudah tipis atau karena terkena sesuatu yang tajam, batu atau paku. Terpaksa perjalanan ditunda sesaat untuk menambal atau menambah angin. Dan adakalanya karena cukup lama maka jadi terlambat masuk kelas. Tentu saja hal itu dimaafkan oleh para guru karena memang sudah pada maklum. Karena itu biasanya alasan seperti itu sering dipakai para murid yang datang terlambat, tidak termasuk saya lho …. Karena alhamdulillah sepengetahuan saya, rasanya saya nggak pernah telat.

Waktu itu, sepeda merupakan alat transportasi utama. Hampir setiap rumah tangga mempunyai sepeda untuk mobilitas warganya. Seperti di keluarga saya, mau tidak mau harus memiliki beberapa sepeda karena masing-masing berbeda baik aktivitas maupun lokasinya.

Hingga masuk SMA pun saya masih bersepeda untuk pergi dan pulang sekolah. Cuma jaraknya sekarang menjadi lebih dekat sekitar enam km dari rumah. Tidak ada rasa malu ataupun rasa rendah diri bagi kalangan pemakai sepeda, karena pada saat itu sepeda masih mayoritas meskipun sudah banyak yang menggunakan sepeda motor. Tentu saja sepeda motor saat itu masih merupakan barang mewah sehingga hanya murid-murid anak orang berpunya saja yang memilikinya.

Dan yang menambah suasana bersepeda menjadi lebih semangat adalah pada saat liburan sekolah, selalu direncanakan untuk piknik bersepeda ke lokasi-lokasi pariwisata. Rombongan pemuda kampung keluar bersepeda dari Klaten menuju candi borobudur, Magelang. Pernah juga ke waduk Gajah Mungkur, Wonogiri. Atau ke lokasi yang agak dekat di Candi Boko, Prambanan. Jarak cukup jauh bukan halangan karena suasana mendukung untuk selalu bergembira ria. Disepanjang perjalanan gelak tawa dan canda selalu hadir sehingga peluh di badan dan nafas ngos-ngosan tiada dirasakan.

Saat haus terasa, minum air dipinggir jalan terasa nikmat tak terkira.

Sungguh cerita yang menyenangkan untuk di kenang.

No Responses to “Kenangan ber-sepeda”

  1. arie Says:

    sampe lulus SMP, saya juga selalu naek sepeda ke sekolah.. meskipun tidak sejauh yang mas Prabu jalani, banyak pengalaman yang didapatkan.. dari senangnya berkendara rame2 bersama teman2 sampe dukanya karena tertabrak motor karena tidak hati2.. ^_^

    *jadi pengen naik sepeda lagi.. asyik kali y, naik sepeda ke kampus.. :p

  2. prabu Says:

    Coba aja Mas Arie naik sepeda ke Jalan Ganesa-nya kalau kuliah. Perasaan hampir setiap hari lewat situ saya belum pernah melihat mahasiswa itb naik sepeda ke kampusnya. Kalau naik toyota banyak. Hingga sekarang jalan ganesa selalu penuh dengan sepeda roda empat (toyota dan sejenisnya) dikanan kiri sisi jalan. Memang mahasiswanya sekarang kaya-kaya kali ya ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: