Kekhawatiran seorang ibu

Kondisi kehidupan sekarang serba menakutkan ?

Simak kekhawatiran seorang ibu ini.

”Aduh, gimana ya mas. Akhir-akhir ini saya begitu khawatir akan pergaulan anak muda sekarang. Anak saya dua orang. Yang gede, cowok, lagi kuliah di Unpad, Jatinangor. Yang kecil, cewek, sekarang ini sudah SMU. Yang gede meskipun kalau kuliah cukup jauh, nggak saya perbolehkan ambil kost disana (ibu itu rumahnya di Geger Kalong Hilir). Jadi ya lumayan, setiap kali pergi kuliah dua puluh ribuan hanya untuk bis dan angkot. Nggak papa, lebih aman.” Keluh seorang ibu.

“Alasannya apa Bu kok nggak dikasih kost saja biar deket. Atau mungkin biar mobilitas cepat dikasih saja motor.” Tanyaku sekedar ingin tahu saja.

”Gimana nggak khawatir Mas. Kalau kost-kostan, takut nanti terjadi hal-hal yang menakutkan. Ya pergaulan bebas anak-anak muda, atau ikut kelompok-kelompok yang nggak jelas atau malah ikut aliran sesat. Kalau diberi motor, Mas kan lihat sendiri di Bandung ini begitu crowded. Motor kayak sekumpulan semut keluar sarang, memenuhi hampir seluruh sisi jalan. Belum lagi sekarang musim hujan. Nah … ditambah alasan satu lagi yang membuat saya lebih takut yaitu geng motor. Oalah mas … saya lihat rekaman video mereka, merinding saya. Begitu sudah rusakkah anak-anak muda sekarang ?. Mirip-mirip kejadian STPDN dululah. Masak untuk jadi anggota saja sudah kayak begitu. Diajari untuk dipukuli dan memukuli, diajari kekerasan dan akhirnya memang kejadian. Begitu mudah mereka menyakiti orang, menyiksa sampai membunuh. Padahal mereka masih anak seusia sekolah. Jiwanya sudah dicekoki oleh kekerasan dan bahasa pergaulannyapun sangat kasar.”

”Iya Bu memang nggak bener geng motor itu. Saya sih juga sebenarnya gregetan sama ulah mereka. Namun yang lebih gregetan lagi kenapa hal-hal yang meresahkan masyarakat begitu kok lambat sekali penanganannya. Setelah ada korban baru aparat bergerak dan itupun terkesan sangat lamban. Saya yakin mereka telah mengantongi data-data tentang pengikut-pengikut kelompok tersebut. Apa susahnya sih tinggal diberantas, ditangkapi yang bersalah dan diproses secara hukum.”

”Sama halnya seperti aliran-aliran sesat yang sekarang bermunculan. Saya yakin pemerintah sudah mengetahui hal tersebut sejak lama. Namun baru mulai bergerak setelah di blow up media dan setelah korban-korban berjatuhan. Apakah sengaja ya biar masyarakat ini semakin bingung dan semakin resah.”

”Iya Mas, Saya juga jadi bingung. Saya jadi ingat duka keluarga teman yang dua anaknya yang sudah kuliah ikut-ikutan sebuah aliran sesat. Bapak itu seorang PNS di Bandung, sudah hampir pensiun. Mungkin sebelum kejadian itu dia sungguh merasa beruntung dan berbahagia. Betapa tidak. Anaknya yang sulung sudah tinggal menyelesaikan skripsinya di sebuah universitas terkenal di Bandung. Sementara adiknya sudah tingkat tiga pada universitas yang sama.”

“Namun suatu saat semua impian indah tentang anak-anaknya yang dapat menjadi orang, dalam sekejap musnah. Lantaran apa ?” Hanya karena kedua orang anaknya tiba-tiba hilang tidak ketahuan rimbanya. Bapak itu segera melapor ke polisi tentang ketidak beradaan anak-anaknya. Hampir putus asa dia menunggu kedatangan anak-anaknya.”

“Hingga suatu saat setelah kurang lebih dua minggu, tiba-tibanya si sulung muncul di rumah. Si Bapak dan Ibunya sampai menangis terharu melihat keberadaan si anak yang tiba-tiba tersebut. Namun yang membuat mereka menjadi heran, ketika ditanya tentang keberadaannya selama ini dan tentang adiknya, anak tersebut hanya menjawab singkat-singkat dan terkesan cuek. Ikut kelompok tertentu katanya. Dan sekali-kali keluar jawaban yang ketus ketika ditanya tentang kelompok tersebut.”

“Dan yang membuat orang tua tadi semakin sedih dan perih adalah saat anaknya diajak sholat berjamaah di rumah, maka terlontar jawaban yang mengejutkan bak petir di siang hari : Pak, Bu saya nggak bisa lagi sholat bersama karena sudah beda keyakinan. Bapak dan Ibu masih kafir jadi saya nggak bisa sholat bersama.”

“Dapat Mas bayangkan betapa hancur hati Bapak Ibu itu. Serasa sudah lepas dari tangan kedua anaknya. Sudah berani mengkafirkan lagi. Apalagi setelah itu, kedua anaknya sudah jarang singgah di rumah karena sibuk dengan kelompoknya.”

”Sungguh tragis ya Bu ya. Dan hal tersebut banyak terjadi di masyarakat yang mungkin nggak terekspose di media. Saya juga pernah dengar dari teman saya Bu, cerita yan hampir-hampir mirip. Yaitu tentang kepedihan seorang ibu karena anaknya ikut suatu alilran yang sesat.”

”Kebetulan anak tersebut juga adalah seorang mahasiswa di sebuah perguruan ngetop di Bandung. Dia terjerumus mengikuti kelompok tersebut saat dia menjadi aktivis di kampus. Beberapa temannya ikut dan mengajaknya untuk bergabung. Karena mungkin tertarik dan pengin mencoba, akhirnya dia bergabung juga di kelompok tersebut. Lama-lama dia menyadari bahwa ternyata kelompok tersebut telah melenceng dari ajaran Islam yang lurus. Sehingga akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kelompok tersebut. Namun ternyata tidak mudah. Intimidasi, ancaman dan gangguan terus menerus diterima begitu niat keluar terlontar dari mulutnya. Dia hampir putus asa dan stress berat hingga orang tuanya tahu dan kemudian menolongnya.”

”Namun setelah kembali ke rumah, dia berubah menjadi linglung. Rasa sesal yang hebat begitu melanda jiwanya. Bahkan psikolog yang didatangi bersama orang tuanya belum dapat mengubah sikapnya. Adakalanya ketika lagi bengong dan dia kebetulan melihat ibunya, maka dia segera berlari dan langsung bersujud dan merangkul kaki ibunya dan kemudian menciumnya seraya berkata sambil menangis keras : Bu maafin saya ya, saya telah mengkafirkan ibu dan telah sesat. Kalau ibu tidak memaafkan saya gimana saya bisa hidup lagi Bu. Maafkan anakmu yang durhaka ini ya Bu ya.“

„Tentu saja ibunyapun sambil menangis mengelus kepala anaknya dan mengatakan bahwa si anak tidak perlu lagi memikirkan itu karena dia telah memaafkan dari dulu bahkan sebelum si anak meminta maaf.

„Namun kejadian tersebut berulang-ulang terus. Si anak minta maaf terus sambil bersujud mencium kaki ibunya. Mungkin dalam sehari bisa sepuluh kali hal tersebut dilakukannya. Bagaimana orang tuanya tidak sedih melihat polah tingkah anaknya kayak begitu. Sudah kuliahnya terbengkalai, kondisi jiwanyapun menjadi tidak stabil.“

„Yah begitulah mas. Saya yakin mungkin masih banyak lagi cerita-cerita sedih dari akibat yang ditimbulkan oleh salahnya orang dalam menentukan pilihan keyakinan. Dan tidak heran hal ini menyebabkan masyarakat menjadi resah dan mohon agar pemerintah segera menuntaskan masalah ini.“

„Itulah harapan saya juga Bu“

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: