Kecintaan akan dunia

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS Ali ‘Imran [3] : 14)

Allah telah mengindikasikan beberapa sifat manusia tentang kecintaannya akan dunia. Dalam ayat diatas, setidaknya terdapat naluri rasa cinta manusia akan dunia dalam tiga tujuan yaitu : cinta laki-laki terhadap wanita (dan sebaliknya), cinta kepada anak-anak dan harta kekayaan (emas perak (uang), kuda pilihan (kendaraan), binatang ternak, sawah ladang (hasil pertanian)).

Keindahan dunia

Dan memang indah dijadikan dalam pandangan manusia akan perhiasan dunia itu. Betapa indah dan bahagianya seseorang bersapa dengan kekasihnya walau hanya memandang rona wajahnya. Betapa dia akan tersiksa walau hanya baru ditinggal sesaat. Betapa meluap hati kala suara kekasih menyertai hari-hari. Cinta pada kekasih ibarat harta mulia yang tiada ada penggantinya. Bahkan sampai muncul kata-kata tidak masuk akal dalam ungkapan rasa cinta itu. Semua akibat cinta antara pria dan wanita.

Anak. Anak adalah buah hati keluarga. Tawa, canda, tangis dan keberadaannya membuat cerah dan ramai suasana keluarga. Anak adalah penerus generasi masa depan. Anak adalah belahan jiwa. Cinta kepada anak adalah cinta memiliki. Coba rasakan bedanya cinta kepada anak sendiri dengan cinta kepada anak orang lain. Meski cinta kepada anak sudah kita tumpahkan kepada anak seduania, namun bila belum pada anak keturunan sendiri, serasa belum lengkap. Betapa gundah hati rasanya bila pasangan suami istri belum dikaruniai buah hati. Segala upaya dan besar dana dikerahkan hanya untuk dapat dapat mendekap dengan sayang belahan jiwa.

Inilah dia harta kekayaan. Memiliki limpahnya membuat orang mudah menjalani hidup didunia. Segala mau dan asa diperolehnya. Segala kebanggaan dan gemerlap kenikmatan dunia gampang direngkuhnya. Siapa orang yang tidak mau kaya harta? Kemegahan, kenikmatan, ketenaran, kebanggaan, kedigdayaan seakan melekat pada orang yang berpunya.

Tidak salah manusia memiliki rasa indah memandang pada semua perhiasan dunia itu. Benar adanya bila kita bercinta dengan lawan jenis saat kita telah memasuki saatnya. Allah tidak melarang kita untuk mencintai buah hati kita, anak kita, dengan segenap hati dan belaian kasih sayang. Dan tidak ada larangan bila kita memburu harta kekayaan guna memenuhi kebutuhan hidup. Semua adalah naluri, fitrah manusia.

Yang salah bila berlebihan

Rasulullah pernah bersabda tentang sifat manusia bahwa manusia cenderung untuk serakah akan harta benda. Ibarat telah mempunyai dua lembah emas, namun ingin yang ketiga. Bila telah diraih lembah yang ketiga, maka keinginan berikutnya adalah lembah keempat, dan seterusnya. Tidak akan habisnya bila keinginan saat ini terpenuhi, maka muncul harapan baru yang lebih. Kecintaan akan harta itu akan berhenti saat tanah kubur menimbun jasad matinya.

Dikesempatan lain Rasulullah mengungkapkan bahwa secara alamiah manusia akan semakin tua seiring dengan berjalannya waktu. Yang bayi menjadi anak kecil, kemudian menjelang remaja hingga dewasa. Akhirnya tua datang menjelang. Manusia akan mengalami masa tua kecuali dua hal yang manusia tetap menjadi muda bahkan kemudaan atau kekuatannya malah bertambah. Apa ittu ? Dua hal itu adalah Keinginan terhadap harta dan Keinginan berumur panjang.

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.

Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”[1575].

sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim[1576],

dan kamu tidak saling mengajak memberi Makan orang miskin,

dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil),

dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (QS Al Fajr [89] : 15-20)

[1575] Maksudnya: ialah Allah menyalahkan orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan seperti yang tersebut pada ayat 15 dan 16. tetapi sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Tuhan bagi hamba-hamba-Nya.

[1576] Yang dimaksud dengan tidak memuliakan anak yatim ialah tidak memberikan hak-haknya dan tidak berbuat baik kepadanya.

Lupa mengingat Allah (dzikrullah)

Harta dan anak-anak kita dapat melupakan Allah ? Kita pasti akan menolak pernyataan itu saat kita tidak memilikinya. Saat dalam berada dalam kesusahan, sering dalam tangisan kita mengharap Kemurahan Allah atas limpahan rizki dengan janji bila telah diberi harta maka kita akan selalu tetap beribadah kepada Allah. Akan selalu beramal, berzakat, berinfaq dan mengasihi yatim dan miskin. Namun bagaimana kenyataannya bila harta telah melimpah disekeliling kita ? Janji tinggal janji. Janji seakan lupa pernah dimunajat. Harta telah mengubah segalanya. Harta telah melalaikan dari mengingat Allah.

Ingatlah akan cerita Qarun yang akhirnya tertimbun mati dalam kehinaan oleh hartanya sendiri.

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi. (QS Al Munaafiquun [63] : 9)

Lalai dari mengingat Allah oleh para ulama dijelaskan bisa dalam beberapa hal :

  • Lalai Ibadah

Dengan selalu mengingat Allah tidak lantas kita harus hidup dalam kemiskinan. Lihatlah para shahabat Nabi semacam Abu Bakar, Utsman, Abdullah bin Auf yang adalah orang yang bisa dibilang konglomerat pada jamannya, namun mereka tetap begitu bersemangat dalam mengingat Allah. Itulah zuhud. Dilimpahan harta benda, mengingat Allah adalah segalanya. Ditaburan kekayaan, hidup sederhana adalah kesehariannya.

Zuhud bukan berarti harus hidup miskin, dengan pakaian dekil dan tubuh kotor. Itu zorok (maksudnya jorok) bukan zuhud.

Orang banyak harta dan banyak mengingat Allah adalah harapan. Sungguh sangat amat merugi orang yang sudah miskin, namun karena kesibukan akan dunia malah melupakan diri dari mengingat Allah. Oh … sengsara dunia dan akherat.

  • Lalai menerjang batas hukum (halal atau haram)

Tahu binatang ternak ? Kambing bila dibiarkan lepas bebas, maka dia akan memakan apa saja yang tampak hijau segar. Tidak peduli itu milik tuannya atau milik orang lain. Tidak peduli itu dedaunan atau rerumputan. Semua disikat habis, asal dia suka dan dia mampu. Bahkan kalau rumput-rumputan dari plastik atau kertas kita sodorkan kepadanya, niscaya tanpa pikir panjangpun dia coba makan. Walaupun kemudian dia muntajkan kembali karena bukan kehendaknya.

Begitulah tamsil bagi orang yang mendewakan harta dan serakah akan kekayaan. Semua akan direngkuhnya tanpa peduli hukum yang berlaku. Semua akan diembatnya tanpa peduli halal haram, dan tanpa perlu tahu milik siapa. Ibaratnya seluruh isi dunia kalau bisa harus dibawah kepemilikannya.

  • Lupa akan hisab Allah

Pada hari Pembalasan kelak, kaki tangan tidak bisa bergerak. Manusia satu persatu dihisab oleh Allah akan apa yang telah diperbuatnya selama di dunia. Semua mempertanggungjawabkan amaliyah masing-masing. Semua ditanya akan aktivitas selama di dunia. Umur dihabiskan untuk melakukan apa. Ilmu yang dipunyai apakah sudah diimplementasikan atau sekedar bahan hapalan. Dan soal harta yang dipertanyakan ada dua yaitu bagaimana memperolehnya dan bagaimana menafkahkannya. Masing-masing manusia harus mempertanggungjawabkan cara dia memperoleh harta dan setelah itu hartanya dipakai untuk apa.

Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at[160]. dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim. (QS Al Baqarah [2] : 254)

Sebenarnyalah bahwa harta benda yang kita miliki itu adalah yang kita tinggalkan untuk keluarga saat kita meninggal atau yang mengelilingi tubuh selagi kita masih hidup. Harta yang kita punyai sebenarnya hanyalah : harta yang telah kita sedekahkan, harta yang kita pakai dan makanan yang telah kita makan. Ikan yang lezat di meja makan, bisa jadi bukan harta kita karena mungkin menjadi rizkinya kucing yang tiba-tiba mencurinya. Pakaian yang digantungkan di lemari, boleh jadi bukan harta kita lantaran saat malam musnah termakan api. Uang ratusan milyar yang ditanamkan di pabrik tekstil, bisa jadi tiba-tiba lenyap dilarikan penipu yang berkedok pengusaha.

  • Lalai akan kewajiban dalam harta

Sebagian harta yang kita miliki, ada hak kaum dhuafa, orang miskin, anak yatim disana. Maka berzakatlah, bershodaqahlah atas hartamu. Justru zakat, infaq, shadaqah itulah yang akan menolong kita dari adzab Allah. Bukan harta yang kita biarkan bertumpuk.

Orang sering mengungkapkan bahwa mencari harta adalah untuk persiapan “masa depan”. Tapi masa depan siapa kalau sudah menjelang maut menjemputpun kita masih getol mengeruk harta. Masa depan kita hanyalah lubang tanah yang akan menimbun kita saat jiwa meninggalkan kita. Masa depan kita adalah masa dimana kita menghadap Allah di Hari Kemudian. Masa depan kita adalah Kehidupan Abadi.

  • Lalai akan janji kepada Allah

Janji kita kepada Allah adalah janji untuk selalu mengingat Allah pada saat papa maupun berada, pada saat sakit maupun sehat. Pada setiap saat.

dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada Kami, pastilah Kami akan bersedekah dan pastilah Kami Termasuk orang-orang yang saleh.

Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). (QS At Taubah [9] : 75-76)

Kecintaan akan dunia yang berlebihan sungguh sangat merugikan.

Rasulullah Saw bersabda:

“Akan datang suatu masa, ketika bangsa-bangsa (musuh-musuh Islam) bersatu-padu mengalahkan (memperebutkan) kalian. Mereka seperti gerombolan orang rakus yang berkerumun untuk berebut hidangan makanan yang ada di sekitar mereka”. Salah seorang shahabat bertanya: “Apakah karena kami (kaum Muslimin) ketika itu sedikit?” Rasulullah menjawab: “Tidak! Bahkan kalian waktu itu sangat banyak jumlahnya. Tetapi kalian bagaikan buih di atas lautan (yang terombang-ambing). (Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian ‘wahn’”. Seorang shahabat Rasulullah bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ‘wahn’ itu?” Dijawab oleh Rasulullah Saw: “Cinta kepada dunia dan takut (benci) kepada mati”. (At Tarikh Al Kabir, Imam Bukhari; Tartib Musnad Imam Ahmad, XXIV/31-32; “Sunan Abu Daud”, hadis No. 4279)

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui. (QS Al Baqarah [2] : 261)

No Responses to “Kecintaan akan dunia”

  1. bocahgemblung Says:

    mas2… postinganmu indah2…
    tapi kok list file mu bejat2??

  2. prabu Says:

    Thanks akan kritiknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: