Hikmah Lebaran

Pagi yang indah. Matahari mulai menampakan sinarnya di awal bulan Syawal tahun ini. Bergegas Mas Pras dan Mbak Tika bersama dengan Ganden, putra semata wayangnya, bersama dengan para Saudara yang lagi mudik ke kampung mempersiapkan diri untuk sholat ied di lapangan desa. Suasana begitu ramai dan ceria. Celotehan, teriakan dan tawa lepas mengiringi kesibukan di pagi hari itu.

Anak-anak berebutan mandi, orang-orang tua bercengkrama menunggu giliran membersihkan diri. Sementara yang sudah selesai mandi, dandan dengan pakaian terbaik mereka. Atau ada juga mematut diri dengan pakaian terbaru mereka yang telah disiapkan menjelang lebaran.

Setelah semua siap, berangkatlah mereka dengan menggunakan tiga mobil Avanza, Panther dan Grand Vitara berplat B, D dan L yang penuh dijejali penumpang. Semua berwajah cerah. Tersenyum dan tertawa menyambut hari nan fitri setelah satu bulan menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Di bawah terik matahari pagi yang sudah cukup menyengat, di tengah tanah lapang desa, jemah shalat ied-pun melantunkan takbir memuji kebesaran Ilahi. Sementara anak-anak kecil, beserta ibunya, sudah mulai menyambangi orang jualan makanan. Yang sholat ya sholat, yang jajan ya jajan he he he …. Namun tentu saja tidak mengurangi kegembiraan suasana pada saat itu.

Sesampai di rumah kembali setelah pulang dari lapangan, kegiatan selanjutnya adalah maaf-maafan dan sungkeman dari yang muda kepada yang tua. Ada suasana haru juga di sana.Yang mudah tersentuh, selama sungkeman tertumpah airmata sambil sesenggukan. Terharu kali ya. Lha anak-anak, karena statusnya sebagai anak-anak dan belum mengerti benar tentang “kegiatan orang dewasa”, melakukan sungkeman sambil lalu saja sesuai dengan instruksi dari orang tuanya.

Akhirnya, kegiatan awal lebaran dipungkasi dengan jeprat-jepret mengabadikan kebersamaan dalam berkumpulnya saudara-saudara.

“Senang juga ya Mas, kumpul semua keluarga di kampung sini. Bisa ketemu sama Mas Brojo yang tinggal di Surabaya, atau sama Dik Niken yang ikut Dik Kelik ke Balikpapan. Dan lihat betapa senangnya saya lihat si Ganden main kesana kemari bersama Unggul dan Rafif anak dari Mas Yudha dan Dik Deni.” Begitu ungkapan perasaan Mbak Tika sambil leyeh-leyeh di bangku bawah pohon mangga di depan rumah.

“Lha iya lah Dik. Keluarga saya ini telah mengikuti KB sejak dahulu. Alias Keluarga Besar. Putra suwargi Bapak dan Ibu saja ada sepuluh, lima laki-laki dan lima perempuan. Kalu rata-rata anaknya dua saja, jumlahnya sudah duapuluh. Sayang lebaran kali ini yang nggak bisa pulang. Tapi sudah cukup ramai kan, suasana jadi kayak pasar malam” Mas Pras menimpali.

“Tapi Mas disini kok agak aneh ya. Lebaran yang ramai kok pada hari kedua. Ditambah lagi ada istilah lebaran ketupan segala”

”Yah namanya tradisi dik. Memang kalau di kampung ini, lebaran pertama di manfaatkan untuk keperluan keluarga sendiri dulu. Mengunjungi saudara yang agak jauh, atau pergi pesiar dulu. Sedangkan lebaran hari kedua baru mengunjungi tetangga-tetangga satu kampung dan tetangga kampung. Dan kalau lebaran ketupat itu dilakukan seminggu setelah lebaran pertama. Tapi itu hanya tradisi saja Dik. Lha wong saya lihat sekarang banyak yang sudah nggak bikin ketupat pada lebaran ketupat malah. Justru mengikuti kebiasaan di kota atau di kampung lain, mereka membuat ketupat langsung pada lebaran pertama. Bagi saya yang justru suasana dan makna lebaran itu sendiri yang penting.”

”Coba rasakan sendiri, betapa susahnya kalau kita ngumpulin saudara-saudara pada hari-hari biasa. Yang jauh lah, yang pada sibuk lah atau berbagai alasan lainnya. Tapi pada momen lebaran-lah semua memaksakan diri untuk pulang ke kampung untuk berkumpul dengan keluarga.”

”Dengan berkumpul bersama, kita jadi mengenal lebih dekat saudara-saudara kita. Ganden juga dapat akrab dengan saudara-saudaranya. Juga dia dapat mengenal lebih jauh dengan kampung orang tuanya”

”Iya juga ya Mas. Meskipun untuk mudik pada lebaran kali ini cukup menghabiskan energi dan materi yang lumayan, tapi semua enjoy-enjoy saja ya. Kalau saya hitung, pengeluaran kita pada lebaran kali ini cukup besar juga. Dari membayar zakat, memberi santunan kepada tetangga yang kekurangan dan anak yatim, hadiah lebaran bagi keluarga sampai transportasi ke sini. Tapi mudah-mudahan itu semua berkah ya Mas”

”Lha iya lah. Toh sebenarnya rejeki yang kita mililki sebenarnya ya yang kita belanjakan itulah, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Sedangkan yang kita punya lainnya baik di tabungan ataupun berwujud harta benda lainnya, semuanya adalah titipan Allah semata.”

”Mas, kalau menurut Mas perkembangan pelaksanaan iedul fitri dari tahun ke tahun bagaimana, ada kemajuan atau nggak ? Coba kemarin Mas lihat, sementara malam takbiran eee .. malah di kampung ada tawuran antar pemuda kampung.”

”Iya Dik, saya juga turut prihatin. Saya lihat di masjid kampung yang ada kebanyakan orang-orang tua sama anak-anak saja yang meramaikan malam takbiran. Sementara pemuda-pemudanya kebanyakan malah bergerombol diluar. Dan malah ada kejadian itu lagi. Perasaan pada jaman Mas dulu, nggak kayak begitu. Saya dengar dari teman di Bandung, malam takbiran di jalan Dago dan sekitarnya sudah kayak perayaan Tahun Baru saja. Yang terdengar dan terlihat hanya teriakan-teriakan dan raungan motor, nggak ada gema suara takbir lagi di sana. Malah sebagian dari mereka malah memanfaatkan untuk pacaran, mabuk-mabukan dan mengganggu pengguna jalan lainnya. Nggak tahu dik, apa yang ada dalam pikiran sebagian pemuda dan pemudi saat mereka melakukan itu semua.”

”Yah memang begitu ya Mas kondisi sekarang. Terutama di kota-kota besar, jiwa materialis, komersialis dan individualis seakan sudah menjadi pilihan yang dipaksakan. Puasa di bulan Ramadhan dilakukan hanya untuk sekedar formalitas semata. Tidak ada ruh di sana, karena niat dan pelaksanaannya tidak dilandasi keimanan yang kuat dan harapan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dan saat selesai bulan Ramadhan dan memasuki satu syawal, mereka merayakannya seperti layaknya hari-hari Valentine, tahun baru dan pesta perayaan lainnya yang penuh dengan hura-hura. Tidak ada lagi rasa syukur di sana, rasa sedih meninggalkan bulan Ramadhan yang penuh berkah.”

”Makanya Dik, pergaulan itu penting tetapi kita harus mampu untuk memfilter guna memilih yang tepat dan baik bagi kehidupan kita. Dan bekal yang cukup akan kekuatan mental dan jiwa beragama kita mutlak diperlukan guna menghadapi jaman yang semakin nggak karuan ini. Dan ini harus kita tanamkan sejak dini kepada si Ganden agar nantinya menjadi anak sholeh. Yah memang berat tidak seperti jaman dulu ketika kita masih anak-anak. Karena jaman sudah berkembang, globalisasi disegala bidang semakin nyata sehingga pendidikan anakpun harus dilakukan dengan baik dan benar.”

”Itu memang tugas kita selaku orang tua yang menginginkan keturunannya menjadi anak yang baik.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: