Di Bandung kita merangkai cerita (lagi)

“Yah beginilah aku sekarang Pran. Aku tinggal menyelesaikan kuliah disini. Kos-kosan disini, di kamar ini. Nggak nyangka ya kalau kita akan ketemu lagi disini. Setelah ujian SMA dulu tuh aku sudah nggak tahu lagi kabar dari teman-teman. Soalnya aku langsung ngurus PMDK-ku di Bandung sini begitu terima ijazah. Dan habis itu blank …. sudah.”

”Emangnya kamu nggak pernah ke Klaten lagi Sus setelah kamu kuliah di Bandung. Kan ada liburan semester. Lagian masak teman-teman nggak nyari kamu, kan dirimu selalu dicari-cari. Tahu sendiri kan banyak yang ngefan sama kamu. ceileeee …”

”He he he … ngomong-ngomong kamu ngefan sama aku ngak, Pran !”

”Sedikit sih.”

”Uih … sombongnya. Lha wong kalau lagi duduk didepan kadang-kadang aku nglirik kamu sedang memperhatikan aku kok. Apa itu bukan yang namanya cintrong.”

”Nah ketahuan kan … berarti kamu dong yang lirak-lirik saya. Ngapain duduk didepan tapi mata gentayangan kebelakang. Lha wong saya sedang memperhatikan Bu Endang yang seksi itu kok.”

”Ih … kok tambah centil sih sekarang kamu, pake bilang seksi segala kepada Bu Endang. Seksi mana aku dengan dia.”

”Lho kok malah mbahas ke situ. Seksi tuh relatif. Saya waktu itu hanya pengin membuktikan benar nggak omongannya si Wahyu bahwa Bu Endang akan tampak tambah manis bila tersenyum. Dan ternyata emang benar. Tahu nggak Sus apa yang menyebabkannya. Itu tuh tahi lalat kecil persis disebelah kiri bibirnya.”

”He … sampai sedetail itu kamu memperhatikan. Kamu tuh melihat orangnya atau memperhatikan pelajarannya. Dari pada Bu Endang kenapa nggak aku saja yang dianalisa.”

”Emangnya kamu rumus kimia apa, pakai dianalisa segala. Oh iya ya … kamu kan jurusan kimia ya. Ngomong-ngomong dimana tuh Sang Guru Kimia-mu yang gagah hitam manis itu.”

Mendengar pertanyaan saya itu Susi langsung diam. Saya yang segera sadar kemudian mengalihkan pembicaraan dengan mengajaknya untuk keluar cari makan saja.

— oo —

”Sebenarnya aku sudah nggak kuat lagi Pran menanggung beban ini. Mungkin orang-orang disekitarku dan teman-teman dikampus nggak tahu karena aku nggak pernah ceritakan semuanya. Hanya kepada kamu saja aku berani cerita. Minimal biar agak lapang sesak di dada ini.” isak Susi mengawali ceritanya.

Saya agak merenung. Saya membayangkan seorang Susi dulu semasih SMA. Susi adalah perlambang kegembiraan. Orangnya cerdas, lincah, energik, cenderung terbuka, suka ceplas-ceplos dan cantik manis. Sehingga tidak heran banyak yang suka kepadanya. Dimana ada Susi disitu akan timbul keceriaan. Tawa canda tidak akan pernah sepi. Tidak dapat saya gambarkan seorang Susi yang lagi sedih, karena saya tidak pernah menemukannya dalam kondisi itu. Tapi sekarang saya menemukannya. Seolah bukan Susi yang sekarang berada didepan saya. Dan karena kesedihannya, saya juga ikut merasa layu. Sedikit air matanya, menularkan haru dipelupuk mata.

Yang pasti saya ingat bahwa setitik air mata itu adalah yang pertama dan sekaligus terakhir yang saya lihat. Karena setelah titik itu lenyap dihapus oleh punggung tangannya, maka tidak ada titik-titik air mata lainnya setelah itu. Setelahnya dengan tegar dia menceritakan keperihannya hanya dengan wajah sedikit muram. Dan aku tahu bahwa dia menyembunyikan tangis didadanya, menyisakan perih luka dihatinya. Aku tahu itu karena aku tahu Susi.

”Kamu tahu bahwa Pak Satrio, guru Kimia kita itu memploklamirkan saya sebagai pacarnya, calon istrinya nanti, waktu itu. Dan saya membiarkanya saja, sehingga kalaupun saya diledekin sama teman-teman, abdi mah cicing bae.”

”Geuning tiyasa nyarios Sunda, manehna Sus.” potong saya untuk mencairkan kesedihan.

”Sumuhun kasep, abdi mah atos lami didieu. Tos aya tilu tahun, janten kedah tiyasa atuh. Ari akang pan masih sabulan keneh didieu, naha tos tiyasa bahasa Sunda ?”

”He he he … guru abdi mah nu jualan lotek di pasar Gerlong Tengah eta Sus. Engke geurah urang kadinya. Ibu eta mah cerewet pisan, jeung cunihin deui …”

”Jadi kamu juga akhirnya ketularan centil kan.”

”Nggak juga, dengan Ceu Lotek itu, saya ngomong apa saja entah kasar entah halus diterimanya. Sehingga akhirnya lancar juga. Tapi kalau sama orang tua, saya belum berani ngomong Sunda karena takut disangka ngomong kasar lagi.”

”Oh iya Sus, gimana lanjutan ceritamu tadi.”

Ternyata selingan tadi cukup mencerahkan wajah mendung Susi. Walau masih ada semburat sedih di wajahnya, namun senyum manisnya mulai sering nampak di bibirnya. Dan aku mulai bisa menikmati kebersamaan dengannya.

“Sampai dimana tadi .. oh sampai di Ceuk Lotek ya … ealah kenapa ingat sama Ceuk Lotek, gara-gara kamu sih he he he … “ Dan akupun sudah mulai berangsur bahagia mendengar tawa cerianya.

“Aku tuh sebenarnya ndak terlalu suka dengan Mas satrio itu. Memang sih, dia kan masih muda dan baru lulus dari IKIP juga. Soal wajah nggak terlalu memalukan, meskipun masih ada kesan wajah lugu. Bagiku apa yang melekat di materi, bukan masalah. Aku bukan cewek matre. Tapi sebenarnya aku tuh nggak terlalu suka dengan kepribadiannya. Nggak mungkin saya kasih tahu kan, apa kekurangannya ?”

”Lha iya lah.” kata saya sekedar menimpali, dan sayapun sependapat dengan Susi karena menceritakan kekurangan orang adalah perbuatan yang tidak baik sehingga dilarang oleh agama.

”Dan masalahnya, orang tuaku terlanjur menyetujui ikatan perjodohan antara Mas Satrio dengan saya dan menyuruh untuk secepatnya melangsungkan pernikahan. Padahal kan tahu sendiri bahwa saya waktu itu masih menjalani kuliah. Kebetulan kan dapat PMDK waktu itu.”

”Tapi yang membuat saya jadi heran waktu itu Sus, kenapa kamu milih PMDK di Bandung dan jurusan Kimia lagi.”

”Nggak, waktu itu memang ada saran dari Mas Satrio dan kebetulan sayapun suka akan kimia. Mengenai Bandung yang aku pilih, waktu itu dengan alasan agar jauh sekalian dengan Mas Satrio supaya mungkin nanti dia dapat melupakan aku. Akupun sebenarnya juga nggak tahu kenapa tiba-tiba milih Bandung. Tapi nggak usah dibahaslah. Lagian kalau aku nggak di Bandung, kan nggak bakalan juga ketemu dengan kamu disini. Eh … sekarang sebaliknya apa alasanmu milih di Bandung juga ?”

”Kalau aku sih alasannya sederhana. Dalam rangka membantu orang tua, karena sekolah gratis dan langsung kerja meskipun ada ikatan dinas segala. Sudah gratis, dapat uang saku, dapat seragam, perlengkapan kuliah dan nantinya langsung kerja lagi. Dulu sebenarnya aku sempat kuliah sampai semester tiga di Solo. Tapi saat ada teman yang membawa berita penerimaan ikatan dinas, aku ikut aja sama teman. Eee .. saya keterima malah teman yang membawa saya nggak keterima. Yah memang sudah jalan hidup saya begini Sus. Sebenarnya juga, orang tua nggak keberatan membiayai kuliah saya di Solo, hanya saya pengin mandiri saja. Teman-teman saya sebagian besar juga sudah pada kuliah di universitas ngetop di seluruh Indonesia. Jadi banyak temannya deh.”

”Terus terang Sus, waktu datang ke Bandung pertama kali saya merasa sebagai manusia baru. Kalau Jakarta sudah beberapa kali saya singgah ke rumah saudara, tapi Bandung belum pernah. Lagian di Bandung nggak ada saudara meskipun menurut cerita Bapak, beliau dulu pernah dinas di Bandung tahun lima puluhan. Tapi lama kelamaan saya begitu menikmati kemandirian ini.”

”Asyik dong Pran ya, kamu sudah mandiri. Nggak heranlah, mengingat aku kenal kamu memang orang yang hebat. Sudah pinter, rajin, baik hati dan cakep lagi.”

”Ehm ….. mekar hidung saya Sus.”

”Kamu ingat nggak Pran, Ratna. Ratna yang wajahnya mirip Andi Meriem Matalata itu. Sebenarnya dulu naksir kamu lho. Saya beberapa kali memperhatikan dia mencuri pandang kearahmu saat kita ngobrol di teras sekolah. Sebagai sesama wanita saya dapat melihat ada bayangan kekaguman terhadapmu diwajahnya. Ada hasrat yang terpendam, tapi saya lihat kamu cuek saja.”

”Ehm …. sekarang yang mengembang kepala saya Sus.”

”Benar, Pran saya nggak bohong. Itu belum seberapa. Ingatkan kamu Siti Hanifah, teman kita yang cantik putih dan berkerudung itu. Dulu ngobrol sama saya dan secara nggak nyadar dia mengagumi kamu lho Pran. Swear deh. Katanya, kamu tuh gagah, sederhana dan pinter. Dia salut kepada kamu yang pergi pulang ke sekolah dengan perjuangan yang cukup berat. Dengan naik sepeda setiap hari lumayan jauh. Diapun naik sepeda, tapi tidak terlalu jauh.”

”Masak sih Siti ngomong gitu. Jangan-jangan itu hasil rekayasamu sendiri Sus.”

”Swear ya swear. Masak not sure sih.” Tegas Susi sambil berdiri membusungkan dadanya dan mengacungkan dua jari tangannya. Saya curiga terhadap senyum tipis yang mengiringi.

“Kok pakai senyam-senyum gitu Sus. Kayaknya kok kamu menertawakan aku ya ?”

”Eeee … di bilangin bener kok. Apa harus aku bilang demi Allah segala.” galak Susi sambil mata pura-pura melotot.

”Iya deh percaya. Terus siapa lagi kira-kira yang menggemari aku dulu.”

”Nah sekarang jadi ge er ya. Coba ngaca dulu, kira-kira apa yang menarik diwajahmu itu. Kayaknya sih wajahmu tuh terlalu lugu dan ada semacam … apa ya … semacam wajah yang butuh belas kasihan orang lah.”

”Ih … kamu teganya ngomong begitu. Justru tipikal wajah yang begini Sus, yang selalu digandrungi para cewek. Jangankan di sekolah, di kampung saya dan sekitarnya sana cewek-cewek pada ngantri Sus.”

”He he he … emangnya ngantri mau dapat sembako atau minyak curah Pran. Lagaknya, kayak yang mirip artis saja. Tapi bener kok, selain Ratna dan Siti sebenarnya masih ada beberapa cewek yang saya lihat dan analisa naksir kamu. Tapi nggak perlu saya ceritakan, nanti kepalamu meledak lagi. Iya kan ?”

“Iya, lah. Tapi ngomong-ngomong kalau kamu analisa sendiri, perasaanmu terhadapku gimana Sus ?

to be continued

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: