Al Qiyadah dan Kita

”Mas, kenapa ya orang-orang tuh selalu mencari hal-hal baru. Padahal yang baru itu belum tentu bagus dan belum tentu juga bener. Contohnya, istri baru padahal istri yang lama belum habis dan nggak akan habis-habis. Cari mobil baru, padahal yang lama lebih pas sesuai dengan kepentingan dan ekonomis lagi. Lha sekarang ini, orang pada cari keyakinan baru, entah agama entah kepercayaan. Padahal agama yang keyakinan yang lama mungkin dia hanya mengenal kulitnya saja. Belum mendalami secara sungguh-sungguh sehingga timbul keyakinan. Dan akhirnya cari yang lagi baru. Ada-ada saja ya Mas ya.” Begitu celoteh Mbak Tika saat lagi menikmati suasana malam di samping kolam ikan belakang rumah dengan Mas Pras.

“Ikan Koi ini baru dibeli ya Dik ya. Kemarin kan belum ada, tadi sudah dikasih makan belum ?” tanya Mas Pras tanpa menimpali paparan istrinya.

”Mas ini gima sih, nggak ngasih komen malah nanya masalah ikan. Takut ya komen mengenai istri baru tadi. Takut tersinggung ya. Atau takut ketahuan ya. Kan sudah ada itu Mas lagunya siapa itu yang membahas selingkuh ketahuan. Oh ya … lagunya begini …. Oo Oo kamu ketuaan .. Pacaran lagi .. dengan dirinya … teman baikku. Begitu ya Mas ya. Apa benar Mas” sergah Mbak Tika sambil tersenyum nakal.

“Oalah dik … dik, apa-apa kok dihubungkan dengan masalah yang itu. Masalah yang begitu tuh kan sangat sensitip tip tip ….. Kalau salah itu namanya fitnah, jadi kan dosa kamu telah menuduh orang yang tidak berbuat. Lha kalau benar …

“Kalau benar apa Mas !. Jadi benar ya Mas telah selingkuh lagi. Dengan sapa Mas ? Orang mana Mas ? Cantik nggak Mas ? Masih muda ya Mas ? Kok mas nggak pernah cerita ? Buruan dong mas ngakunya !” laksana senapan mesin Mbak Tika memberondong pertanyaan kepada Mas Pras seraya mata melotot dan wajah ditarik kenceng.

“He he he … gimana mau berfikir jernih kalau mudah terprovokasi. Segala sesuatu tuh harus disikapi dengan pikiran yang jernih sehingga langkah yang diambilpun jadi terstruktur dan logis. Jadinya solusipun mudah didapat begitu. Segala pertanyaan yang barusan tidak perlu dijawab karena tidak ada jawabannya alias NA, Not Available. Sekarang kita ngobrol saja masalah yang pertama tadi, soal yang baru-baru.”

“Mas menghindar ya …

“Sudah Dik Tika sayang, apakah kamu tidak percaya kepada suamimu ini yang laksana arjuna. Suamimu yang telah lama kamu kenal.”

“Lha arjuna kan istrinya banyak Mas. Jadi Mas kayak arjuna ya ?”

“Ya sudah kayak Ahmad Dhani saja.”

“Tapi Ahmad Dhani kan keras Mas sama istrinya dan katanya mau selingkuh lagi. Mas kan nggak keras, kecuali saat-saat tertentu saja dibagian tertentu pula ..”

”Ihhh … bisa jorse juga ya kamu ini. Genit ahh … Ini kalau keseringan nonton infotainmen dan nonton sinetron. Mau ngobrol yang tadi nggak ?”

“Oke sajalah, tapi bener mas, sebenarnya kalau diperhatikan dalam-dalam mas ini kayak itu lho siapa itu bintang pilem bule yang keren itu … Oh ya … Brad Pitt !. Iya mas, bener lho mas kata Bu Darso tetangga sebelah begitu lho.”

“Preeet … he he he .. Mau kayak Brad Pitt atau kayak Tukul Arwana sama saja. Yang jelas suamimu ini, Prasetyo Utomo adalah Prasetyo Utomo yang begini ini. Dibilang jelak ya nggak jelek amat, dibilang cakep kenyataannya memang cakep”

“Hee … ternyata geer juga. Kalau aku mirip sapa Mas ?”

“Sudah …. Ayo kita bahas saja yang tadi”

“Aku mirip sapa mas ?”

“Oke …. Kalau Dian Sastro masih jauh, dibanding Marshanda sebenarnya sih nggak jauh-jauh amat. Kalau disetarakan dengan Maia, ada juga sih yang mirip … hidungnya. Kalau dengan Omas … kayaknya mul … oh nggak matanya yang mirip. Jadi kesimpulannya kamu tuh adalah “special one”, begitu kata Mourinho. Oke … puas kan.”

“Iya deh”

“Gini, saya pengin cerita di kampung saya dulu. Warga di kampung saya tuh lugu-lugu. Apalagi orang-orang tuanya. Kalau anak-anaknya yang sebaya dengan saya, hampir semua telah makan sekolahan. Kalau para orang tua relatif masih berfikiran ala orang jawa yang lugu dan kuno. Biasanya sendiko dhawuh kepada orang yang dihormati atau dituakan. Termasuk dalam berkeyakinan. Mayoritas atau bisa dikatakan hampir semuanya pada awalnya adalah orang Islam. Namun hanya sebagai status saja diembel-embeli dengan masih adanya kepercayaan pada warisan leluhur. Bisa dibilang sebagai unsur kejawen. Banyak diantaranya tidak melaksanakan sholat atau puasa. Namun saat hari raya, tetap merayakannya. Terhadap keyakinan anak-anaknya, cenderung mereka sangat terbuka dan membiarkan anak-anaknya mencari agamanya masing-masing. Mereka beranggapan semua agama baik dan yang penting nantinya anak-anaknya juga menjadi orang baik-baik, tidak peduli kepercayaan apa yang dianut.

Hal inilah yang dimanfaatkan oleh kalangan agama dan kepercayaan lain untuk mempengaruhi orang-orang tua disana. Tidak heran makanya, suatu saat saya lihat sebagian dari mereka telah berpindah agama. Saya lihat sudah simbah-simbah masih tertatih-tatih berjalan menuju tempat ”pengajian” agama barunya.

Juga begitu mudah mereka dikumpulkan dan diberi ”percikan iman” baru oleh seorang tokoh masyarakat disana. Semacam aliran kepercayaanlah.

Dasar perubahan keyakinan mereka itu jelas, yaitu mengikuti sang tokoh masyarakat yang dituakan serta berlandaskan motif ekonomi karena tertarik dengan iming-iming mengentaskan kemiskinan. Dan satu lagi, biasanya mereka mudah terpengaruh oleh tetangga-tetangganya melalui obrolan dan semacam testimoni. Misalnya, dengan mengikuti agama A atau aliran kepercayaan B ternyata membuat dirinya menjadi tenteram atau memperoleh rejeki tambahan, de el el.

Hingga suatu saat sang tokoh masyarakat kemudian meninggal dunia, ternyata begitu mudah pula mereka berubah pikiran untuk kembali ke Islam. Berbondong-bondong mereka kembali ke masjid untuk sholat kembali.

Yah itu lah, sebagian sifat dari warga kampung saya yang kelihatannya begitu oportunis, begitu mudah terbawa oleh angin. Salah satunya ya karena memang kurangnya ilmu keagamaan yang mereka miliki.

Tapi benar Dik, sebenarnya mereka tuh orang baik-baik, asal kita mampu untuk mengarahkan dan membimbing mereka dengan membekali ilmu yang bermanfaat bagi kehidupannya, niscaya mereka akan menuai manfaat darinya. Dan ternyata setelah diarahkan dengan baik, terlihat betapa tekun mereka mencoba untuk mengamalkan agama dengan baik.”

”Jadi kalau dikaitkan dengan fenomena sekarang gimana mas. Itu lho kayak pengikut Al Qiyadah Al Islamiyah yang sebenarnya sudah jelas sesatnya.”

”Ya itu, mungkin ya menurut saya ada beberapa sisi yang menyebabkan hal tersebut dapat terjadi. Seperti cerita saya di atas tadi, sisi umat yang kurang pemahamannya dalam keagamaan, dari sisi sifat keluguan mereka dalam mengikuti seseorang yang dituakan atau dianggap sebagai orang hebat. Juga pandangan umat untuk ”meremehkan” agama, yang penting menjadi orang baik dan ditempatkan ke tempat terbaik di negri akherat nanti.

Itu versi orang yang lugu, lha kalau versi orang yang menganggap dirinya bukan orang lugu, merasa sebagai orang yang berilmu dengan berpedoman pada logikanya, akan lain Dik.”

”Gimana mas bedanya ?”

”Orang yang menempatkan otak dan logikanya di atas semuanya, bisa jadi terperosok kedalam kesesatan. Pencarian Tuhan yang berlandaskan hanya kepada logika saja, sering menemui jalan buntu atau malah menemukan jalan tetapi sesat alias tidak benar. Lha wong sudah jelas kok, bahwa otak itu sangat terbatas kemampuannya. Dan ilmu manusia itu nggak akan mampu untuk mempelajari ayat-ayat Allah yang begitu luas. Tidak seujung rambutpun. Kan sudah jelas firman Allah dalam Al Quran yang menyatakan bahwa ilmu manusia hanya laksana setetes air dibanding dengan ilmu Allah yang Maha Luas melebihi luasnya seluruh lautan. Kalau dipaksakan menggunakan logika ya nggak bakal nyampe. Makanya dalam hal ketauhidan, Islam telah jelas menegaskan bahwa dalam wilayah ini hanya bisa diterima dengan iman saja. Yakin saja akan kebenaran yang telah ditetapkan oleh Allah.” Gitu dik. Tapi mungkin ada lagi Dik sisi dari Kepentingan Orang atau Kalangan tertentu.”

”Maksudnya apa Mas”

”Bisa jadi, semacam aliran Al Qiyadah itu adalah wujud dari kepentingan individu maupun golongan tertentu. Bisa jadi, memang imam dari aliran itu pengin menjadi seorang tokoh atau dia mempunyai misi-misi tertentu. Misalnya, dia memang nggak suka kepada Islam sehingga kemudian dia berupaya untuk memecah belah umat Islam melalui ajarannya yang menyesatkan.”

”Begitu ya Mas”

”Yang terpenting bagi kita adalah bahwa sesuai dengan keyakinan kita akan agama yang kita anut yaitu Islam adalah agama yang benar, maka kita harus berupaya untuk meningkatkan keyakinan tersebut dengan terus belajar dan belajar dan mengimplementasikan ajarannya secara baik dan benar. Keyakinan yang kuat bila telah merasuk dalam hati merupakan senjata yang ampuh dalam menghadapi bahaya apapun. Saat kita dipengaruhi oleh ajaran tertentu, kita dapat berfikir dengan jernih dan menyikapinya dengan baik. Insya Allah keimanan kita akan tetap terjaga dan semakin mantab.”

”Yah mudah-mudahan ini merupakan suatu pelajaran yang berharga bagi kita semua ya mas.”

”Iya termasuk kita juga. Ngomong-ngomong sudah larut Dik. Dan si Ganden kayaknya sudah bobok. Apakah kamu masih membutuhkan yang keras-keras Dik?”

”Ih … mas genit ah ..!”

Hayuu atuh

He he he …..

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: