Qalbu

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al Baqarah : 30)

Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al An’aam : 165)

Manusia sebagai khalifah

Manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah di muka bumi ini. Tidak bisa dipungkiri karena memang itulah kehendak dari Sang Khaliq. Bahkan “protes” para malaikat sebagai makhluk ciptaan Allah yang selalu taat, tiada merubah ketetapan ini. Betapa tidak, akan sungguh berat tugas selaku khalifah di muka bumi. Sementara para malaikat sudah faham bahwa sebagian manusia justru akan membuat kerusakan dan ingkar kepada Allah. Namun Allah Maha Tahu sehingga pilihan manusia adalah mutlak adanya.

Bekal manusia sebagai khalifah yang berarti juga sebagai penguasa-penguasa bumi, sudah pasti diberikan oleh Allah. Bila manusia menyadari akan tugas dan kewajibannya, maka tools yang diberikan oleh Allah pastinya akan memberikan bukti bahwa memang pantas manusia mengemban amanah itu.

Namun seperti yang telah ditengarai oleh para malaikat, ternyata sebagian dari manusia ingkar dan pada akhirnya malah membuat kerusakan di muka bumi ini yang seharusnya justru wajib dibina dan dikelola.

Banyak dari mereka mengingkari jati diri mereka sebagai manusia, khalifah di bumi. Banyak dari mereka terlalu sombong dan berpaling dari Sang Pencipta. Dan banyak dari mereka tidak menyadari bagaimana sebenarnya manusia sebelum hadir di muka bumi ini.

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS Al Insan : 1)

Bagaimana manusia diciptakan ?

Tidak tahukah kita bahwa sebelum menjadi manusia (insan), kita hanyalah tubuh biologis semata (basyar). Yang pada hakekatnya hanyalah tubuh biologis kebinatangan.

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia(basyar) dari tanah.” (QS Shaad : 71)

Saat itu manusia hanya dalam bentuk jasad (body, tubuh, jasmani). Belum ada kehidupan di sana. Kemudian Allah meniupkan roh sehingga ada kehidupan (hayat, soul, nyawa, prana).

Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (QS Shaad : 72)

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia (basyar) biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”

Bersama dengan ruh kehidupan timbullah hawa (desire, kecenderungan) sehingga terciptalah manusia dalam wujud yang sebenarnya. Saat itulah manusia menjadi diri (nafs) yang sebenarnya, yang terdiri dari ruh dan qalbu (inti).

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat ayat-ayat bagi mereka yang memiliki inti (albaab). (QS Ali Imran : 190)

Qalbu adalah inti dari kemanusiaan yang memberikan status manusia sebagaii penguasa di muka bumi ini. Qalbu (heart) di bedakan menjadi bentuk dua yaitu jismani dan ruhani. Qalbu jismani itulah jantung (bukan hati/lever seperti yang sering menjadi padanan). Dan Qalbu ruhani adalah “Hati Nurani”.

Sesungguhnya di dalam tubuh ada sebongkah daging, jika ia sehat, sehatlah jasad seluruhnya dan jika ia rusak, rusaklah jasad seluruhnya. Bongkahan daging itu adalah QALBU.

Sesungguhnya orang beriman itu, kalau berdosa akan terbentuk noktah hitam di qalbunya.

Potensi Qalbu

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). (QS Al An’aam : 46)

Qalbu adalah potensi yang dipunyai hanya oleh manusia, tidak oleh makhluk yang lain. Binatang hanya dikaruniai jasad dan kemampuan untuk bertahan hidup. Malaikat hanya dibekali oleh Allah kemauan dan kemampuan untuk selalu mengabdi kepada Allah, hanya senantiasa bertasbih dan mensucikan Allah.

Namun manusia “dipersenjatai” dengan qalbu yang menyimpan potensi yang sungguh luar biasa. Potensi tersebut ada pada kesadaran, kecerdasan, perasaan, iman dan iradah.

  • Kesadaran, Ingatan —> Dzikir

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai qalbu atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya (QS Qaaf : 37)

Kesadaran akan posisi manusia sebagai khalifah akan membawa kepada kemauan untuk senantiasa melakukan tindakan yang benar. Bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah penuh dengan keteraturan dan keseimbangan, memberikan kesadaran kepada kita untuk senantiasa berdzikir ingat kepada Allah. Aktualisasi dari dzikir itu adalah senantiasa menempatkan diri selaku makhluk ciptaan Allah yang ditugasi menjadi klalifah Allah, melalui tindakan nyata membina hubungan baik secara vertikal dan horizontal. Vertikal, hanya bersembah sujud kepada Allah. Dan horizontal, berhubungan dengan sesama dengan baik dan memperlakukan makhluk lainnya dengan kasih sayang.

  • Kecerdasan, aqal —> Fikir, Paham

Kecerdasan dan karunia akal inilah terutama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Betapa karena akalnyalah, manusia mampu terbang lebih tinggi dan lebih cepat dari burung, manusia mampu berpacu lebih cepat daripada kuda, manusia mampu hidup di kedalaman laut, dan manusia mampu mengendalikan kehidupan di muka bumi.

Namun bila kelebihan akal tidak dimanfaatkan dengan sebenar-benarnya, akibat yang ditimbulkan justru sebaliknya, dapat merusak alam dan segala isinya.

Melalui akal inilah, Allah mengharapkan agar manusia dapat berfikir dan memahami segala yang ada di muka bumi dan memanfaatkannya. Pemikiran dan pemahaman tersebut pada akhirnya akan semakin memperkuat kesadaran ke Maha Kuasa-an Allah SWT.

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai qalbu yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS Al Haaj : 46)

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai qalbu, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS Al A’raaf : 179)

  • Perasaan

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Albaqarah : 260)

(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. (QS Al Mu’min : 35)

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Al Hadiid : 16)

  • Iman

Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:”Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman (QS Al Maa’idah : 41)

Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati. (QS Az Zumar : 45)

  • Kemauan, Iradah

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (QS Yunus : 99)

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: