Para Pencetak Kekayaan di Pasar Modal

Sumber : http://www.swa.co.id/

Oleh : Kusnan M. Djawahir

Bekerja sama dengan Stern Stewart & Co., Majalah SWA tahun ini melakukan peringkatan SWA100 dengan menggunakan metode market value added. Perusahaan mana saja yang telah membuat para pemegang sahamnya kaya?

”Ada yang bahagia, dan ada yang sedih melihat peringkat perusahaan,” ujar Erik Stern, President Stern Stewart International untuk kawasan Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Eropa, ketika melihat peringkat SWA100 2007. Direksi dan manajer yang perusahaannya ada di peringkat atas mungkin merasa bahagia karena apa yang mereka lakukan telah menunjukkan hasil. Sebaliknya, jika perusahaannya berada di peringkat bawah, mereka akan bersedih.

Akan tetapi, Erik menegaskan, para pengelola perusahaan dan investor hendaknya tidak hanya terpaku pada hasil pemeringkatan. Akan lebih baik, menurutnya, jika hasil pemeringkatan digunakan sebagai cermin atau motivasi untuk menciptakan nilai tambah perusahaan di masa mendatang. “Itu yang penting,” ujar putra Joel Stern, penemu konsep economic value added (EVA), itu.

Tujuan Majalah SWA dan Stern Stewart & Co. menghadirkan peringkat SWA100 memang seperti itu: para pengelola perusahaan dengan sadar menciptakan value added karena inilah yang akan diapresiasi para pemegang saham atau investor. Makin besar value added yang mereka ciptakan, potensi keuntungan bagi investor juga makin tinggi. Jika perusahaan selalu bisa memenuhi harapan pemegang saham, nilai perusahaan akan terus naik.

Kendati Stern Stewart & Co. merupakan konsultan EVA, pemeringkatan SWA100 2007 tidak menggunakan parameter ini, melainkan market value added (MVA). Melani K. Hardiman, Direktur Pengembangan Bisnis Asia Stern Stewart & Co., menerangkan, MVA merupakan selisih antara nilai perusahaan (enterprise value) nilai pasar saham perusahaan ditambah obligasi, waran, dan atau surat berharga lainnya yang diterbitkan dalam rangka memobilisasi modal — dan kapital yang digunakan perusahaan (invested capital).

Hermawan Kartajaya, CEO Markplus & Co., menilai, pendekatan MVA lebih komprehensif karena mengukur perusahaan tersebut dicintai oleh stockholder-nya ataukah tidak. Dalam MVA, menurut Hermawan, value added perusahaan tidak semata-mata bersumber dari kepiawaian manajemen dalam mengelola kapitalnya, tetapi juga dari aktivitas perusahaan lainnya, seperti aksi korporat (akuisisi, merger, investasi baru, dan sebagainya), ekuitas merek dari produk-produk yang dihasilkan perusahaan tersebut, citra dan reputasi perusahaan, bahkan aktivitas yang sifatnya sosial atau corporate social responsibility (CSR), bisa menaikkan nilai perusahaan. Selain itu, MVA dapat juga dipengaruhi faktor-faktor di luar kontrol perusahaan. Perusahaan minyak, misalnya, nilai perusahaan tiba-tiba bisa naik atau turun — tanpa bisa berbuat apa-apa, misalnya pengaruh kenaikan atau penurunan harga minyak di pasar internasional.

Hermawan menambahkan, MVA adalah jumlah agregat EVA sekarang sampai tahun tak terhingga. Bila EVA negatif, tetapi MVA positif, itu menunjukkan bahwa pemegang saham atau investor punya harapan besar terhadap masa depan perusahaan. MVA itu kan menunjukkan persepsi pasar saham atas perusahaan, pakar pemasaran ini menegaskan. Artinya, ketika perusahaan aktif melakukan investasi baru, yang membuat EVA-nya negatif, atau bahkan merugi, investor tidak melihat bahwa perusahaan itu jelek. Yang terpenting, apakah ke depan perusahaan terus-menerus tumbuh atau tidak. Herwawan mencontohkan Youtube, yang dibeli dengan harga tinggi oleh investor ketika perusahaan ini masih merugi.

Bagaimana hasil pemeringkatan SWA100 2007? Sebagaimana terlihat dalam Tabel, Telkom berada di posisi teratas dengan mencetak MVA senilai Rp 171 triliun. MVA yang dicapai perusahaan pelat merah ini memang fantastis. Betul, untuk perusahaan nonbank, Telkom adalah perusahaan dengan aset terbesar di Bursa Efek Jakarta, yakni sebesar Rp 75,13 triliun, sehingga peluang menciptakan MVA absolut juga lebih besar. Akan tetapi, jika kita bandingkan dengan PT Indosat, misalnya, dengan aset Rp 34,23 triliun (45,3% dari Telkom), MVA-nya hanya Rp 20,12 triliun (14,6% dari Telkom). Yang juga menarik, Telkom juga mampu mencetak nilai tambah ekonomis atau EVA yang cukup tingi pula: Rp 8,05 trilun, sedangkan Indosat justru masih minus Rp 1,35 triliun. Jika merunut indikator kinerja lebih jauh, yakni return on capital (ROC), Telkom juga masih di atas Indosat, yakni 32% berbanding 9%, kendati biaya modalnya atau cost of capital (COC) sama-sama 15%. Penyebabnya bisa dua kemungkinan: operasional Telkom memang lebih efisien atau perusahaan ini bisa menjual produk/jasa dengan harga yang lebih tinggi.

Di urutan kedua adalah PT Unilever Indonesia. Perusahaan ini memang benar-benar yahud. Dengan aset Rp 4,6 trililun, MVA-nya mencapai Rp 47,97 triliun atau 10 kali lipat lebih. Kita bandingkan dengan perusahaan consumer goods lainnya, seperti PT Indofood Sukses Makmur yang beraset Rp 16,11 triliun, MVA-nya hanya Rp 4,9 triliun (30% dari nillai asetnya). Sesungguhnya, tak mengejutkan bila investor atau pemegang saham Unilever memberikan apresiasi tinggi terhadap Unilever. Merek-merek produk yang dihasilkan perusahaan ini sangat kuat, sebut saja Lux (sabun), Sunsilk (sampo), Lifebuoy (sabun), Rinso (sabun detergen) atau Bango (kecap). Dan, selama ini Unilever pun termasuk perusahaan yang konsisten menampilkan kinerja bagus. Yang mengesankan, pencapaian ROC-nya pada 2006 sebesar 110%, sementara Indofood hanya 12%.

Di kelompok perbankan, Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang berada di peringkat 3 SWA100 2007 mampu mengungguli bank besar lainnya, seperti Bank Central Asia (BCA) dan Bank Mandiri. MVA BRI tercatat Rp 46,85 triliun, sedangkan BCA Rp 46,227 triliun dan Mandiri Rp 18,131 triliun. Bila melihat 10 peringkat teratas SWA100 tahun ini, industri perbankan menyumbang tiga perusahaan: BRI, BCA dan Danamon (di urutan 8).

Sidharta Utama, Guru Besar Universitas Indonesia, menilai, perusahaan yang masuk dalam peringkat atas SWA100 adalah raja di industrinya, seperti Unilever di industri toiletries, Telkom di telekomunikasi, dan Astra International di otomotif. Di samping itu, ia menambahkan, perusahaan yang masuk peringkat atas memang punya keunggulan kompetitif. Sebagai contoh, BRI kuat di kredit usaha kecil dan menengah serta kredit mikro, BCA unggul dalam penghimpunan dana pihak ketiga, PT Perusahaan Gas Negara masih menguasai distribusi gas di Tanah Air.

Di mata Norico Gaman, Head Departemen Riset PT BNI Securites, perusahaan yang masuk dalam 10 teratas SWA100 memang masuk akal. Secara fundamental, mereka adalah perusahaan yang solid, seperti Astra, Unilever dan Telkom. Juga, PGN, yang masih memonopoli pendistribusian gas di Indonesia. ”Saya yakin, PGN akan terus tumbuh,” ujarnya tandas. Pasalnya, harga energi terus meningkat, dan orang akan terus mencari energi alternatif, dan yang termurah adalah gas.

Untuk Telkom dan Unilever, Norico menegaskan, masuk ke peringkat atas tidaklah mengherankan. Keduanya perusahaan yang sudah mapan (established) dan telah lama berada di pasar. Mereka sudah mengalami masa maturity (matang). Hanya saja, Norico menuturkan, belum menjadi hal yang mutlak bahwa ke depan perusahaan tersebut akan bagus. Ia melihat, justru ada perusahaan yang berada di peringkat bawah tapi punya potensi bagus untuk tumbuh di masa mendatang, yakni perusahaan berbasis perkebunan dan sumber daya alam. Salah satunya, Medco Energy International yang di peringkat SWA100 2007 berada di urutan 64. Di mata Norico, kendati baru didirikan pada 1980-an, perusahaan ini berhasil dengan program diversifikasinya dengan masuk ke tenaga listrik, memproduksi gas methanol, dan sebagainya.

Tak semua perusahaan yang masuk dalam SWA100 2007 mencatat MVA positif. Dari 100 perusahaan, 9 di antaranya MVA-nya minus, antara lain Matahari Putra Prima, Bakrieland Development, Duta Pertiwi Tbk. dan PT Tjwi Kimia. Kemungkinan penyebabnya, perusahaan melakukan banyak investasi yang membutuhkan modal besar, tapi belum bisa menciptakan pendapatan dari investasinya tersebut. Perusahaan properti, misalnya, banyak berinvestasi di pembelian tanah dan pembangunan gedung, tetapi belum dilihat oleh investor bahwa investasi tersebut akan membuat mereka bakal tumbuh lebih baik di masa mendatang. Akibatnya, investor belum mengapresiasi investasi mereka. Kemungkinan lain, perusahaan tersebut memang memiliki reputasi dan kinerja yang buruk, sehingga investor tidak punya kepercayaan lagi untuk membeli sahamnya.

Sementara itu, dilihat dari pencapaian EVA, kondisinya makin memprihatinkan, Dari 100 perusahaan, yang EVA-nya positif hanya 25%. Menurut Erik, dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6%, seharusnya perusahaan bisa membukukan EVA positif. Jika perusahaan masih membukukan EVA minus, ada kemungkinan perusahaan tersebut dikelola dengan kurang baik (poorly managed). ”Saya tidak dapat membayangkan, perusahaan di Indonesia dikelola dengan kurang baik,” katanya. Pasalnya, EVA negatif menunjukkan bahwa perusahaan tidak dapat mendapatkan uang karena COC lebih tinggi daripada return yang dihasilkan.

”Jika saya investor asing, bagaimana saya mau berinvestasi di perusahaan yang EVA-nya negatif. Sebab, perusahaan tersebut tidak bekerja cukup baik untuk mencetak return,” Erik mengungkapkan. ”Saya menjadi investor yang bodoh jika membeli saham di perusahaan yang tidak mampu menghasilkan return,” katanya tegas.

Khusus EVA perusahaan dalam SWA100 2007, Melani punya catatan bahwa pengukuran dilakukan secara generik. Artinya, semua perusahaan diperlakukan sama dengan melakukan penyesuaian yang diperlukan. Kalau mau lebih akurat, harus melihat perusahaan tersebut lebih dalam. ”Jadi, angka EVA ini hanya sebagai indikasi awal untuk checking, terutama dari segi modal yang ditanamkan untuk menjalankan bisnis,” ia menerangkan.

Toh, banyak perusahaan yang EVA-nya tahun 2006 masih negatif ternyata tetap diapresiasi pemegang saham. Sebut saja, PT Astra International, Bank Mandiri dan Indosat. Pasar berharap, perusahaan tersebut akan membukukan EVA positif. ”Sudah seharusnya perusahaan memenuhi harapan investornya dengan membukukan EVA positif,” ujar Erik. Jika mereka mampu mengubah EVA perusahaan dari negatif ke positif, ia yakin, nilai perusahaan di pasar modal dapat lebih tinggi.

Sebuah pemeringkatan, apa pun pendekatan yang dilakukan, kerap memunculkan catatan kritis. Sebagaimana disinggung di atas, peringkat SWA100 2007 ini didasarkan pada angka MVA absolut perusahaan. Menurut Sidharta, cara pemeringkatan seperti ini menimbulkan bias karena hanya perusahaan berkapitalisasi pasar besar yang berada di peringkat atas. Padahal, menurut Sidharta, belum tentu perusahaan besar mampu menciptakan value added tinggi. Sebagai contoh, ia menerangkan, Adira Finance, ROC-nya mencapai 57%, COC-nya hanya 17% dan MVA maupun EVA-nya positif, masuk di peringkat bawah (56) karena ukuran perusahaannya lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan yang berada di peringkat atas. ”Padahal, perusahaan ini jelas-jelas bagus karena mampu menciptakan spread antara COC dan ROC sebesar 40%,” ujar Sidharta.
Namun, Melani punya alasan untuk tidak mengelompokkan berdasarkan ukuran besarnya perusahaan. Menurutnya, MVA merupakan akumulasi bertahun-tahun. ”Kami tidak bisa melihat setahun saja. Kami ingin berlaku adil terhadap perusahaan yang sudah bisa tumbuh hingga sebesar sekarang dan diapresiasi pasar. Ini harus kita akui juga,” katanya. Jadi, ukuran perusahaan sekaligus menunjukkan bahwa perusahaan mampu survive dan tumbuh sedemikian besarnya. Ia menambahkan, pasar tidak mungkin akan memberi kesempatan kepada perusahaan untuk tumbuh sedemikian besar kalau mereka tidak punya kemampuan. ”Tidak mungkin perusahaan diberi modal sedemikian besar oleh pasar jika pasar tidak percaya terhadap manajemen di dalamnya,” katanya menegaskan.

Lagi pula, dikatakan Erik, ukuran perusahaan seharusnya tak menjadi masalah untuk menciptakan nilai pasar yang tinggi. Ia memberi contoh, MVA Pepsi Cola pernah mengungguli General Electric yang asetnya jauh lebih besar. Untuk kasus di Indonesia, kita bisa melihat Unilever, yang meskipun asetnya hanya Rp 4,6 triliun, MVA-nya mampu mengungguli perusahaan lain di sektor consumer goods yang asetnya mencapai belasan triliun. Di sektor perbankan misalnya, MVA Mandiri sebagai bank terbesar di Indonesia juga lebih rendah daripada BRI dan BCA.

Catatan kritis lain datang dari Norico. Ia menyarankan, dalam menghitung MVA seharusnya dana perusahaan yang ada dalam kas (kas dan bank) dikeluarkan (dikurangi) karena dana tersebut belum digunakan untuk investasi yang produktif alias masih idle. ”Bagaimana kita bisa menilai perusahan bakal menciptakan nilai tambah atau tidak, sementara dana belum digunakan ke arah itu,” ungkap Norico.

Pemeringkatan ini mungkin belum bisa memuaskan semua pihak, khususnya para pelaku di industri pasar modal. Namun, sebagaimana ditekankan Erik, yang penting adalah menjadi cermin bagi para pengelola perusahaan sejauh mana kemampuan mereka dalam menciptakan value. Juga, sebagai dorongan untuk menyusun strategi bisnis agar bisa memenuhi harapan investor. Sementara di sisi lain, investor pun bisa melihat, apakah EVA (positif) yang mereka harapkan sebagaimana tecermin pada angka future growth value (FGV) bakal bisa terpenuhi atau tidak oleh perusahaan. Dalam kaitannya dengan FGV ini, investor ataupun pengelola perusahaan harus hati-hati menerjemahkannya. Makin tinggi FGV bukan berarti merupakan indikasi bahwa perusahaan yang bersangkutan prospeknya makin bagus. Bisa saja ini diakibatkan modal perusahaan tergerus karena terjadi value destroying. Jadi, angka FGV merupakan indikasi yang bisa dijadikan oleh investor dan manajemen perusahaan untuk mengukur bisakah perusahaan yang bersangkutan memenuhi harapan investor dalam mencipkan value di masa mendatang.

Reportase: Eddy Dwinanto Iskandar, Herning Banirestu dan Tutut Handayani/Riset: Asep Rohimat

No Responses to “Para Pencetak Kekayaan di Pasar Modal”

  1. zarkasyi Says:

    Saya tertarik dengan konsep EVA dan MVA dalam kacamata investor, bisakah sy diberikan judul2 literatur yang berkaitan dengan hal ini, terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: