Ene

Ene … demikian panggilan kami kepada beliau (e pertama seperti e pada benang, e kedua seperti e pada elok). Kenapa tidak Bue atau Mae ? Kata kakak-kakak sih, karena ada salah seorang dari mereka, saya lupa siapa, sewaktu masih bayi manggil ke Ibu dengan ene. Panggilan ene itu keluar dari mulut mungilnya tanpa dipaksa atau dibawah tekanan oleh apa dan siapapun. Sehingga setelah dia beberapa kali menyebutkan kata serupa dan tidak berubah-ubah, maka akhirnya setelah era itu panggilan ene kepada ibu telah menjadi pakem. Semacam panggilan sayanglah. Dan memang kata ene adalah unik karena sampai dengan saat ini saya belum menemukan dikeluarga lain panggilan kepada ibu serupa itu. Biasanya kalau nggak mama, mami, mbok, mboke, bu, bue, bunda dan lain lain.

Ene-lah yang telah melahirkan kami ke dunia melalui rahimnya. Ya .. kami sembilan bersaudara dapat menghirup udara dunia melalui perutnya, setelah mengalami rasa sakit tiada terperi dan perjuangan hidup mati. Betapa sembilan kali mengalami proses persalinan normal adalah suatu hal yang luar biasa. Dan kemudian sekitar dua tahunan kemudian setelah satu diantara kami lahir kedunia, air susunyalah yang selalu mengisi rongga kami. Serta senyum dan kasih sayangnyalah yang selalu menyertai tangisan kami.

Dengan jarak antara kami berselisih sekitar tiga tahunan, maka setelah melahirkan anak pertama rasanya ene tidak pernah berhenti untuk mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan. Hingga kali yang ke sembilan. Kalau tiga kali sembilan sama dengan dua puluh tujuh, maka selama dua puluh tujuh tahun, ene seakan berada dalam proses pengembang biakan manusia selama itu pula.

Namun tidak hanya itu saja. Seraya menumbuhkan kasih sayang keluarga berproses, untuk membentuk ananda sesuai dengan harapan agar menjadi putra putri sholeh sholihah, maka limpahan kasih sayang dan cucuran keringat menemani keseharian tiada henti.

Kami para anak menyaksikan betapa tanpa pembantu, ene mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. Sehingga tanpa dimintapun, anaknya yang sudah merasa besar akan dengan rela untuk membantu. Rasanya saya melihat jarang sekali ene berpangku tangan. Kalaupun ada waktu luang sore ataupun malam hari, maka segera beliau meraih jarum dan benang kruistik untuk merenda atau menyulam benang woll menjadi sarung bantal, selendang atau taplak meja.

Lantaran rata-rata selisih kami adalah tiga tahun, maka jarak umur saya, anak ke tujuh, dengan anak tertuapun menjadi cukup jauh. Saat saya duduk di esde, maka kakak-kakak telah ada yang memasuki sekolah esempe, esema dan lagi kuliah. Bahkan anak tertua sudah bekerja. Saat kakak nomor dua, perempuan, melangsungkan pernikahan, si bungsu masih batita.

Dengan penghasilan Bapak yang tidak seberapa, ene mengolahnya menjadi serba cukup. Walau hanya lulusan SR, kemampuan beliau dalam mengelola keuangan keluarga patut dibanggakan. Anak-anaknya, alhamdulillah, makan sekolah semuanya. Bahkan saya sempat mencuri dengar, disela ketatnya masalah keuangan ene masih sempat memberikan utangan kepada tetangga yang memerlukan. Prinsip ene sederhana, bila kita ada kemampuan untuk membantu tetangga maka berikanlah. Niscaya suatu saat kita akan dibantu oleh orang lain pada saat kita berada dalam kesulitan melalui pertolongan orang lain yang mungkin jauh dari perkiraan.

Dan keyakinan itu terbukti. Saat kami membutuhkan biaya yang cukup banyak karena secara bersamaan anak-anaknya masuk sekolah dari esde sampai perguruan tinggi, maka ”bantuan” tak terduga sering datang mengunjungi.

Kenangan tentang ene adalah kenangan tentang keindahan. Kasih sayangnya begitu melimpah melingkupi kami sembilan bersaudara. Nyaris tidak pernah saya lihat ene memperlihatkan wajah duka atau senyum lara. Nasehatnya adalah teladan dari apa yang telah dia lakukan. Tidak banyak kata-kata ujaran yang beliau sampaikan, namun begitu banyak ajaran yang beliau sampaikan melalui teladan sikap dan tindakan.

Hidup ene adalah untuk keluarga. Melakukan pekerjaan rumah adalah hari-harinya. Sehingga saat beliau telah sepuh dan menderita sakitpun, tetap melakukan pekerjaan rumah dengan giat. Kami kadang tidak tega melihatnya. Dan manakala kami melarangnya untuk mengerjakan sesuatu, maka ujaranya:”Aku ora betahe nek meneng wae. Wis ora opo-opo lha aku ijik kuat kok nyapu latar iki. Coba deloken latare kan wis kotor ngono.”

Suatu kali ketika kakak nomor dua ”mengambil” ene untuk dibawa ke Jakarta, selang beberapa hari ene sudah gelisah. ”Aku pengin mulih wae ning omah. Habis disini disuruh duduk saja, nggak bisa apa-apa. Mending kalau dirumah bisa ngapain-ngapain.” Begitulah ene.

Yang membuat saya sedih hingga sekarang, adalah ene tidak dapat menggendong cucunya dari saya. Karena saat istri mengandung, ene telah meninggal dunia. Namun sosok ene adalah sosok yang tidak pernah lekang dalam ingatan kami. Sosok ene adalah sosok penuh kebersahajaan, pengabdian dan kasih sayang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: