WE BECOME WHAT WE THINK ABOUT

Berikut pointer dari bedah buku SUPER MUSLIM oleh Imam Munadi kemarin di Masjid Daarusl Ihsan GKP Telkom Bandung tanggal 2 Oct 2007 :

  • Apakah yang disebut SUKSES ?

Sukses sejati adalah husnul qatimah. Seorang muslim yang pada akhir hidupnya didunia dalam keadaan menggenggam dan menjalankan keimanan dan keislamannya secara benar dan bertanggung jawab.

  • Bagaimana ciri-cirinya orang yang menuju kearah sukses ?

Terdapat tiga ciri dari seseorang yang sedang mendaki tangga kesuksesan, yaitu 3B :

    • Berkembang

Seseorang yang menuju sukses, dari hari ke hari, dari saat ke saat mengalami perkembangan yang positif. Bukan harus diukur pada sisi materi saja, melainkan juga dari sisi spiritual, pengendalian emosi, semakin bertambahnya ilmu.

Sudah jelas rumus dari Rasulullah saw :
Bila HI = HK maka R
Bila HI < HK maka C
Bila HI > HK maka U

Bila Hari Ini sama dengan Hari Kemarin, sungguh dia menjadi orang yang rugi
Bila Hari Ini lebih jelek dari pada Hari Kemarin, maka celakalah dia
Bila Hari Ini lebih baik dari pada Hari Kemarin, maka sunggung berntunglah dia

    • Bermanfaat

Ilmu kalau cuma dimiliki sendiri, tidak ada manfaat bagi dirinya. Oleh sebabnya Rasullullah menganjurkan untuk mencari ilmu dan mengajarkannya kepada yang membutuhkan. Majlis ilmu adalah hal yang sangat disukai oleh Islam, dimana ilmu saling di sharing untuk lebih menyempurankan iman dan islam.

    • Berkah

Hidup berkah adalah hidup yang selalu mempunyai nilai tambah. Tidak akan berkah nikmat yang dilimpahkan Ilahi bila kita selalu merasa kurang. Walau telah begitu banyak yang kita peroleh, ibarat setelah memperoleh bukit emas pertama maka bukit emas kedua dan seterusnya seakan merupakan harapan yang harus digapai.

Berkah juga tidak akan ada manakala kita selaku umat Islam melalaikan ukhuwah, mengabaikan hubungan sosial. Tidak ada kepekaan dengan derita tetangga sebelah, berfoya hamburkan harta sementara anak yatim dan kaum miskin disekitar menahan lapar di atas kelaparan dan ketidak berdayaan.

Kekuatan Pikiran

WE BECOME WHAT WE THINK ABOUT

”Kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan tentang diri kita”

Allah sesuai dengan persangkaan hambanya. Bila kita berprasangka baik atas segala sesuatu masalah dengan berserah diri hanya kepada Allah, maka Allah-lah yang akan menolong kita. Allah-lah yang akan mengantarkan kita kepada jalan yang terang jauh dari kesesatan.

Pikiran kitalah yang akan menentukan kegagalan atau kesuksesan. Ketika kita meragukan kemampuan kita untuk menyelesaikan suatu masalah maka hampir pasti kita tidak akan mampu untuk menyelesaikan masalah itu. Karena begitu pikiran terpatri dan termantabkan, maka upaya akan segera bekerja untuk merealisasikannya.

Ingatlah kisah tentang seorang atlet pelari yang bernama Roger Bannister pada tahun 1954.

Pada saat itu oleh expert di bidang olah raga dan kebugaran dinyatakan bahwa tidak mungkin seseorang akan dapat berlari sejauh 1 mil dalam waktu dibawah 4 menit. Memang saat itu belum ada orang yang melakukannya. Pikiran semua orang di dunia waktu itu mungkin menyetujuinya berdasarkan kenyataan dan faktor ilmiah yang diungkapkan.

Namun tidak bagi Roger Bannister. Pikirannya menyatakan bahwa hal tersebut adalah sangat mungkin. Pikirannya menyatakan ”YA”, ”BISA”, maka tindakannyapun mendukung pikirannya.

Dan kala keyakinan telah terpatri diikuti kemantapan diri untuk melakukan suatu kemustahilan, maka pada tanggal 4 Mei 1954 Roger Bannister dihadapan khalayak membuktikan diri. Dia mampu memecahkan record lari 1 mil di bawah 4 menit. Pikirannya telah membuktikan dan mampu menghimpun segala potensi dirinya untuk melakukan ”keajaiban” tersebut.

Dan anehnya setelah selama 1 bulan setelah itu, terdapat sekitar 32 orang yang mampu berlari di bawah 4 menit untuk jarak 1 mil.

Berarti mungkin saja bukan Roger Bannister yang memecahkan record pertama kali, seandainya ke 32 orang tersebut salah satunya dianugerahi keyakinan dan pikiran yang kuat seperti layaknya Roger Bannister.

Atau kita dapat mengambil hikmah dari seorang George Danzig yang mampu memecahkan persamaan matematika yang belum terpecahkan karena ”kebetulan”.

Pada suatu hari George Danzig datang terlambat ke tempat belajar saat Dosen dan teman-teman mahasiswanya telah meninggalkan kelas yang kosong. Pada papan tulis terdapat dua rumus matematika ditulis dengan jelas. George Danzig mengira bahwa dua persamaan matematika tersebut adalah PR yang harus dikerjakan.

Dengan keyakinan bahwa dia mampu memecahkan persamaan tersebut maka segala daya dan upaya dilakukan untuk mengerjakan soal tersebut. Pikirannya meyakinkan bahwa Danzig bisa mengerjakan soal itu. Hingga sampai pagi harinya ternyata George Danzig hanya mampu mengerjakan satu soal saja.

Ketika kembali lagi ke sekolah untuk menemui dosennya dan meminta maaf karena tidak ikut kuliah hari sebelumnya, maka dia menyodorkan jawaban ”PR” tadi yang hanya terjawab satu soal.

Sang dosen terkejut. Dan George Danzig akhirnya juga terkejut setelah mengetahui bahwa kedua persamaan tadi bukanlah PR melainkan persamaan yangs angat sulit dan sampai dengan saat itu belum terpecahkan.

Bila berandai-andai, coba Anda yang menjawab : Seandainya saat itu George Danzig diberitahu bahwa “PR-nya“ yang dua tadi adalah soal yang belum terpecahkan hingga saat itu di dunia, mampukah dia mengerjakannya ?

(continued)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: