Aliran sesat dan atau aliran salah

Perbedaan pendapat adalah hal yang biasa dan sudah sepatutnya ada dalam setiap pembahasan suatu masalah. Perbedaan pendapat dilatarbelakangi dengan beragamnya pola pikir, kedalaman dan kejernihan ilmu serta status sosial kemasyarakatan. Asal jangan ditunggangi dengan kepentingan pribadi atau kelompok, maka perbedaan pandangan adalah suatu rahmat.

Perbedaan pandangan tidak harus selalu dicari titik temunya karena bisa saja memang tidak akan bertemu, lantaran jalannya berbeda atau berseberangan. Namun sikap menerima atas perbedaan dan tidak memaksakan kehendak adalah suatu sikap yang terpuji.

Hanya yang perlu diperhatikan adalah bagaimana orang awam menyikapi perbedaan itu. Begitu membanjirnya informasi dari berbagai sumber dan begitu banyak silang sengketa pendapat mewarnai media, awam terkadang menuai kebingungan. Kebingungan publik.

Hanya dengan makna perbedaan kata-katapun kadang malah semakin membingungkan, contohnya antara aliran sesat dan aliran salah.

Umat adalah pengikut. Pengikut hanya mengikuti. Mengikuti siapa?

MUI Anggap Wacana, Gus Dur Cuek

Hariyanto Kurniawan – Okezone

JAKARTA – Bukan Gus Dur kalau tidak nyeleneh. Dianggap Majelis Ulama Indonesia (MUI) cuma wacana saat bicara Al Qiyadah, Gus Dur malah tambah cuek.

“Biarian ajalah kalau dianggap wacana, tidak apa-apa. Sebentar lagi, orang-orang MUI juga perlu diganti lah wong sudah tidak bener, tidak karu-karuan,” jawab Gus Dur santai, usai acara Talkshow Radio 68H, Utan Kayu, Jakarta Timur, Sabtu (3/11/2007).

Dalam kesempatan itu Gus Dur juga mengatakan perlunya pengkaderan Kyai untuk mengantisipasi masyarakat dari pengaruh sesat.

“Pendidikan kader Kyai memang perlu tapi bukan oleh MUI, tapi oleh masyarakat umum. Jadi lebih baik biarkan saja pada masyarakat. Kalau saya ini, tidak merasa terwakili oleh MUI. Kalau Cuma ngomong doang tidak ada artinya,” pungkasnya.

MUI Juga Bisa Dinilai Sesat oleh Aliran Lain

Jakarta, gusdur.net

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan agar Majlis Ulama Indonesia (MUI) tidak menggunakan istilah sesat dalam menyikapi lahirnya aliran-aliran keagaman dalam Islam belakangan ini. Gus Dur menganjurkan, mendidik kembali umat adalah langkah yang paling baik.

“Jangan gunakan kata-kata sesat atau sebagainya. Itu tidak mendidik orang sama sekali. Bilang saja, ajarannya salah menurut Islam Sunny. Karena masing-masing (aliran, red.) punya penilaian sendiri. MUI juga bisa dinilai sesat oleh aliran lain.”

Misalnya aliran Al Qiyadah al-Islamiyah, kata Gus Dur, dianggap salah karena pemimpinnya menganggap dirinya Rasul. “Menurut pandangan Islam Sunny, Nabi Muhammad itu utusan Allah yang terakhir,” jelas Gus Dur saat jumpa pers di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (31/10/2007) sore.

Mantan Presiden RI ini menghimbau agar para pengikut aliran apapun tidak dihadapi dengan kekerasan. “Kita harus mendidik lagi umat Islam yang bersikap seperti itu. Jangan rumahnya dihancurkan,” tegas Gus Dur.

Oleh sebab itu, dia menilai kelompok-kelompok pengaku Islam yang menghancurkan barang milik aliran-aliran agama ini melanggar undang-undang. “Mereka harus dihukum. Ini yang salah polisinya, karena nggak berani nangkep,” katanya.

Gus Dur pun meminta MUI dan umat Islam tidak usah campur tangan lagi dalam persoalan aliran Al-Qiyadah ini.

Ini biar diurus oleh Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) Kejaksaan saja. Apalagi pemimpinnya sudah menyerahkan diri. Ya sudah, selesai.”

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: