Tunjangan reses anggota dewan

“Mas, reses tuh apaan sih?” Tanya Mbak Tika mengawali perbincangan pagi hari ini.

”Oooo … reses itu luka yang sudah cukup parah sehingga sampai timbul nanah dilukanya” Jawab Mas Pras santai sambil memandang tanaman beringin kerdil yang lucu.

”Beringinnya bagus ya Dik ya. Batangnya gedhe kayak sudah tua tapi daunnya kecil-kecil dan cukup rimbun juga.”

“Lha iyalah, lha wong dibonsai. Mas ini gimana sih, jawab yang bener dong. Masak reses disamakan dengan abses.”

“Ooooo … reses tuh temennya roti yang ditaburkan diatas roti yang diolesi dengan mentega. Manis lho dik, kan pabriknya dekat di Cimahi menuju Padalarang. Hampir setiap hari kan kita melewatinya.”

“Aduh … Mas ini … plesetan melulu. Itu mah mises. Itu lho yang anggota dewan sering omongkan.”

”Kenapa sih tanya reses segala?”

”Ini lho saya baca koran pagi ini bahwa anggota dewan Jabar minta dinaikkan tunjangan reses dari 6 juta menjadi 15 juta per orang per kegiatan. Asyik ya Mas ya jadi anggota dewan sekarang. Perasaan ada banyak tunjangan mereka dapatkan. Tunjangan rumah, tunjangan transportasi, tunjangan saat hearing, tunjangan saat kunjungan. Gajinya gedhe lagi. Berarti kerja mereka berat ya Mas ya. Sampai saya lihat di teve, sewaktu ada sidang sebagian dari mereka kelihatan capek dan tertidur atau terkantuk-kantuk sambil mendengarkan orang dimimbar deklamasi.”

“Husss … bukan deklamasi itu. Itu pidato. Kamu tuh muji atau ngeledek. Masak ketiduran ditengah sidang dibilang kecapekan habis kerja berat. Mereka tuh kerjanya ya mendengar aspirasi rakyat pemilihnya dan menyampaikan kepada pemerintah untuk ditindaklanjuti. Yah mungkin mereka lagi jenuh mendengarkan orang lagi pidato yang monoton sehingga materi pidato serasa lagu mengalun meninabobokannya. Coba kalau yang pidatonya Tukul Arwana atau Dian Satro yang pakai pakaian seksi, mungkin mereka akan bersemangat dan seketika melupakan rasa kantuknya.”

”Eeee … sekarang mas yang centil ya. Mereka kan wakil yang telah kita pilih dan tengah memperjuangkan kepentingan kita tho Mas. Masak sidang dewan disamakan dengan pertunjukan empat mata dan dijadikan ajang gerr gerr-an. Ajang sidang kan ajang serius, makanya kadang ada yang sampai berantem segala he he he …”

“Cerdas juga kamu ya Dik ya. Saya hanya bergurau kok menyikapi sikap beberapa anggota dewan yang tidak mencerminakan kebijaksanaan dan ke-dewan-annya. Sehingga tidak heran kemudian muncul lagunya Iwan Fals tentang wakil rakyat yang menyentil sikap anggota dewan.”

“Oh ya tentang reses tadi gimana Mas?”

“Reses itu adalah masa istirahat anggota dewan dari sidang-sidang di “kantor”-nya. Istirahat disini artinya tidak istirahat dirumah begitu saja terus tidur. Bagi anggota dewan yang terhormat, masa istirahat harus dimanfaatkan untuk mengunjungi rakyat didaerah pemilihnya. Menampung aspirasi mereka untuk kemudian disampaikan kepada pemerintah. Pada masa reses biasanya mereka mengundang masyarakat untuk berkumpul membicarakan permasalahan masyarakat yang lagi hangat-hangatnya dan butuh solusi. Dan untuk mengundang orang serta mengadakan hajatan itu, maka diperlukan dana. Coba baca lebih lanjut dari berita koran itu. Lepas dari jujur atau tidaknya mereka, mereka mengatakan untuk kegiatan itu sering nombok pake duwit pribadi.”

“Wah … hebat juga ya pengorbanan mereka. Tapi hebatnya mereka rata-rata kok semakin kaya ya setelah menjadi anggota dewan. Berarti dari gaji dan tunjangan yang mereka dapatkan, pasti dong mereka dapat menabung karena ada sisa. Sehingga usulan untuk menaikan tunjangan reses pasti akan mempertebal kantong mereka.”

“Ya … kita sih berprasangka baik saja Dik. Kekayaan mereka kan sudah diaudit dan mungkin mereka juga memperoleh tambahan kekayaan dari hasil bisnisnya atau mungkin malah dari harta warisan.”

“He he he … malah Mas, di kota G…. saya punya saudara yang anggota dewan jadi tambah keren lho Mas. Rumahnya ada dibeberapa sudut kota, bagus-bagus lagi. Ditambah lagi istrinya juga nambah. Memang dia pola pikirnya tambah maju ya ….”

“Itu kan oknum Dik. Mereka mungkin nggak kuat menyandang gelar yang terhormat sehingga inginnya dihormati saja. Padahal sesungguhnya mereka kan wakil kita. Harusnya mereka melayani kita ya Dik ya. Tapi saya yakin kok, masih banyak anggota dewan yang masih mempunyai nurani sehingga mereka tetap memperjuangkan nasib rakyat-nya.”

“Kembali ke tunjangan reses tadi Mas. Menurut Mas layak nggak uang sebesar itu dimintakan lagi oleh mereka?”

“Kalau saya sih prinsipnya sederhana saja. Kewajiban adalah diatas hak. Selagi kewajibannya telah dilakukan dengan baik dan hasilnya nyata, maka hak dengan sendirinya akan terpenuhi. Wajarkah orang yang lebih menuntut haknya untuk dipenuhi sementara kewajibannya dibiarkan terbengkalai? Tolok ukur pelaksanaan kewajiban adalah kinerja dan hasil yang telah dicapai berupa efek dan akibat bagi rakyat banyak. Begitu Dik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: