Adanya ”Al Qiyadah Al Islamiyah” adalah kesalahan kita ?

Lho kok ?

Sebentar, jangan langsung di-counter dulu. Mari sedikit kita bahas statemen di atas.

Banyaknya bermunculan aliran sesat seperti halnya Al Qiyadah Al Islamiyah, merupakan salah satu akibat dari ”lemahnya” kita umat Islam. Benar kita adalah umat mayoritas di Indonesia saat ini. Sekitar delapan puluh persen lebih dari penduduk Indonesia yang berjumlah 220 juta lebih, mempunyai KTP Islam alias mengaku beragama Islam. Namun coba tengok, bagaimana nasib hidup mereka. Yang hidupnya masih dibawah garis kemiskinan masih buanyaak, yang berpendidikan rendah masih berserak, karena secara keseluruhan memang Indonesia masih merupakan negara yang ”berkembang”.

Dasar pemahaman Islam yang lemah sejak kecil

Namun yang lebih menyedihkan adalah yang berkaitan dengan ”kualitas” dari muslim di Indonesia. Banyak diantara mereka meskipun sudah menjadi muslim sejak lahir, karena orang tua mereka adalah muslim, namun dasar pendidikan agama untuk memahami Islam secara benar dan lengkap sangatlah kurang. Saya ingat bahwa sejak SD kita telah dibekali dengan pelajaran agama. Tiap minggu ada beberapa jam yang dipergunakan untuk belajar agama. Namun yang dipelajari itu-itu saja, cuma kulitnya sehingga pemahaman Islam sebagai agama yang sempurna sangatlah kurang.

Sayapun dapat membaca huruf Arab baru setelah saya belajar sendiri di rumah saat saya sudah SMP. Sekali lagi, atas usaha sendiri, tidak ”dipaksa” untuk bisa di sekolah. Sehingga tidak heran ketika saya memasuki masa SMA di sekolah agama, SMA Muhammadiyah, pun masih banyak teman-teman yang belum bisa nulis dan baca huruf Arab. Bahkan sampai lulus sekolah, ada diantara mereka yang sangat susah untuk nulis dan baca Arab.

Bagaimana kita akan mempelajari agama secara lebih komprehensif dari sumber-sumber yang benar bila membaca Al Qur’anpun masih terbata-bata. Padahal Al Qur’an adalah berbahasa Arab, dan referensi-referensi pembahasan agama banyak berasal dari sana.

Kita tidak dapat menyalahkan mereka, murid-murid sekolah umum, karena memang dalam kurikulum sekolah untuk pelajaran agama, umumnya hanya menekankan pembahasan secara umum dan menekankan hafalan yang setiap kali diulang-ulang dari SD sampai SMU (bahkan mungkin sampai PT). Tidak diajarkan kepada kita dasar-dasar yang kuat tentang pemahaman Islam yang akan menimbulkan semangat untuk belajar lebih lanjut. Semangat itu timbul biasanya disebabkan karena ”faktor hidayah” masing-masing. Ada yang terpengaruh sama orang lain atau tiba-tiba muncul keinginan untuk lebih memperdalam.

Umumnya hanya ditekankah bahwa Islamlah agama yang benar dan kita wajib mengimaninya. Namun begitu siswa dihadapkan pada realita di masyarakat begitu timbul perbedaan, baik dari agama yang berbeda maupun perbedaan firqah dan madzab, maka mereka mulai gamang. Bila mereka memperoleh orang yang tepat dalam pencarian dan pemantapan keyakinan, pemahaman keagamaan mereka niscaya akan menemukan jalan yang lurus dan benar. Namun bila ternyata mereka berkiblat kepada orang yang salah ? Tentu sangat potensial bila mereka kemudian terjebak pada pemikiran yang salah dan akan mengikuti jalan yang salah pula.

Tentu saja faktor sekolah adalah sebagian dari faktor yang membentuk anak-anak, remaja menjadi orang dewasa dalam memahami dan meyakini keimanannya. Faktor-faktor yang berpengaruh lainnya adalah faktor keluarga dan lingkungan.

Dijauhkan dari Sumber segala Sumber kebenaran

Pernah dengar senandung Rhoma Irama yang menyentil ulah manusia dan modernisasi, berikut sebagian sentilannya :

Modernisasi yang kini melanda dunia
Menjadi masalah
Ternyata masih banyak yang salah menafsirkannya
Di dalam berkiprah
Modern dicerna sebagai kebebasan
Bebas lepas tanpa adanya batasan

Kumpul kebo bukan modern
Tapi suatu kemesuman
Mabuk mabuk bukan modern
Tapi suatu kemungkaran

Karena takut dikatakan ketinggalan
Ee ikut-ikutan
Saringlah dulu yang datangnya dari barat
Jangan asal telan
Ambil isi dan campakkanlah kulitnya
Ambil yang baik dan campakkan yang buruknya

Berkemajuan dan juga berpendidikan didalam segala bidang
Ini modern
Kemanusiaan tinggi nilai peradaban di segala pergaulan
Ini modern
Mari membangun negara
Dengan landasan agama

Modernisasi yang kini melanda dunia
Menjadi masalah
Ternyata masih banyak yang salah menafsirkannya
Di dalam berkiprah
Modern dicerna sebagai kesombongan
Tidak percaya lagi kepada Tuhan

Tak sembahyang bukan modern
Tapi suatu kemungkaran
Urakan bukanlah modern
Bahkan nyaris seperti hewan

Memakai jilbab rapi sopan dan beradab dan ini perintah Tuhan
Dipersoalkan
Pakaian mini yang membangkitkan birahi dan mengundang kejahatan
Tak keberatan
Bila aurat terbuka
Pemerkosaan melanda

Atau tentang koran dan Qur’an (saya lupa judulnya)

Membaca koran jadi kebutuhan
Sedang Al Qur’an Cuma perhiasan
Bahasa Inggris sangat digalakkan
Bahasa arab katanya kampungan

Saya rasakan sendiri memang bahwa sentilan Bang Rhoma tadi ada benarnya juga dikehidupan kita. Pengalaman saya sendiri juga membenarkan hal itu. Rasa cinta ”membaca” Qur’an rasanya tidak tumbuh di hati saya. Membaca disini tidak hanya berarti membaca dalam arti sebenarnya melainkan mempelajari dan mendalami makna ayat-ayat yang terkandung didalamnya. Saya berupaya untuk istiqamah untuk minimal menyediakan beberapa waktu saja untuk membaca Qur’an, namun sering terlewatkan. Sementara kalau koran nyaris tidak terlepas dari mata kita, disamping setiap hampir setiap haripun selalu diselingi dengan nonton teve.

Bahasa Inggrispun meskipun nggak secara aktif, sedikit-sedikit bisalah. Lha kalau bahasa Arab, babar blas. Dan kayaknya mungkin itu penyakit dari banyak muslim di Indonesia. Mudah-mudahan saya diberi istiqamah untuk belajar Qur’an. Aamiin.

Salah satu yang menyebabkan mentalitas manusia muslim Indonesia banyak yang begitu adalah bahwa kita sering dijejali dengan ajaran-ajaran yang maunya mensucikan Al Qur’an, namun sebenarnya justru malah menjauhkan umat dari Qur’an. Mungkin dulu kita berfikir bahwa ajaran-ajaran tersebut memang benar, namun setelah apa yang menimpa kita sekarang ini, perlu juga kita pertanyakan kebenarannya.

Terlepas dari bahwa kita salah menafsirkan maksud suatu ayat Qur’an atau Hadits nabi, mungkin kita perlu merenungkan juga ajaran-ajaran dimaksud. Apa itu ?

Misalnya, Al Qur’an hanya boleh disentuh pada saat kita dalam kondisi suci. Bagus memang bila kita menghormati mushaf Al Qur’an (cetakan) dengan berwudlu dulu sebelumnya. Namun saat kita berada didalam bis atau pesawat dan dalam keadaan tidak bersuci, saat ada keinginan untuk membaca Qur’an namun terbentur pada ketentuan tadi sehingga kita batalkan. Banyak momen lain dimana harusnya Al Qur’an dapat dibaca oleh seorang muslim, menjadi gagal. Akhirnya orang mulai malas menyentuh Al Qur’an.

Apalagi bagi seorang wanita muslimah. Saat dia didatangi oleh tamu bulanan, ada yang berkeyakinan menyentuh Qur’an haram hukumnya. Bahkan tidak hanya menyentuh, melafadzkannyapun tanpa menyentuh sudah dilarang. Jauh lagi kita dari Al Qur’an.

Umat dijauhkan dari pedoman hidupnya, Al Qur’an.

(Continued … Penyempitan makna ayat Qur’an)

Tags: , ,

No Responses to “Adanya ”Al Qiyadah Al Islamiyah” adalah kesalahan kita ?”

  1. NAJIB Says:

    ya begitulah kehdupan klo ngak di topang agama sejak dini( masa kecil) tentu akan lebih parah akibatnya . sukur yg penting kita masih ada secuil iman..yg syah, dri pada musadek..ihh iblis pengodanya lebih hebat coy..( iblis kelas atas) jujur aku pun begitu kadang sholat,ngaji,dsb.
    yg penting 1 pedoman kupas apa itu kandungan dri pada surat alfatihah..qulhu,annas alaq dah itu aja deh..jgn muluk2 takut terjerumus yg ngak kita fahami..hati2 semakin kita diatas semakin kuat iblis yg ganggu kita. eling lamituhu mareng gusti allah .

  2. bambangp Says:

    sepertinya kesalahan tsb memang berangkat dari kurangnya pendidikan agama dari sejak kecil. sayapun sering menjumpai kadang ada juga orang yang sok islami, tapi setelah di debat oleh yang lebih paham tentang al-qur’an, diapun tak dapat menjelaskan, alias ilmu agamanya hanya sebatas kulit kacang.

    IMHO, mungkin hal yang pertama harus kita lakukan adalah menanamkan pemahaman konteks islam berdasarkan al-qur’an, seperti pak prabu bilang tadi, yang penting kita tahu kandungan nya dan dapat mengamalkan, mulai dari dalam diri, lalu kelingkungan keluarga. sehingga kelak generasi muda kita punya pondasi yang kuat tetang islam sebagai agamanya.

    wallahu ‘alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: