Cewek Manado (2)

Ane dan Ine

Ane dan Ine adalah cewek Manado atau Minahasa asli. Mungkin banyak nama panggilan serupa di seantero Manado dan kalau pengin tahu persis siapa orangnya, harus tahu nama fam / marga-nya. Paat, Kalalo, Moningka, Mamahit, Pontoh, Rampengan dan lain-lain. Referensi mengenai fam atau marga dapat dilihat di id.wikipedia.org. Namun saya dengar dari beberapa orang, di Manado banyak masyarakat Cina keturunan, bisa menempatkan dibelakang namanya dengan fam minahasa. Secara fisik memang nggak terlalu banyak perbedaan antara orang cina keturunan dengan orang Manado. Apalagi disana telah banyak terjadi perkawinan campuran antar mereka. Kulit rata-rata sama putih, mata agak sipit, ditambah lagi untuk sebagian anak-anak mudanya rambut dibuat lurus dan dicat pirang. Nyaris susah membedakannya.

Soal nama, umumnyapun banyak digunakan nama-nama berbau “global” atau barat seperti Rekcy, Alex, Jacky, Joyce, Cintya, Imelda dll.

Ine, si menawan yang manja

Tidak terlalu banyak yang saya tahu tentang Ine. Sosoknya enak dipandang dan enak diajak ngomong. Semacam anak gaullah. Maklum dulu pernah ikut semacam miss-missan ala Manado dan ceritanya dapat juara. Nggak tahu juara yang keberapa.

Penampilan selalu oke. Dengan wajah yang cantik dan agak tinggi maka sebenarnya ia pantas untuk jadi model. Memang agak kurus sih tapi yang terkenal jadi model biasanya kan yang “TIKUS DARAT” alias Tinggi Kurus Dada Rata atau “KUTILANG” alias Kurus Tinggi Langsing he he he …

Tapi layaknya orang sana, Ine terkesan agak manja, bukan mandi jarang lho (karena saya lihat dianya paling rajin mandi walaupun sebelum mandi biasanya ”memproklamirkan” diri bahwa dia mau mandi dengan menyampirkan handuk dipundak dan berpakaian “siap mandi”). Manja disini artinya agak males kalau kemana-mana jalan kaki atau naik mikro (sebutan angkutan di Manado untuk sejenis carry dengan tempat duduk semua menghadap kemuka). Biasanya bila dia menginginkan pergi kesuatu tempat, tinggal call ke seseorang dan nggak lama kemudian muncul mobil pribadi temannya.

<!–[endif]–>Yang saya tahu dia sudah punya paitua yang dengan setia mengantar jemput dia. Tapi sekali kali bukan mobil paitua yang menjemput melainkan mobil lain. Teman yang lain kali. Pernah suatu saat dia kucing-kucingan dengan paituanya karena sementara ada teman lain yang ngejemput, eee ternyata mobil paituanya muncul. Yah … terpaksa kami diminta untuk berbohong sedikit. Uhh .. dasar Ine.

Yang menjemputnyapun harus bermobil. Mana mau dia dijemput pakai motor. Nggak level donk.

Saya jadi ingat cerita teman di kantor tentang kencannya dengan cewek Manado. Kebetulan dia waktu itu masih bujang dan naksir seorang cewek. Suatu saat di malam minggu ceritanya dia mau apel ke rumah cewek itu. Dengan berbekal rasa pede yang tinggi, berpenampilan ala anak muda yang trendy. Baju rapi, sepatu menkilap, dan rambut dikasih minyak rambut agar rapi serta tidak lupa menyemprotkan minyak wangi kesekujur tubuhnya, maka berangkatlah dia ke rumah cewek tadi di Tuminting dengan mengendarai sepeda motor kesayangannya.

Sampai disana diterima cukup baik oleh cewek yang ditaksir. Dan saat mau diajak keluar JJS (Jalan Jalan Sore) di sekitar Boulevard dengan naik motor, maka ceweknya menolak. ”Kita lebe suka jalang deng mikro sa, daripada deng motor. Kalu ngana ada mobil lebe baik ngana pulang dulu ambe tu mobil for torang JJS” begitu ungkap si cewek.

Dan dengan senyum kecut teman saya berucap : ”Kita nyanda ada mobil di rumah (maksudnya kos-kosannya), yang ada juga ini” jawab teman saya sambil menepuk sadel sepeda motornya. Dalam hati dia juga berucap :”Motor ini juga dapatnya dari nyicil Non.” He he he … akhirnya gagalah rencana manis yang telah disusunnya.

Kembali ke cerita soal Ine. Setelah mengalami masa batona (pacaran) yang cukup lama dan berliku, namun akhirnya dia memutuskan juga untuk nikah dengan paituanya. Meskipun dia sempat mengungkapkan kepada kami bahwa sebenarnya dia masih ingin bebas. Menurut kami para koster (pura-puranya jadi konsultan), sudah saatnyalah Ine untuk mengakhiri masa lajangnya. Umur sudah cukup, masa batona sudah cukup lama dijalani dan paituanya bukan orang sembarang karena terbilang orang kaya di Manado.

Sayang saat dia menikah saya sudah tidak di Manado lagi. God Bless U Ine.

Ane si carlota

Nah kalau cerita Ane, sungguh bertolak belakang dengan Ine. Ine terkesan anggun dan Ane kebalikannya. Ane suka ceplas-ceplos dan suka sekali ngobrol. Ceritanya kayak rentetan peluru yang dilepas dari mesin tembak otomatis. Tidak bisa di jeda dan sambil mulutnya bercerita diimbangi dengan bahasa tubuh yang ekspresif. Dan hal yang paling dia suka adalah bercerita tentang orang lain. Makanya saya sering sebut dia sebagai Ane carlota (carlota artinya suka ngomongin orang lain).

Lantaran sifat Ane itulah maka beberapa kali timbul perselisihan dengan sesama koster, terutama dengan sesama cewek. Dan aduhh … kalau sudah saling bertengkar .. ampun .. suaranya kayak orang berteriak-teriak di sawah saja. Dan setelah lawan bertengkar mengundurkan diri, maka biasanya dia kemudian ngomel sendiri : ”Ta binci pa dia. Huuh cewek apaan tuh .. pe sikap seperti rupa cewek nda berpendidikan !”

Dan seperti layaknya cewek yang lain, setelah beberapa haripun saya lihat kemudian mereka yang bertengkar sudah baikan lagi. Sudah saling ngobrol dan carlota lagi. Duh Ane .. Ane ..

Suatu kali Ane mengajak kami untuk menghadiri undangan ”pengucapan” di Tondano. Pengucapan adalah acara semacam syukuran atas suatu berkah yang diberikan terhadapa lingkungannya, misalnya pengucapan atas panen raya cengkeh di kampung tersebut. Disanalah kami dipertemukan dengan teman-temannya yang kayaknya sih sifatnya mirip-mirip dia. Obrolan jadi ramai kayak di pasar burung, obrolan para penjual dan pembeli dibarengi dengan ratusan kicauan burung yang bersahut-sahutan.

Ane adalah sosok yang terbuka. Rasanya tidak ada rahasia yang dia sembunyikan, semuanya diungkapkan dalam omongannya. Bahkan kedekatan dengan teman kantor yang telah berstatus sebagai seorang suami, dia tidak sembunyikan. Walaupun saya tahu bahwa hubungan itu memang didasari dengan rasa saling suka.

Dan akhirnya memang mereka nikah secara resmi, walau mengakibatkan perceraian dari paituanya yang memang sudah tidak bisa dipertahankan. Yang saya tahu kemudian dia telah berada di luar Sulawesi mengikuti suaminya.

(to be continued)

No Responses to “Cewek Manado (2)”

  1. jemmo Says:

    HAE BISA …………….

  2. dianna Says:

    ceritain tentng cewe bandung dong hehehehe

  3. prabu Says:

    Teh Dianna cewek Bandung kan ? Banyak juga sih cerita dengan cewek Bandung yang macan (manis dan cantik) kayak Teteh …
    Dari cerita yang lucu sampai mengharukan
    sayang saya nggak terlalu bisa nulis …
    tapi lain kalilah saya coba semampunya

    salam ya

  4. andree Says:

    ak pny teman alumni smu 1 kristen tomohon tapi dia bandel punya nama jeanske zesly nelviana poluan lulusan tahun 1999.tp gak tau sek di jkt di mana yg pasti terahir aku tau dia kerja di pacific 2000 standart carterd saham and palas.

  5. wongso Says:

    salam kenal

  6. prabu Says:

    Salam kenal kembali ke semua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: