Tanyakan kepada rumput yang bergoyang

“Saya tuh heran ya Mas ya, kenapa masyarakat kita ini masih belum bisa menerima suatu kekalahan pada suatu kompetisi dan cenderung untuk memaksakan keinginan sendiri untuk di terima dan dijalankan oleh yang lainnya. Contohnya saya baca berita barusan dimana ada demo bakar-bakar foto di Indramayu segala karena yang didukung tidak dicalonkan jadi Cawagub Jabar. Lha wong masih calon wakil gubernur saja yang nanti juga belum tentu terpilih, kok sudah ribut begitu. Belum lagi dihampir semua pemilihan pilkades, pilkada sampai pemilu yang berskala nasional pasti ada saja keributan yang terjadi. Yang nggak puas akan hasil perhitungan suaralah, yang merasa dikurangi lah, yang merasa panitia tidak adillah. Pokoknya tidak ada jiwa legowo dalam menerima suatu ketidakberhasilan. Masalahnya kalau dia kemudian mengerahkan dan membayar massa untuk seolah-olah mengatasnamakan rakyat guna melakukan demo yang kemudian berujung dengan anarkis. Kan yang rugi kita-kita juga.” Awal Mbak Tika di pagi itu panjang lebar menyikapi aksi kekerasan diberbagai daerah.

Mas Pras kemudian menimpali : “Itu namanya suatu perjuangan dalam merebut kekuasaan tetapi tidak dilandasi dengan keikhlasan Dik. Lha wong kalau dipikir tuh, jabatan itu adalah amanah yang sangat berat. Orang kalau tahu bagaimana beratnya mempertanggung jawabkan semua kepemimpinannya, akan berfikir seribu kali untuk menduduki suatu jabatan. Namun karena pikirannya hanya masalah duniawi semata, dimana sudah terbayang kemuliaan dan kelimpahan harta, sanjungan dan pujian yang telah menanti, maka apapun diperjuangkan untuk mencapainya. Bahkan harta bendanya dipertaruhkan untuk memduduki jabatan itu. Dalam pikirannya tercipta suatu paradigma bahwa setelah dia naik tahta maka segala yang harta telah dihabiskan akan kembali lagi, bahkan akan bertambah melimpah. Start niatnya sudah nggak benar Dik, jadi pada akhirnya begitu dia dinyatakan kalah maka yang terbayang adalah kerugian besar didepan mata.”

“Saya ingat di kampung Mas di Jawa. Itu lho yang lurahnya juragan Mbako. Kayaknya kok ndak terlalu bermasalah ya Mas. Tidak ada isu yang berkembang masalah penyelewengan dana ataupun isu-isu lain yang berkaitan dengan korupsi dan sejenisnya.”

“Lha itulah, lurah di kampung saya itu dari awalnya sudah kaya. Juragan tembakau yang sukses. Harta benda baginya mungkin sudah tidak terlalu menarik lagi. Semua kebutuhannya sudah terpenuhi tanpa dia harus berupaya menjadi lurah guna memperoleh tanah bengkok dan fasilitas-fasilitas lainnya. Dalam teori Maslow, katanya kebutuhan manusia layaknya sebuah pyramid. Paling bawah dengan rentang yang paling luas adalah kebutuhan dasar manusia seperti pangan, sandang dan papan. Kemudian terus memuncak sampai kepada kebutuhan akan penghargaan, pengakuan diri. Kebutuhan itu muncul setelah kebutuhan dasar dan yang lainnya terpenuhi. Orang kalau sudah nggak memikirkan makanan, pakaian dan rumahnya karena memang sudah melimpah, maka yang dicari kemudian adalah upaya untuk ingin dihargai, diakui dan asa untuk dihormati oleh orang lain akan dirinya sebagai bagian dari suatu masyarakat. Mungkin saja dalam kasus Lurah di kampung saya tadi, dia hanya membutuhkan itu semua melalui pengabdian kepada masyarakat sebagai Lurah. Toh disana, kalaupun sudah pensiun maka mantan lurahpun masih dipanggil dengan takjim dengan sebutan Pak Lurah. Ada kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri dengan penghargaan yang diterimanya.”

“Terus gimana ya caranya kita memilih pimpinan yang tepat kalau misalnya ada pilkada. Kebetulan minggu kemarin kan ada Pilkades di desa di kompleks ini. Mas kemarin milih yang mana ?”

“Kalau untuk level Desa mungkin nggak terlalu susah. Kalau kebetulan kita tahu pada semua orang yang mencalonkan diri, maka kita dapat melihat keseharian mereka. Bila sang calon adalah muslim maka kita kan dapat menilai bagaimana keteladanannya. Bagaimana tingkah lakunya, apakah dia rajin ke masjid, bagaimana sikapnya terhadap tetangga dan bagaimana keluarganya di bawah pimpinannya. Cuma masalahnya kalau skalanya sudah lebih luas, seperti pemilihan Bupati atau Walikota, Gubernur dan Presiden. Bagaimana kita memilih mereka yang terbaik, itulah yang paling susah. Pengetahuan kita akan kepribadian sang calon mungkin akan sangat terbatas. Untuk level ini mungkin hanya media dan omongan orang saja yang bisa dijadikan bahan referensi. Dan masalahnya lagi, para calon adalah orang yang diusung oleh Partai Politik. Dan kita tahu bahwa sekarang ini politik di Indonesia identik dengan ketidakjelasan. Semua partai menawarkan sikap seolah-olah condong pada kepentingan rakyat hanya bila masa pemilihan saja. Namun bila keinginan telah terpenuhi, segalanya terabaikan. Yang ada hanyalah kepentingan partai dan kepentingan orang per orang. Yang ada hanyalah kepentingan melanggengkan kekuasaan semata. Janji tinggal janji. Janji hanya terucap untuk menarik simpati. Janji hanya dilontarkan pada saat memang harus mengumbar janji.”

“Trus bagaimana dong kita menyikapi masalah itu. Masalahnya apakah kalau sudah tahu begitu kemudian kita menjadi golput alias tidak perlu memilih salah satu dari mereka ?. Kalau seandainya nanti yang terpilih adalah orang yang salah, berarti kita juga menjadi salah satu penyebab kesalahan itu dong. Iya kan ?”

“Lha bagaimana lagi, memang proses “demokrasi” di negara kita begitu. Yang penting sebenarnya kita harus tahu akan calon yang kita pilih, dan kita harus memilih yang terbaik diantara mereka. Itu saja sih prinsipnya. Masalah golput atau tidak mempergunakan hak pilih, itu kembali kepada sikap dan keyakinan dari pemilih sendiri.”

“Tapi kenapa harus melalui partai politik ya ? Kalau ada orang yang baik kemudian dia tidak mempunyai kendaraan politik atau partai politik tidak mau mengusungnya, apakah dia bisa dicalonkan ?”

“Katanya sih bisa melalui calon independen. RUUnya lagi digodog, kali perlu dikaji lama oleh pemerintah dan parlemen untuk memastikan bahwa wacana itu tidak merugikan mereka he he he …”

“Saya pernah baca kalau di Iran calon presiden yang akan dipilih adalah hasil seleksi dari para mullah, semacam MUI di Indonesia-lah. Para mullah memilih diantara warga terbaiknya untuk dicalonkan kepada rakyat yang kemudian memilihnya melalui pemilu. Sehingga akhirnya Iran bisa memiliki presiden hebat sekaliber Ahmad Dinejad yang begitu luar biasa. Begitu sederhana hidupnya, keras dan konsisten sikapnya dalam menentang kemungkaran dan mampu menjadi presiden yang terhormat dimata internasional dan rakyatnya. Apakah kita lebih baik meniru cara Iran itu ya Mas ?”

“Coba tanya saja kepada rumput yang bergoyang he he he …”

No Responses to “Tanyakan kepada rumput yang bergoyang”

  1. jupiter kudus club Says:

    yah mungkin suatu saat pasti bisa, cuman nunggu kedewasaan berpikir bangsa Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: