Singa bermental kambing

Pagi yang indah. Gelap mulai suram sirna ditimpa oleh sinar mentari yang mulai muncul mengawali hari. Sehabis sholat subuh, Mas Pras dan Mbak Tika duduk di teras dekat taman depan rumah menikmati udara pagi disela rintik hujan gerimis. Sedikit gelap masih tersisa, namun segarnya suasana dan hijau basahnya tetanaman membuat hatipun menjadi basah. Adem dan ayem.

“Mas, indah dan menyegarkan ya pagi ini” ujar Mbak Tika mengawali pembicaraan.

“Iya dik, rasanya paru-paru ini begitu lapang saat menyedot udara pagi yang segar ini. Dan mata seakan terpuaskan ketika memandang kesegaran alam pagi ini.”

”Iya Mas, tapi aku masih penasaran sama pembicaraan kita semalam mengenai kondisi masyarakat dan negara kita yang kayaknya belum bisa lepas dari keterpurukan. Sementara pembangunan terus didengungkan, namun berita korupsi dan penyelewengan uang rakyat sebanding dengan berita tentang terjadinya bencana di seantero wilayah nusantara. Dari berita tentang pertumbuhan ekonomi dibarengi dengan berita tentang penghamburan uang negara oleh para pejabat pemerintah kita. Yang pengin tunjangan dinaikkanlah, yang membangun rumah dinas bak istana, yang jalan-jalan ke luar negri dengan mengangkut seluruh anggota keluarga. Mereka pejabat atau penjahat ya Mas ?”

”Huss … jangan bilang begitu dik. Berbaik sangkalah kepada mereka. Toh merekalah yang telah kita pilih melalui proses pilkada ataupun pilpres.”

”Ah … Mas, kayak nggak tahu aja. Lha wong setiap kali pilkada pasti selalu ada keributan kok. Yang kalah selalu ngomong kalau telah terjadi kesalahan atau merasa digembosi dan dianiaya sehingga mengerahkan pendukungnya yang telah dibayar untuk mendemo terhadap hasil pilkada itu. Demo ratusan orang seolah mewakili seluruh masyarakat. Terus opini disebar di berbagai media. Nah, yang menang kemudian membalasnya dengan bantahan akan kecurangan di pilkada. Kemudia dia mengerahkan massanya untuk menggelar demo tandingan. Akhirnya kedua kubu bentrok. Polisi campur tangan. Sehabis itu selesai sudah, beritanya nggak ada lagi. Penyelesaian dan hasil akhirnyapun kadang hilang tergantikan oleh berita lain yang sedang hot. Demokrasi macam apa itu !” jawab Mbak Tika sewot.

”Ya jangan trus marah-marah gitu dong Dik. Nanti cepat tua lho he he he … Kan kita lagi belajar demokrasi. Mungkin ada yang belum mengenal arti demokrasi dan belum mengenal arti legowo ketika kalah bertganding. Itu soal lain. Kalau menurut saya sih, sikap tersebut didasari oleh pikiran dia bahwa dia merasa rugi besar karena telah mengeluarkan modal besar untuk ikut pilkada dan ternyata tidak balik modal he he he … Meskipun dia orang partai, tapi kan pasti ada modal pribadi yang dipakai untuk investasi. Yang pada gilirannya seandainya nanti menang dia harus mengembalikan modal partai dan modal pribadi. Astaghfirullah .. saya kok jadi berburuk sangka gini ya ..”

“Nggak papa kok Mas. Lha wong begitu itu memang sudah menjadi rahasia umum kok. Dan partai-partai yang ada kebanyakan memang bergerak hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Kalaupun mereka mengungkapkan sebagai pejuang rakyat dan selalu memenuhi aspirasi rakyat, namun pada kenyataannya itu sebagai kedok belaka. Tujuannya adalah melanggengkan kekuasaan untuk menghidupi partai yang didalamnya terdapat banyak pribadi orang dengan berbagai ambisi.”

“Iya ya Dik. Saya baca di Pikiran Rakyat kemarin, masak untuk menjadi calon independen diluar partai yang akan ikut pilkada harus memenuhi persyaratan yang wuihhh … hebat betul. Harus didukung oleh 3 % penduduk dan menyetor uang sebesar 1,3 M sebagai apa ya kemarin. Anggap saja sebagai syarat penitipan.”

“Ya begitulah. Tapi sekarang saya pengin cerita Mas. Sekali-kali dong saya yang cerita tidak Mas melulu. Gini-gini saya juga rajin membaca lho Mas tidak hanya nonton sinetron terus.”

“Tapi kemarin saya lihat kamu masih melihat sinetron di RCTI, apa itu …. Aisyah ya !”

“Ah .. itu karena saya hanya penasaran saja Mas. Masak ceritanya nggak habis-habis dan sengaja dipanjang panjangin dan semakin nggak logis saja.”

“Sudah tahu dibodohin ee masih terus nonton juga. Gimana sih!”

“Iya Mas habis ini nggak mau lagi saya dibodoh-bodohin. Saya akan lebih selektif dalam nonton teve terutama untuk kebaikan si Ganden juga.”

”Oke gimana dik cerita yang akan kamu sampaikan tadi”

”Begini Mas jalan ceritanya :

Alkisah, disebuah hutan belantara ada induk singa yang mati saat melahirkan anaknya. Bayi singa tersebut lahir disisi induknya yang telah mati, sehingga dia hidup tanpa perlindungan dari induknya. Hinggga pada suatu saat lewatlah sekelompok kambing dihadapan anak singa itu. Anak singa itu bergerak lemah sehingga menarik perhatian rombongan kambing tersebut. Salah satu kambing merasa tergerak dan iba hatinya melihat anak singa itu yang hidup sebatang kara. Dan kemudian timbullah nuraninya untuk merawat dan melindungi bayi tersebut.

Induk kambing tersebut kemudian menghampiri dan membelai anak singa tersebut. Merasakan kehangatan dan kasih sayang dari induk kambing tersebut, anak singa kemudian mengikuti induk kambing kemanapun perginya. Dan mulai saat itu dia telah menjadi satu dengan rombongan kambing.

Selanjutnya anak singa tumbuh dan besar dalam asuhan induk kambing dikomunitas keluarga kambing. Ia menyusu, makan minum dan bermain dengan anak-anak kambing. Tingkah lakunyapun seperti layaknya kambing. Bahkan suaranyapun seperti layaknya kambing. Mengembik tidak mengaum.

Anak singa tadi merasa bahwa dirinya adalah kambing. Dan dia tidak pernah merasa sebagai singa karena kesehariannya bergaul dengan komunitas kambing.

Pada suatu hari, seekor srigala buas menyerang kelompok kambing tersebut sehingga menimbulkan kepanikan diantara kambing-kambing. Srigala itu memburu kambing untuk dimangsa, hingga kambing-kambing berlarian panik menyelamatkan diri masing-masing. Induk kambing yang ketakutan meminta anak singa yang sudah tampak besar dan kuat untuk menghadapi srigala buas itu.

”Kamu adalah singa, cepat hadapi srigala itu. Mengaumlah, pasti srigala itu akan lari ketakutan mendengar suaramu.” kata induk kambing.

Tapi anak singa itu justru lari ketakutan bersama-sama kelompok kambing yang bercerai berai. Bahkan ia berlindung dibalik tubuh induknya dan berteriak keras-keras. Teriakannya adalah embikan bukan auman. Dan akhirnya salah seekor kambing yang ternyata adalah saudara sesusuannya, menjadi korban srigala itu.

Induk kambing sedih dan dia menyalahkan anak singa karena tidak berbuat apa-apa. Anak singa itu hanya bisa menunduk dan tidak paham akan perkataan induknya bahwa dialah yang seharusnya mengusir srigala ganas itu. Dia merasa sebagai takut sebagaimana layaknya kambing-kambing yang lain. Dia merasa sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa atas kematian saudaranya.

Hari berikutnya srigala itu datang lagi. Kembali kambing-kambing lari pontang-panting menyelamatkan diri dari terkaman srigala. Anak singa lari disamping induk kambing yang tengah ketakutan. Dan akhirnya … induk kambing tertangkap dan dalam cengkraman srigala itu. Semua kambing tidak ada yang berani menolong. Anak singa itu karena tidak kuasa melihat induk kambing yang selama ini mengasihinya, akhirnya nekat lari menyerunduk srigala itu. Srigala kaget sekali melihat ada seekor singa dihadapannya. Ia melepaskan cengkramannya.

Srigala itu sangat ketakutan. Dan siap untuk lari untuk menyelamat diri bila singa itu menyerangnya. Hingga … dengan marah anak singa kemudia berteriak sekerasnya : ”Emmmbiiik !” mundur kebelakang mengambil ancang-ancang untuk menyerunduk lagi.

Melihat tingkah anak singa itu, srigala yang ganas dan licik itu langsung tahu bahwa yang ada dihadapannya adalah singa yang bermental kambing. Tidak ada bedanya dengan kambing.

Seketika takutnya hilang. Ia bersiap untuk memangsa kambing bertubuh singa itu. Saat anak singa menyerunduk srigala, maka srigala langsung berkelit dan mampu merobek wajah anak singa itu dengan cakarnya.

Anak singa itu terjatuh dan mengaduh, seperti layaknya kambing mengaduh. Induk kambing yang telah selamat menjadi cemas menyaksikan peristiwa itu. Ia heran kenapa anak singa dengan tubuh kekar kalah oleh srigala. Bukankah singa adalah raja hutan?

Tanpa memberi ampun srigala itu menyerang anak singa yang masih terjerambet itu. Dia siap menghabisi nyawa anak singa itu. Disaat yang kritis itu, induk kambing yang tidak tega, dengan sekuat tenaga menerjang sang srigala. Srigala terpelanting dan anak singa terbangun.

Tiba-tiba terdengar auman singa yang dahsyat dari seekor singa dewasa yang muncul di tempat itu.

Semua kambing merapat ketakutan dan anak singapun ikut merapat. Sementara srigala langsung lari terbirit-birit. Saat singa dewasa itu hendak menerkam kawanan kambing itu, ia terkejut melihat ada anak singa ditengah-tengah kawanan kambing.

Beberapa ekor kambing lari dan yang lainpun kemudian ikut melarikan diri termasuk anak singa. Singa dewasapun tertegun dan heran menyaksikan anak singa ikut melarikan diri bersama kawanan kambing. Ia mengejar anak singa dan berteriak : ”Hai kamu jangan lari! Kamu anak singa, bukan kambing. Aku tidak akan memangsa aanak singa.”

Anak singa terus berlari mengikuti larinya kawanan kambing. Singa dewasa terus mengejar dan membuat ketakutan anak singa semakin bertambah. Singa dewasa malah mengejar anak singa, tidak jadi mengejar kambing yang akan dijadikan mangsanya.

Hingga akhirnya anak singa tidak bisa lari lebih jauh lagi karena telah tertangkap. Dengan ketakutan anak singa itu menghiba:

”Jangan bunuh aku, ampuun!”

”Kau anak singa bukan anak kambing. Aku tidak akan membunuh anak singa!”

”Tidak, aku anak kambing!” sambil meronta dia berteriak yang terdengar seperti embikan bukan auman.

Singa dewasa heran bukan main. Bagaimana mungkin ada anak singa bersuara kambing dan bermental kambing. Dengan geram maka dia menyeret anak singa itu ke sebuah danau. Dengan dipaksa anak singa tadi disuruh menyaksikan cermin dirinya bersama singa dewasa di kejernihan air danau.

Saat anak singa menyaksikan bayangan dirinya yang mirip dengan singa dewasa, dia terkejut: ”Hai .. rupa dan bentukku mirip rupa dan bentuk kamu. Seekor singa!”

”Ya karena kamu sebenarnya adalah anak singa bukan anak kambing!” tegas singa dewasa

”Jadi aku bukan kambing? Aku seekor singa?”

”Ya kamu adalah seekor singa, raja hutan yang berwibawa ditakuti oleh seluruh isi hutan. Ayo akan aku ajari kamu bagaimana menjadi raja hutan!” ajak singa dewasa.

Singa dewasa kemudian mengangkat kepalanya dengan penuh wibawa dan mengaum dengan keras. Anak singa itu lalu menirukan, dan mengaum dengan keras. Ya, mengaum dan menggetarkan seantero hutan. Tak jauh dari situ, srigala ganaspun semakin lari dengan kencang mendengar auman anak singa.

Anak singa itu kemudian berteriak lagi penuh kemenangan. Auman yang dahsyat, bukan embikan lagi. Maka tersenyum dengan banggalah singa dewasa disebelahnya.

Disela auman, anak singa berkata:”Aku adalah seekor singa! Raja hutan yang perkasa!”

(diambil dari : KETIKA CINTA BERTASBIH 2 : Habiburrahman El Shirazy)

”Begitu Mas jalan ceritanya. Apa hikmah yang dapat kita ambil dari cerita itu ya?”

“Ah saya yakin kamu sudah tahu Dik!. Menyimak cerita itu, dikaitkan dengan bangsa Indonesia saat ini, baik dari sudut kondisi serta potensinya, maka benang merahnya adalah berbagai kemungkinan :

  • Banyakkah manusia yang singa bermental kambing?
  • Banyakkah manusia yang singa bermental singa?
  • Banyakkah manusia yang tidak sadar bahwa dia adalah singa bermental kambing?
  • Banyakkah manusia yang sadar bahwa dia adalah singa bermental kambing dan berupaya untuk mengubah dirinya menjadi singa bermental singa?
  • Banyakkah manusia yang sadar bahwa dia adalah singa bermental kambing dan tidak ada kemauan untuk mengubah dirinya menjadi singa bermental singa karena dia menikmati status itu?
  • Banyakkah ….?

Padahal negara kita negara besar Dik. Negara kita begitu luas dengan karunia Allah yang begitu luar biasa. Manusia Indonesia berjumlah 230 juta-an, hanya kalah sama Cina, India dan Amerika. Alam indah, potensi alam melimpah, namun : Banyakkah manusia Indonesia yang adalah singa bermental kambing?”

Tags: ,

No Responses to “Singa bermental kambing”

  1. koncling Says:

    bagus bgt ceritanya pak..
    makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: