Dering itu sungguh mengganggu

Setiap kali sholat Dhuhur atau Ashar berjamaah di kantor, selalu saja ada terdengar deringan handphone dari salah satu atau salah dua dari peserta sholat jamaah. Dari suara yang monophonik sampai yang berupa lagu, dari dering tradisional sampai dering hasil rekayasa. Dari yang disetel lemah sampai yang disetel mentok alias maksimal. Suara-suara itu tentu saja terdengar dengan jelas saat semua jamaah sedang berdiri tegak menghadap Tuhannya seraya membaca Al Fatihah dan surat-surat. Bagi yang sedang khusyu’ tentu mengabaikan noise itu, namun bagi sebagian besar jamaah gangguan itu tentu sangat terasa. Apalagi bila suara begitu keras dan “dibiarkan” berbunyi cukup lama dengan alasan karena pemiliknya susah untuk mematikan atau menghilangkan kekhusyuan.

Dering itu ….

Dan yang lebih parah lagi bila si pemilik suara segera mengoffkan suara namun selang beberapa saat kemudian terdengar panggilan lagi sampai beberapa kali. Sambil ruku’ tangannya menggapai sisi saku dan sementara sujud tangannya menggerayangi tombol merah handphone. Bisa jadi akhirnya jamaah sebelahnya merasa terganggu dan menghilangkan ketenangan beribadah. Jamah yang jauhpun mau tidak mau ikut “menyimak” dering tersebut. Anehnya hal itu sering berulang walaupun pada pintu masuk masjid telah ditempel peringatan untuk mematikan HP ketika memasuki masjid, dan imam sebelum memulai sholat berjamaah selalu mengingatkannya.

Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan hal yang memalukan itu terjadi berulang. Si pemilik HP lupa mematikan, atau sengaja dihidupkan karena dianggap ada sesuatu yang penting, atau si pemilik tidak mendengar dan membaca maklumat, atau si pemilik memang benar-benar cuek dan tidak peduli dengan orang lain. Kan rasanya nggak mungkin tho kalau setiap masjid dipasang sensor disetiap pintu masuk. Atau menempatkan seseorang untuk mengingatkan setiap jamaah yang memasuki masjid untuk mematikan Hpnya.

Sebenarnya kuncinya cuma sederhana saja yaitu kesadaran dan kedisiplinan. Sadar bahwa sholat tujuannya untuk beribadah kepada Allah dengan sementara melupakan dulu urusan dunia termasuk urusan Hpnya, bisnis yang dinanti dari telepon mitra, kabar gembira atau apapun yang kaitannya dengan aktivitas sebelum dan sesudah sholat nanti. Kalau dalam sholat masih memikirkan hal-hal tersebut, bagaimana sholatnya akan khusyu ?

Allah tidak membebani orang dengan sesuatu yang merugikan orang itu. Kalau dipikirkan secara pendek seakan sholat menggangu aktivitas manusia. Dari prosesi mengambil air wudhu, memasuki masjid, sholat sunat rawatib atau tahiyatul masjid, sholat fardlu dan kemudian dzikir dan di akhiri dengan doa, tentu “menghabiskan” waktunya. Anggap sekitar 20 menit waktu seakan terbuang. Belum lagi bila saat azan memanggil kita sementara menghadapi hal yang penting, sedang bertemu dengan rekan bisnis, sedang mengerjakan proyek milyaran, atau tengah menghitung angka-angka yang berefek pada hidup mati perusahaan. Pas sudah alasan kita untuk menunda bahkan meninggalkan panggilan Allah untuk melaksanakan sholat.

Itulah pikiran kebanyakan dari kita, yang membandingkan pola pikir otak kita dengan rancangan Allah. Seakan perhitungan dan desain rancangan yang kita susun, semua tergantung dari usaha kita. Tergantung dari pikir dan kerja kita. Padahal tidak. Sekali lagi tidak. Allahlah yang menentukan semuanya. Sikap yang menonjolkan dan mementingkan diri adalah suatu kesombongan. Apalah artinya kita dihadapan Allah.

Belum adanya kesadaran dan kedisplinan

Bagi saya, melaju dikeramaian jalan sekarang ini sungguh sangat membutuhkan kehati-hatian dan kesabaran yang tinggi. Betapa tidak, dengan motor di sebelah kanan dan kiri yang sewaktu-waktu tiba-tiba memotong jalan di depan, terpaksa meminta perhatian konsentrasi yang prima dalam menjalankan mobil. Dijalan yang sempitpun, begitu timbul antrian pendek, motor langsung mencari celah dikanan kiri jalan dan akhirnya jalan menjadi penuh menghambat laju kendaraan dari arah berlawanan. Mau semuanya biar jalan lancar dan cepat eee …. malah semua jadi terhambat dan memanjangkan kemacetan.

Belum lagi kalau berpacu di tol Cikampek dan tol dalam kota Jakarta (kalau tol dalam kota saat jam sibuk bukan berpacu melainkan padat merayap). Mendahului mobil didepan lewat kiri atau melewati lajur darurat sebelah kiri, adalah merupakan “keharusan” agar kecepatan tetap tinggi. Suatu larangan yang diterjang dengan alasan jalur padat dan kendaraan didepan bergerak lambat. Suatu ketidakbolehan yang akhirnya dianggap sebagai hal yang wajar karena dikondisikan.

Dan bila suatu hal yang aneh tengah terjadi (yang seharusnya memang begitu) ketika lajur darurat tidak dipakai untuk menyalip, maka dapat dipastikan ada sesuatu yang “menakutkan” bagi para pengemudi jalan tol. Yang membuat takut untuk melanggar larangan itu ternyata adalah polisi jalan tol. Saat polisi menempatkan mobil patroli di jalur darurat, maka dijamin tidak ada yang memanfaatkan jalur darurat disekitar jalan tol itu untuk mendahului. Tapi begitu jarak pandang polisi terlewati, maka kondisi lalu lintas normal kembali seperti semula yaitu lajur darurat menjadi ajang mendahului.

Jadi kita sadar dan disiplin hanya pada saat ada yang mengawasi dan mempunyai kekuasaan. Kesadaran dan kedisiplinan tidak timbul dari diri sendiri melainkan dari tekanan. Bila sifat tersebut dibawa dan dijadikan pegangan dalam keseharian, dapat kita bayangkan bagaimana jadinya bangsa ini. Dan itu terbukti dengan kondisi yang carut marut dari kita sekarang.

Masih dijalan raya, coba perhatikan di traffic light dimana sudah ditentukan garis pembatas kendaraan berhenti, namun motor dan mobil malang melintang melewati tanda itu. Dan seperti bisa diduga, bila ada seorang polisi yang berdiri mengawasi lalu lintas di sekitar situ maka pengendara dengan tertib mengikuti aturan yang berlaku. Dengan rapi berjajar menunggu giliran untuk maju. Itulah kondisi kita.

Bisakah berubah ?

Sebuah pertanyaan yang mudah berikut jawaban yang mudah, namun mengimplementasikannya sungguh tidak mudah. Menerapkan kesadaran dan disiplin tidak bisa dilakukan dalam tempo yang sekejap. Tidak bisa melalui program atau proyek yang instan. Harus semua pihak yang terlibat turut andil dan berkomitmen teguh untuk melaksanakan perubahan.

Wujudnya bagaimana ? Sudah banyak ide dari berbagai kalangan yang menjawabnya. Dan yang tetap harus ditanamkan adalah : ketika telah dilaksanakan makan konsistensi harus tetap dipertahankan berikut komitmen yang tidak pernah luntur dan lepas seiring dengan berjalannya waktu dan berbagai halangan. Istiqamah adalah jawabannya.

Kembali kepada cerita tentang dering HP pada saat sholat berjamaah. Bila masing-masing individu sadar akan tanggung jawabnya untuk menjalankan ibadahnya dengan baik serta selalu menjaga keutuhan dan kebaikan komunitasnya, maka kesadaran untuk mematikan HP saat memasuki masjid lama-lama akan timbul dengan sendirinya dan menjadi suatu kebiasaan. Menjadi suatu kedisiplianan yang terjaga.

Alangkah indahnya bila suasana yang senyap dengan masing-masing individu khusyu’ dalam tawadlunya terjaga sampai usai dilaksanakannya sholat. Tidak ada lagi dering HP saat sholat yang ada adalah lantunan takbir memuji kebesaran Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: